Garut, 05 Februari 2026 – MIS Ar-Raudhotun Nur kembali menghadirkan pembelajaran bermakna dengan melibatkan benda-benda yang ada di sekitar siswa. Kali ini, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd., guru MIS Ar-Raudhotun Nur, memanfaatkan sapu lidi sebagai media pembelajaran untuk menanamkan nilai kerja sama dan menjaga kerukunan antar sesama.
Pembelajaran tersebut dilaksanakan secara kontekstual dengan mengajak siswa belajar melalui pengalaman nyata. Insan tidak hanya menjelaskan materi di dalam kelas, tetapi juga mengajak siswa melakukan praktik langsung di halaman madrasah. Menurutnya, pembelajaran akan lebih membekas ketika siswa mengalami dan merasakan sendiri proses belajar. “ Pembelajaran tidak harus selalu menggunakan alat yang mahal. Benda sederhana di sekitar kita justru bisa menjadi media yang sangat bermakna jika digunakan dengan tepat,” ujar Insan saat ditemui di sela kegiatan.
Dalam proses pembelajaran, Insan terlebih dahulu menampilkan sebatang lidi kepada siswa. Insan kemudian meminta beberapa siswa mencoba menyapu halaman hanya dengan satu batang lidi. Hasilnya, halaman sulit dibersihkan dan pekerjaan terasa berat. Setelah itu, siswa diminta menggunakan sapu lidi yang terdiri dari banyak batang lidi yang diikat menjadi satu. Perbedaan hasil pun langsung terlihat. “ Nah, anak-anak bisa merasakan sendiri, satu lidi itu lemah, tapi ketika disatukan menjadi sapu lidi, pekerjaan jadi lebih mudah. Begitu juga dengan kita sebagai manusia, kalau bekerja sendiri akan terasa berat, tetapi jika bersama-sama, semuanya akan terasa ringan,” jelasnya kepada siswa.

Insan menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar praktik kebersihan, melainkan sarana untuk menanamkan nilai karakter. “Saya ingin anak-anak memahami makna kerja sama bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari pengalaman yang mereka lakukan sendiri,” ungkapnya.
Insan juga menambahkan bahwa nilai kerukunan perlu ditanamkan sejak dini. “ Di sekolah, anak-anak belajar hidup bersama. Jika sejak kecil sudah dibiasakan bekerja sama dan rukun, insyaallah sikap itu akan terbawa hingga mereka dewasa,” katanya.
Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Salah satu siswa mengaku senang mengikuti pembelajaran tersebut karena terasa berbeda dari biasanya. “ Kalau belajar sambil praktik seperti ini jadi lebih seru dan mudah Dipahami ,” ujar seorang siswa dengan penuh semangat. Kepala MIS Ar-Raudhotun Nur memberikan apresiasi terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh Insan Faisal Ibrahim. Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan visi madrasah dalam menanamkan pendidikan karakter kepada siswa. “Pembelajaran seperti ini sangat baik karena tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan karakter siswa,” tuturnya.

Insan juga berharap pembelajaran kontekstual terus dikembangkan oleh para guru. “ Kami mendorong guru untuk kreatif memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, agar siswa mendapatkan pengalaman belajar yang nyata dan bermakna,” tambahnya.
Melalui pembelajaran sederhana dengan memanfaatkan sapu lidi, MIS Ar-Raudhotun Nur menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat ditanamkan melalui cara-cara yang dekat dengan kehidupan siswa. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kreativitas guru mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya dipahami, tetapi juga dirasakan dan diingat oleh siswa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































