Alkisah, ada seekor burung yang membangun sarang di loteng sebuah rumah tua di lingkungan yang padat penduduk. Setiap hari ia bernyanyi dengan penuh percaya diri. Ia merasa suaranya indah dan pantas didengar oleh siapa pun. Baginya, bernyanyi adalah kebanggaan dan cara menunjukkan keberadaannya.
Namun kenyataan tidak selalu seindah perasaannya. Setiap kali burung itu bernyanyi, orang-orang di sekitar rumah menutup telinga. Mereka merasa terganggu oleh suaranya yang melengking dan memekakkan telinga. Tak jarang terdengar keluhan dan permintaan agar ia berhenti. Burung itu pun mulai merasa tidak dihargai dan tidak diterima.
Hari demi hari ia memendam kecewa. Hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk pergi. Dengan hati sedih dan mata yang basah, ia mengemasi sarangnya. “Aku akan mencari tempat yang mau menerimaku apa adanya,” gumamnya.
Tepat sebelum ia benar-benar pergi, lewatlah seorang bijak yang memperhatikan perubahan itu. “Mengapa kau tidak lagi bernyanyi? Mengapa tampak gelisah?” tanyanya lembut.
Burung itu menjawab, “Aku merasa tidak diterima. Mereka tidak menyukaiku dan merasa terganggu oleh kehadiranku. Lebih baik aku pergi.”
Orang bijak itu tersenyum dan berkata, “Bukan kami tidak menerima kehadiranmu. Kami hanya tidak sanggup mendengar suaramu yang terlalu keras. Engkau pendatang di sini. Seharusnya engkau belajar menyesuaikan diri. Cobalah belajar kepada yang lebih ahli agar suaramu menjadi lebih indah. Jika suaramu merdu, kami pasti menantikannya.”
Burung itu terdiam. Ia mulai menyadari bahwa mungkin yang perlu berubah bukan tempatnya, melainkan dirinya. Ia pun membatalkan niatnya pergi dan memilih belajar memperbaiki suaranya. Waktu berlalu, dan benar saja, suaranya menjadi lebih merdu. Orang-orang yang dulu merasa terganggu kini justru merasa kehilangan jika tak mendengar nyanyiannya.
Kisah sederhana ini adalah cermin bagi kita semua. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita merasa tidak dihargai, tidak dipahami, atau bahkan ditolak. Kita mudah menyimpulkan bahwa orang lainlah yang salah. Padahal, boleh jadi ada sikap, ucapan, atau perilaku kita yang tanpa sadar melukai atau mengganggu orang lain. Allah SWT meningatkan kita dalam QS. Al-Hasyr: 18, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah, yaitu mengevaluasi diri sebelum menilai orang lain. Kesadaran diri adalah tanda kedewasaan iman. Muhasabah membuat kita berani mengakui kekurangan dan berlapang dada menerima nasihat. Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
Dalam kehidupan bermasyarakat, menyesuaikan diri adalah bagian dari akhlak mulia. Islam mengajarkan kita untuk menjaga lisan, bersikap lembut, dan menghormati orang lain. Cara berbicara yang santun, sikap yang rendah hati, dan kesediaan untuk belajar sering kali lebih bermakna daripada sekadar merasa benar. Kecerdasan sejati bukan hanya soal pengetahuan, tetapi kemampuan mengendalikan ego dan memperbaiki diri. Orang yang sadar diri tidak mudah tersinggung ketika dikritik. Ia justru menjadikan kritik sebagai bahan perbaikan.
Ada baiknya, setiap ada kesempatan, kita perlu mempertanyakan pada diri sendiri, sudahkah kita memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki? Jangan sampai kita sibuk mencari tempat yang “menerima kita” dan berprasangka buruk pada orang lain, padahal yang dibutuhkan adalah memperindah sikap dan akhlak kita.
Kesadaran diri juga mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan saat emosi menguasai hati. Banyak konflik, perpecahan, bahkan putusnya silaturahmi terjadi bukan karena perbedaan yang besar, melainkan karena kurangnya kemauan untuk saling memahami. Ketika kita mau bercermin dan mengakui kekurangan, pintu dialog akan terbuka dan suasana menjadi lebih sejuk. Inilah akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW, beliau tidak hanya menyampaikan kebenaran, tetapi juga menghadirkannya dengan cara yang menenangkan.
Perlu diniatkan yang kuat dalam hati untuk selalu hadir sebagai pribadi yang membawa manfaat, bukan beban. Jika keberadaan diri menjadi sesuatu yang dirindukan, itu bukan karena suara kita paling keras, atau penampilan kita yang paling bagus, melainkan karena sikap kita paling menenangkan. Kesadaran diri akan menuntun kita untuk terus belajar, memperbaiki niat, dan menata akhlak, sehingga kehadiran kita menjadi rahmat bagi sekitar, sebagaimana Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Ditulis oleh:
(Lilis Ummi F. Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































