Rabies masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit yang ditularkan melalui gigitan hewan ini memiliki tingkat kematian sangat tinggi apabila tidak ditangani sebelum gejala klinis muncul.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, rabies merupakan penyakit menular akut yang menyerang sistem saraf pusat dan ditularkan melalui gigitan atau air liur hewan penular rabies, terutama anjing. Data laporan zoonosis tahun 2024 mencatat 185.359 kasus gigitan hewan penular rabies dengan 122 kematian pada manusia di Indonesia.
Secara global, World Health Organization (WHO) menyebut rabies sebagai penyakit zoonosis yang dapat dicegah dengan vaksin, tetapi tetap menyebabkan lebih dari 55.000 kematian setiap tahun di dunia. Setelah gejala klinis muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal.
Virus Menyerang Sistem Saraf
Secara medis, virus rabies menyebar melalui saraf menuju otak setelah masuk melalui luka gigitan dan menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis. Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, dan kesemutan pada area luka, yang kemudian dapat berkembang menjadi gangguan saraf berat seperti hidrofobia, kejang, dan kelumpuhan.
“Ketika pasien sudah mengalami gejala neurologis berat seperti hidrofobia, peluang keselamatan sangat kecil. Karena itu penanganan harus dilakukan sebelum gejala muncul,” ujar seorang dokter layanan primer.
WHO melaporkan bahwa hingga 99 persen kasus rabies pada manusia ditularkan melalui gigitan anjing.
Penanganan Cepat Dapat Mencegah Kematian
Tenaga kesehatan menegaskan bahwa rabies dapat dicegah melalui penanganan segera setelah pajanan. Masyarakat dianjurkan mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit sebelum mencari pertolongan medis.
Pejabat kesehatan dari Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya langkah awal tersebut. “Kami mengimbau masyarakat untuk segera mencuci luka gigitan dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, lalu datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin anti-rabies,” ujar perwakilan Kementerian Kesehatan.
Pada kasus dengan risiko tinggi, tenaga medis juga dapat memberikan rabies immunoglobulin untuk mencegah infeksi berkembang.
Kesadaran Masyarakat Masih Jadi Tantangan
Organisasi kesehatan dunia menilai banyak kematian akibat rabies terjadi karena masyarakat tidak mencari pertolongan medis setelah digigit hewan. Edukasi, vaksinasi hewan peliharaan, dan penanganan cepat setelah gigitan menjadi langkah utama pencegahan penyakit ini.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gigitan hewan sekecil apa pun dan segera mendapatkan penanganan medis guna mencegah risiko infeksi yang fatal.
Sumber
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia — Data kewaspadaan rabies Indonesia 2024–2025
2. World Health Organization — Rabies global report dan World Rabies Day release
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































