Pernah nggak sih kamu debat sama orang di WhatsApp grup, tapi ujung-ujungnya malah jadi salah paham dan ribut? Atau kamu lihat seseorang share berita yang ternyata hoaks, tapi disebar karena “katanya bener”?
Yup, inilah contoh nyata pentingnya logika dan etika dalam komunikasi. Dua hal ini kadang kita anggap sepele, padahal bisa jadi penentu hubungan antarindividu — bahkan bisa berdampak luas ke masyarakat.
Apa Itu Logika, dan Kenapa Penting?
Logika itu kemampuan kita untuk berpikir secara lurus, runut, dan masuk akal. Dalam komunikasi, logika bantu kita menyampaikan dan memahami informasi dengan benar.
Contoh simpelnya gini: “Barangku pernah hilang pas kirim via ekspedisi X, berarti semua ekspedisi nggak bisa dipercaya.”
Ini namanya generalisasi, salah satu bentuk logika yang sesat. Hanya karena pengalaman pribadi, bukan berarti semuanya buruk.
Dengan logika yang sehat, kita bisa hindari kesimpulan yang salah. Kita jadi lebih tenang menanggapi informasi dan nggak mudah ikut arus.
Lalu, Apa Peran Etika?
Etika adalah kompas moral kita saat bicara atau menyampaikan sesuatu. Etika mengajarkan:
- Jangan asal ngomong.
- Pikirkan perasaan orang lain.
- Hargai perbedaan.
Dan yang paling penting, tanggung jawab atas ucapan sendiri.
Etika ini penting banget di era digital. Karena tanpa tatap muka, kata-kata bisa disalahartikan dan jadi sumber konflik.
Bayangin kamu bercanda di chat, tapi lawan bicaramu baca dengan nada serius. Bisa-bisa malah dianggap nyindir atau nyakitin.
Kalau logika itu otak, maka etika adalah hati. Keduanya harus jalan bareng biar komunikasi kamu:
- Efektif dan nyambung,
- Nggak menyakiti orang lain,
- Dan bisa menyelesaikan masalah, bukan nambah drama.
—
Contoh di Dunia Nyata:
1. Media Sosial:
Sebelum share berita, logikanya dicek dulu: ini bener nggak? Etikanya: kalau belum jelas, mending jangan disebar.
2. Diskusi Politik:
Pakai logika buat analisa program, bukan ikut fanatik buta. Pakai etika untuk tetap sopan walau beda pandangan.
3. Debat di Kampus atau Kantor:
Logika buat nyusun argumen. Etika supaya tetap fokus pada ide, bukan menyerang pribadi.
—
Komunikasi yang baik bukan cuma soal bisa ngomong atau punya banyak kata-kata keren. Tapi juga soal bagaimana kamu menyampaikan sesuatu dengan masuk akal dan tetap menghargai orang lain.
Yuk, biasakan pakai logika dan etika di setiap percakapan kita — baik di dunia nyata maupun dunia maya. Karena komunikasi bukan soal siapa yang paling keras suaranya, tapi siapa yang paling bisa dipahami dan menghargai.
REFERENSI
Effendy. Onong Uchjana. (2003). Ilmu. Teori dan Filsafat Komunikasi.
Bandung: Citra Aditya Bakti.
Mufid, Muhamad. 2015. Etika Dan Filsafat Komunikasi. Jakarta: Prenadamedia Group
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































