RUMPIN, KABUPATEN BOGOR – Di sebuah sudut Kampung Parigi yang teduh, Kecamatan Rumpin, aroma khas serbuk gergaji basah dan miselium jamur yang tumbuh telah lama menjadi denyut nadi ekonomi bagi sekelompok kecil masyarakat. Namun, selama bertahun-tahun, denyut itu seringkali melemah, terancam oleh teriknya musim kemarau atau serangan jamur liar di kala hujan. Kini, sebuah transformasi senyap tengah berlangsung. Suara notifikasi pesanan dari aplikasi lokapasar (marketplace) perlahan menggantikan suara keluh kesah akibat gagal panen.
Ini adalah kisah kelompok tani jamur tiram yang dipelopori oleh Nurhasan, sebuah unit usaha mikro yang berhasil melakukan lompatan kuantum dari metode tradisional yang rapuh ke model agribisnis modern yang tangguh. Lompatan ini bukanlah keajaiban, melainkan hasil dari sebuah intervensi strategis yang mengawinkan inovasi teknologi di hulu dengan literasi digital di hilir, sebuah program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dalam ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang digagas oleh tim dosen Universitas Budi Luhur dan didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2025.
Akar Masalah: Lingkaran Setan Keterbatasan Produksi
Sebelum program ini menyentuh mereka, operasional usaha yang menjadi tumpuan bagi 10 tenaga kerja lokal ini terjebak dalam siklus inefisiensi. Dua masalah fundamental menjadi belenggu yang menghambat pertumbuhan mereka.
Pertama, pertaruhan melawan cuaca. Proses penyiraman kumbung (rumah jamur) yang sepenuhnya manual adalah pekerjaan yang melelahkan dan tidak presisi. Saat musim panas ekstrem melanda, para pekerja harus bolak-balik menyiram, namun seringkali media tanam (baglog) tetap mengering dan membunuh miselium. Sebaliknya, saat musim hujan, kelembapan berlebih yang tak terkontrol menjadi surga bagi bakteri dan jamur liar, merusak ribuan baglog dan menurunkan kualitas panen secara drastis. “Setiap pagi kami datang dengan rasa cemas, tidak tahu apakah hari ini jamur akan tumbuh subur atau justru membusuk,” kenang Nurhasan.
Kedua, sumbatan di jantung produksi. Proses pembuatan baglog, yang merupakan media tanam krusial, adalah pekerjaan padat karya yang luar biasa memakan waktu. Tim yang ada mendedikasikan sekitar 85% dari total jam kerja mereka hanya untuk mencampur serbuk gergaji, bekatul, dan kapur, lalu memadatkannya secara manual ke dalam plastik. Dengan metode ini, kapasitas maksimal mereka hanya mencapai 2.000 baglog per minggu, dengan tingkat kegagalan panen yang menyakitkan, yakni hingga 40%, akibat kepadatan media yang tidak konsisten.
Titik Balik: Intervensi Teknologi Tepat Guna
Melihat permasalahan kompleks ini, tim PKM Universitas Budi Luhur yang diketuai oleh Iman Permana, M.Kom., bersama anggota tim Anwar Rifa’i, M.Pd., dan Said, M.M., tidak datang dengan solusi parsial. Mereka merancang sebuah intervensi komprehensif.
“Kami sadar, mustahil berbicara tentang pemasaran digital jika pasokan produknya saja tidak stabil dan berkualitas. Fondasi produksinya harus diperkuat terlebih dahulu,” jelas Iman Permana.
Solusi pertama adalah implementasi sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT). Kini, kumbung jamur dilengkapi serangkaian sensor yang secara real-time memonitor suhu dan kelembapan. Ketika kelembapan turun di bawah ambang batas ideal 60-80%, sistem secara otomatis mengaktifkan pompa dan nozel yang menyemprotkan kabut air halus, menciptakan iklim mikro yang sempurna bagi pertumbuhan jamur, layaknya embun pagi yang konsisten.
Solusi kedua adalah pengenalan mesin pembuat baglog semi-otomatis. Mesin ini mengambil alih tugas paling berat dan repetitif, yakni mencampur dan memadatkan media tanam dengan presisi yang terukur. Revolusi pun terjadi. Kapasitas produksi meroket hingga 700%, dari 2.000 menjadi lebih dari 14.000 baglog per minggu. Sumbatan produksi yang selama ini menghambat telah berhasil didobrak.
Dari Lumbung ke Layar Digital: Membuka Gerbang Pasar Nasional
Dengan produksi yang kini melimpah dan berkualitas, tantangan baru muncul: memastikan semua hasil panen terserap pasar. Inilah momen di mana program memasuki fase hilir. Pada 11 September 2025, sebuah lokakarya intensif digelar bukan di ruang seminar ber-AC, melainkan langsung di jantung aktivitas mereka, di sentra budidaya jamur milik Nurhasan.
Suasananya begitu unik. Tangan-tangan kasar yang terbiasa menggenggam cangkul dan mengaduk media tanam, kini lincah menyentuh layar gawai mereka. Dipandu oleh para dosen, mereka diajarkan langkah demi langkah untuk:
- Membangun Toko Digital: Membuat dan mengelola akun bisnis di Tokopedia dan Shopee, lengkap dengan cara menulis deskripsi produk yang menarik dan menentukan harga yang kompetitif.
- Menguasai Media Sosial: Mengubah akun Instagram dan Facebook menjadi etalase profesional, merancang rencana konten sederhana, dan berinteraksi dengan calon pelanggan.
- Visual yang Menggugah Selera: Mempraktikkan teknik fotografi produk hanya dengan kamera ponsel, mencari sudut dan pencahayaan terbaik untuk membuat jamur tiram mereka terlihat segar dan menggiurkan.
Said, M.M., yang ahli di bidang manajemen, memberikan perspektif bisnis yang lebih dalam. “Di dunia online, Anda tidak hanya menjual komoditas. Anda menjual kepercayaan dan cerita. Kami mendorong mereka untuk membangun merek ‘Jamur Rumpin’ yang identik dengan kualitas, kesegaran, dan kisah pemberdayaan petani lokal yang didukung teknologi,” terangnya.
Suara Petani: Harapan yang Kembali Tumbuh Subur
Dampak dari program ini terasa begitu nyata bagi Nurhasan dan timnya. Raut cemas di wajahnya kini berganti dengan binar optimisme.
“Dulu, pikiran kami sempit, hanya sebatas pasar kecamatan Rumpin. Melihat jamur yang sudah waktunya panen tapi permintaan sedang sepi itu rasanya sedih sekali, seperti melihat kerja keras terbuang sia-sia. Sekarang, wawasan kami terbuka 180 derajat. Dengan adanya toko online dan kemasan vakum baru yang diajarkan, kami jadi berani menerima pesanan dari Jakarta, Depok, bahkan luar pulau. Ini bukan hanya soal tambahan untung, tapi soal martabat dan masa depan usaha ini,” tutur Nurhasan dengan suara bergetar.
Sebagai hasil konkret, program ini telah melahirkan sebuah situs web penjualan resmi, akun-akun media sosial dan lokapasar yang aktif, serta prototipe kemasan modern yang mampu memperpanjang daya simpan jamur hingga 4 hari dalam pengiriman. Target ambisius untuk meningkatkan penjualan hingga 50% dalam setahun ke depan kini terasa sangat mungkin untuk dicapai.
Program PKM ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara dunia akademik dan masyarakat mampu menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Ini lebih dari sekadar serah terima alat; ini adalah transfer ilmu pengetahuan, penciptaan model usaha tani modern yang tangguh, dan pembukaan jalan bagi kemandirian ekonomi masyarakat di salah satu wilayah yang menjadi fokus pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bogor. Kisah dari Kampung Parigi ini adalah benih inspirasi, menunjukkan bahwa dengan sentuhan inovasi yang tepat, hasil bumi dari desa pun siap bersaing di panggung nasional.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































