Siapa yang tidak pernah melihat postingan MBTI di media sosial? Dari meme hingga analisis kepribadian, 16 tipe MBTI kini jadi bahasa gaul baru, terutama di kalangan Gen Z. Banyak orang mengenalkan diri dengan “Aku INFJ” atau “Aku ESTP” seakan label itu mampu merangkum seluruh identitas. Pertanyaannya, apakah MBTI benar-benar membantu sebagai alat self-discovery, atau justru menjebak kita dalam label baru?
MBTI sebagai Alat Mengenal Diri
Di sisi positif, MBTI bisa menjadi pintu awal untuk memahami diri sendiri. Dengan menjawab pertanyaan sederhana, seseorang dapat melihat kecenderungan dalam berpikir, berinteraksi, dan mengambil keputusan.
Bagi banyak orang, hasil MBTI terasa melegakan karena mampu memberi “kata” untuk menjelaskan karakter yang sulit diuraikan. Tak heran jika tes ini sering dijadikan sarana refleksi diri maupun diskusi ringan di kalangan teman.
Labelisasi yang Terlalu Sederhana
Namun, masalah muncul ketika MBTI dijadikan identitas mutlak. Banyak orang terjebak pada stereotip: introvert dianggap penyendiri, ekstrovert harus selalu ceria, atau tipe tertentu lebih “istimewa” dibanding yang lain.
Fenomena ini bisa mengurangi kompleksitas manusia menjadi sekadar 4 huruf. Padahal, kepribadian jauh lebih dinamis dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lingkungan hingga pengalaman hidup.
Budaya Populer dan Validasi Sosial
Kepopuleran MBTI di kalangan Gen Z tidak lepas dari budaya digital. Meme, konten TikTok, hingga dating apps menggunakan MBTI sebagai cara cepat untuk menciptakan koneksi. Label ini memberi rasa keterikatan sosial—si “ENFP” merasa nyambung dengan sesama, si “INTJ” bangga dengan stereotip pintar dan misterius.
Namun, ada risiko validasi berlebihan: orang merasa harus “sesuai” dengan hasil tesnya, alih-alih berkembang di luar label tersebut.
Kesimpulan
MBTI bisa menjadi alat refleksi diri yang menyenangkan, asalkan dipahami dengan bijak. Ia berguna sebagai gambaran awal, bukan identitas permanen.
Bagi Gen Z, fenomena MBTI menunjukkan kebutuhan akan bahasa baru untuk memahami diri dan menjalin koneksi. Tetapi pada akhirnya, kepribadian manusia tidak bisa sepenuhnya dikotakkan dalam 16 tipe. Identitas kita selalu lebih luas dari sekadar empat huruf.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: its.ac.id
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































