Pernahkah kamu mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu saat sedang ujian atau bahkan sesaat sebelum ujian akan dimulai? Pikiranmu seketika kosong dan tidak dapat mengingat materi yang sudah kamu pelajari. Banyak orang mengalami hal ini saat mereka merasa panik. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada otakmu saat pikiranmu blank? Fenomena “blank saat ujian” ini sering dianggap sekadar panik atau kurang belajar. Padahal, dari perspektif psikologi dan neurosains, kondisi ini adalah bukti betapa rapuhnya proses kognitif manusia ketika bertemu tekanan psikologis. Melalui tinjauan biopsikologi, blank moment dapat dijelaskan sebagai hasil dari interaksi antara hormon stres, aktivitas struktur otak yang mengatur emosi dan memori, serta kapasitas kerja sistem kognitif yang terbatas. Pemahaman ilmiah mengenai fenomena ini penting agar pelajar tidak menyalahkan dirinya sendiri, melainkan mampu melihatnya sebagai respons adaptif otak terhadap tekanan yang intens (Widyaning, et al., 2017)
Dalam otak kita, terdapat banyak bagian penting yang saling berhubungan satu sama lain melalui saraf. Dalam proses belajar, bagian yang terlibat adalah HPA Axis (Hypothalamus-Pituitary-Adrenal) yaitu sebagai sistem stres utama dalam tubuh dan berfungsi untuk mengatur respons tubuh saat cemas atau tertekan, korteks prefrontal (berperan penting dalam kemampuan berpikir abstrak, perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian impuls), hipokampus (sebagai pembentukan dan penyatuan ingatan), dan amigdala (berperan dalam mengenali dan merespons emosi). Dalam kerjanya, hormon kortisol juga memiliki peran penting. Hormon ini merupakan hormon stres yang muncul saat tubuh menghadapi kecemasan atau tekanan (Wartani, et al., 2023)
Selain faktor biologis, tekanan psikologis juga berperan besar dalam memicu blank saat ujian. Ujian sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap harga diri, masa depan, atau penerimaan sosial, sehingga tingkat tekanannya sangat subjektif serta dipengaruhi perfeksionisme, pengalaman gagal, tuntutan orang tua, atau rendahnya percaya diri. Karena itu, blank bukan sekadar reaksi biologis, tetapi hasil interaksi antara emosi, persepsi ancaman, dan respons stres otak, dan inilah yang membuat setiap orang mengalami blank dengan intensitas berbeda.
Dalam situasi yang penuh tekanan, tubuh mengaktifkan stress response system melalui HPA Axis. Hipotalamus mendeteksi sinyal ancaman dan melepaskan CRH (Corticotropin-Releasing Hormone). CRH memberi instruksi kepada kelenjar pituitari untuk mengeluarkan ACTH (Adrenocorticotropic Hormone). ACTH merangsang kelenjar adrenal untuk menghasilkan hormon stres utama, yaitu kortisol (Yuliadi, 2021).
Kortisol normalnya berfungsi untuk meningkatkan fokus dan kewaspadaan. Namun apabila kadarnya terlalu tinggi, hormon ini mengganggu kerja korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas perhatian, pengambilan keputusan, dan memori kerja. Apabila fungsi korteks prefrontal menurun, dapat menyebabkan beberapa efek khas yang muncul saat blank, seperti sulit memahami soal, tidak mampu menyusun jawaban, hilangnya kemampuan berpikir logis, dan perasaan seolah-olah pikiran berhenti.
Saat korteks prefrontal mengalami penurunan aktivitas, bagian lain dari otak justru menjadi lebih dominan, yaitu amigdala. Ketika ujian dipersepsikan sebagai situasi yang berisiko, amigdala mengaktifkan respons fight or flight yang biasanya muncul ketika manusia menghadapi bahaya fisik. Dalam kondisi terancam, amigdala menjadi sangat aktif. Ketika amigdala mendeteksi ancaman (misalnya takut nilai jelek, takut mengecewakan orang tua, atau takut remedial), ia mengirim sinyal “bahaya” ke seluruh sistem saraf. Ketika amigdala dominan, ia mengambil alih korteks prefrontal, sehingga akses menuju memori menjadi terbatas. Fenomena ini dikenal sebagai amygdala hijacking.
Struktur penting lain yang terdampak adalah hipokampus, pusat pembentukan dan pengambilan memori jangka panjang. Stres berlebihan dan tingginya kadar kortisol menghambat aktivitas hipokampus, sehingga proses retrieval (mengambil informasi yang sudah dipelajari) menjadi sulit. Inilah mengapa seorang pelajar dapat merasa lupa saat ujian, tetapi tiba-tiba ingat kembali setelah keluar dari ruang ujian. Dalam kondisi stres yang lebih rendah, hipokampus kembali bekerja secara normal. Fenomena ini membuktikan bahwa memori sebenarnya tidak hilang, tetapi hanya aksesnya yang terganggu sementara.
Stres tidak hanya memengaruhi struktur otak, tetapi juga hubungan di antara struktur-struktur tersebut. Koneksi antara korteks prefrontal, amigdala, dan hipokampus menjadi kurang sinkron ketika seseorang sedang sangat tertekan. Akibatnya, informasi tidak dapat mengalir dengan baik di dalam otak. Hal ini dapat menyebabkan otak memproses informasi secara parsial, memori tidak dapat diakses secara menyeluruh, emosi mengganggu logika, dan kemampuan membuat keputusan menurun drastis.
Pemahaman mengenai mekanisme stres akademik dari perspektif neurosains memberikan dasar penting bagi strategi penanganan di lingkungan pendidikan. Pendidik perlu memahami bahwa stres bukan sekadar kurangnya motivasi, tetapi respons biologis nyata yang memengaruhi fungsi otak. Lingkungan belajar harus mendukung regulasi emosi, bukan hanya menuntut performa akademik. Intervensi seperti mindfulness, jeda belajar, dan manajemen waktu memiliki dasar ilmiah, karena dapat menurunkan aktivasi amigdala dan menormalkan kadar kortisol. Pelajar juga perlu diberikan pengetahuan mengenai cara kerja otak, sehingga mereka tidak menyalahkan diri sendiri ketika stres menghambat performa.
Fenomena “blank saat ujian” adalah hasil dari rangkaian proses biologis dan tekanan psikologis yang kompleks, bukan sekadar kurangnya belajar atau lemahnya kemampuan akademik. Aktivasi berlebihan HPA Axis, tingginya kadar kortisol, dominasi amigdala, dan terganggunya fungsi korteks prefrontal, serta hipokampus berkontribusi besar terhadap hilangnya kemampuan berpikir jernih. Melalui perspektif neurosains, kita dapat memahami bahwa blank moment adalah respons adaptif otak terhadap tekanan, bukan bukti bahwa seseorang tidak mampu.
DAFTAR PUSTAKA
Widyaning S.P., Risnawita R. S., & Handayani D. (2017). HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI UJIAN NASIONAL PADA SISWA. Jurnal Happiness, 1(2), 111-124. https://repository.iainkediri.ac.id/172/1/954-2750-1-PB.pdf
Wartani E., Jazriyah H., & Susanti D. (2023). Membangun Struktur Otak untuk Mendukung Perkembangan Emosi Anak Usia Dini. Jurnal Ilmu Pendidikan, 6(11), 8785-8793. https://jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/download/2642/2566/22092
Yuliadi I. (2021). HPA Aksis dan Gangguan Psikosomatik. Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa, 6(1), 1-22. https://candrajiwa.psikologi.fk.uns.ac.id/index.php/candrajiwa/article/download/141/pdf
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































