Rangkasbitung — Nama Ahmad Abidudin, atau akrab disapa Abid, kian dikenal di lingkungan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Bukan karena sensasi, melainkan konsistensi. Perjalanan organisasinya menunjukkan satu hal: kaderisasi yang tumbuh dari bawah, ditempa proses, dan matang oleh tanggung jawab.
Abid mengawali kiprahnya di PMII melalui Rayon Tarbiyah PMII Komisariat STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung. Di ruang kecil bernama rayon itulah karakter kepemimpinan Abid mulai terbentuk. Ia bukan tipe kader yang gemar tampil sendirian; sebaliknya, ia hadir sebagai penggerak—mengajak, merangkul, dan bekerja. Sejak awal, Abid dikenal memiliki kepekaan sosial tinggi, mudah berbaur, dan cepat membaca kebutuhan kawan-kawannya.
Proses itu mencapai fase penting ketika Abid dipercaya menjabat Ketua Rayon Tarbiyah masa khidmat 2023–2024. Pada periode ini, ia menata roda organisasi dengan pendekatan partisipatif. Agenda kaderisasi, diskusi keilmuan, hingga pengabdian sosial dijalankan dengan ritme yang rapi. Abid paham betul bahwa PMII bukan sekadar forum rapat—ia adalah ruang pembentukan watak dan keberpihakan. Maka, ia mendorong kadernya untuk berpikir kritis tanpa kehilangan adab, bergerak progresif tanpa meninggalkan tradisi.
Yang membuat Abid mudah diingat bukan hanya programnya, tetapi caranya memimpin. Di sela-sela kegiatan yang padat, ia kerap menyelipkan humor segar—lawakan ringan yang mencairkan suasana. Bagi Abid, tawa bukan distraksi; ia alat. Alat untuk menjaga semangat, merawat kebersamaan, dan mengingatkan bahwa perjuangan tidak harus selalu tegang. Singkatnya: serius, tapi tidak kaku.
Selepas masa khidmat di rayon, Abid tidak berhenti. Ia terus menguatkan jejaring, memperdalam kapasitas intelektual, dan memperluas kerja-kerja sosial. Rekam jejak itu akhirnya berbuah kepercayaan yang lebih besar. Pada masa khidmat 2025–2026, Abid resmi menjabat Ketua Komisariat PMII STAI Wasilatul Falah Rangkasbitung. Ini bukan loncatan instan, melainkan akumulasi proses panjang—dari belajar mendengar hingga berani mengambil keputusan.
Sebagai ketua komisariat, Abid membawa visi penguatan kaderisasi yang relevan dengan tantangan zaman. Ia menekankan pentingnya literasi, kepekaan sosial, dan konsistensi nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai fondasi gerak PMII. Bagi Abid, kader PMII harus hadir di tengah masyarakat: peka terhadap isu pendidikan, responsif pada problem sosial, dan tetap rendah hati dalam pengabdian.
Di level kepemimpinan ini, Abid juga mendorong budaya organisasi yang sehat. Transparansi, kolaborasi lintas rayon, serta penguatan kader perempuan menjadi perhatian serius. Ia percaya, organisasi yang besar bukan yang paling ramai jargon, tetapi yang paling rapi dalam kerja. Prinsipnya sederhana: program jalan, kader tumbuh, nilai terjaga.
Rekan-rekannya mengenal Abid sebagai sosok inklusif dan komunikatif. Ia mudah ditemui, cepat merespons, dan tidak alergi kritik. Humor tetap ada, namun keputusan tetap tegas. Kombinasi ini membuat kepemimpinannya diterima lintas generasi kader—yang senior merasa dihargai, yang junior merasa dilibatkan.
Di tengah dinamika mahasiswa dan tantangan organisasi kemahasiswaan hari ini, figur seperti Ahmad Abidudin menjadi contoh bahwa kepemimpinan lahir dari proses, bukan pencitraan. Dari Rayon Tarbiyah hingga Ketua Komisariat, Abid menunjukkan satu pelajaran penting: bergeraklah dengan hati, kelola dengan akal, dan rawat perjuangan dengan senyum. PMII butuh kader seperti ini—kerja nyata, bukan sekadar wacana.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































