Pernahkah kamu merasa terjebak dalam suatu hubungan yang tidak dapat disebut “pacar” tapi juga lebih dari sekadar “teman”? Kamu memiliki seseorang yang spesial, namun masih ada tembok pembatas yang rasanya sulit untuk diruntuhkan. Mengetahui bahwa orang tersebut yang akan menjadi “tempat berpulang” ketika kamu sedang merasa tidak baik-baik saja, meskipun kamu tidak tahu harus memanggilnya dengan sebutan apa karena ketiadaan label yang jelas dalam hubungan kalian. Hubungan semacam ini biasa disebut dengan sebutan situationship atau Hubungan Tanpa Status (HTS)
Apa itu Situationship atau HTS?
Tubbs (dalam Veronika N, 2022, sebagaimana dikutip dalam Ilyana & Al Hamidy, 2024) menyatakan bahwa HTS adalah hubungan yang dijalin tanpa adanya komitmen, namun melibatkan perasaan cinta. Pihak yang terlibat dalam hubungan ini akan berkomunikasi secara intens dan membangun keintiman di antara mereka. Keintiman yang dibangun bukan bertujuan untuk dilanjutkan menjadi komitmen, melainkan diam di tempat sebagai keintiman dan kedekatan semata.
Hubungan dengan tipe situationship seperti ini dapat terjadi karena pihak yang terlibat enggan untuk mengkategorikan dan memberikan label di dalam hubungannya. Dalam berjalannya hubungan abu-abu ini, keengganan membahas label hubungan dapat menggeser norma dalam berkencan dan memberi dampak berkelanjutan terhadap pihak yang terlibat. Dengan tidak adanya kejelasan dalam hubungan, pihak yang menginginkan komitmen akan sulit untuk percaya ketika ada orang lain yang menyatakan perasaan dan akan berpikir bahwa orang tersebut tidak menginginkan hubungan yang lebih dari sekadar hubungan kasual nantinya (George, 2024).
Pada awalnya, hubungan situationship ini mungkin berjalan baik, namun seiring berjalannya waktu akan ada kecenderungan rasa dirugikan pada pihak yang menginginkan komitmen dalam hubungannya. Sementara, pihak yang merasa nyaman dengan status situationship tersebut akan merasa terancam ketika pihak lainnya meminta kepastian dan komitmen dalam hubungan tersebut. Hal inilah yang kemudian memancing sikap mixed signals dari pihak yang terancam. Pada akhirnya, hubungan tersebut akan menjadi semakin ambigu dan hilang arah.
Kondisi hubungan seperti ini sebenarnya memiliki solusi ketika dibongkar menggunakan teori dalam Logika Penyelidikan Ilmiah (LPI). Terlebih lagi data atau sikap dari pihak yang memberikan mixed signals tidak konsisten dan menyebabkan “cacat logika”.
Logika Penyelidikan Ilmiah dalam HTS
Dalam ilmu pengetahuan, seorang peneliti bertugas mengumpulkan data, melakukan observasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang ada. Proses ini disebut sebagai penyelidikan ilmiah. Masalah utama dalam sebuah situationship adalah adanya “cacat logika”. Sejak awal, kedua belah pihak sepakat untuk bertindak seperti pasangan (Data A), namun sepakat untuk tidak berkomitmen (Data B). Perbedaan data yang ada ini tidak boleh terjadi secara logika, karena tidak sesuai dengan konsep non-kontradiksi.
Kamu tidak bisa secara logis menyebut seseorang sebagai “orang spesial” jika perilakunya terhadap komitmen tidak menunjukkan sikap yang selaras. Terlebih lagi jika pihak tersebut kerap memberikan mixed signals, seperti mendekat pada hari ini lalu menjauh di keesokan hari. Dalam sains, data atau sikap yang tidak konsisten tersebut tidak diizinkan untuk berlanjut.
Menguji Sikap dengan Teori Kebenaran Koherensi
Salah satu materi fundamental dalam LPI adalah teori kebenaran koherensi. Teori ini dapat menyatakan suatu pernyataan adalah benar ketika pernyataan tersebut konsisten dan berhubungan dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya. Kebenaran harus membentuk satu sistem yang harmonis dan tidak saling menjatuhkan.
Ketika dikaitkan dengan kasus mixed signals pada hubungan situationship, harus terjadi koherensi antara ucapan dengan sikap yang diberikan. Jika pasangan mengucapkan kata-kata romantis dan menyenangkan, maka harus didukung dengan sikap dan tindakan yang selaras. Namun, jika dalam praktiknya ia mendadak menghilang saat kamu butuh dukungan atau enggan mempublikasikan hubungan karena alasan “ingin mengalir saja”, maka terjadi diskoneksi logika karena tidak adanya koherensi.
Dalam penyelidikan ilmiah, jika sebuah teori tidak didukung oleh data yang koheren, maka teori tersebut dinyatakan gagal atau tidak valid. Begitu pula dalam hubungan. Jika sikapnya tidak menunjukkan keruntutan, maka klaim keintiman dalam hubungan itu secara ilmiah adalah pernyataan yang cacat.
Jebakan Bias Konfirmasi dalam Hubungan
Jika secara logika sudah jelas bahwa mixed signals dalam situationship itu adalah tanda red flag, mengapa banyak orang yang masih lebih memilih untuk bertahan? Dalam LPI, teori bias konfirmasi menjadi jawabannya. Bias konfirmasi adalah bias keputusan yang terjadi ketika seseorang mencari dan menerima bukti yang dapat mengkonfirmasi keyakinannya saja (Naja & Kholifah, 2020).
Ketika mendapatkan sikap mixed signals, otak akan melakukan seleksi data. Secara tidak sadar, otak akan mengingat momen-momen menyenangkan saja dan berusaha mencari alasan untuk memaklumi sikap tidak konsisten dari pasangan. Dengan kata lain, otak sedang melakukan manipulasi data.
Secara ilmiah, ini adalah kegagalan fatal. Seorang penyelidik yang terjebak bias konfirmasi tidak akan pernah menemukan kebenaran, melainkan pembenaran atas apa yang ingin ia percayai. Jika sikapnya tidak konsisten, fakta yang ada sebenarnya sudah menunjukkan kegagalan teori tersebut. Namun, karena bias konfirmasi, sering kali usaha “memperbaiki” data yang rusak tersebut dilakukan agar seolah-olah hubungan tersebut masih memiliki masa depan.
Falsifikasi Karl Popper: Memutus Siklus Ketidakpastian
Bagi Popper, sesuatu dapat dikatakan benar ketika dapat disalahkan dan dianggap kuat ketika mampu bertahan dari upaya penyangkalan. Secara harfiah, falsifikasi diartikan sebagai “melihat dari sudut pandang kesalahan”.
Dalam menghadapi sikap mixed signals, yang perlu dilakukan bukanlah mencari bukti menyenangkan yang hanya akan menciptakan bias konfirmasi, melainkan mencari bukti bahwa pihak yang terlibat tidak menginginkan hubungan tersebut. Jika kamu dengan mudah menemukan bukti bahwa dia hanya ada saat ia butuh, atau dia selalu menghindar saat pembicaraan mengarah ke masa depan, maka hipotesis “dia adalah orang yang tepat” telah berhasil difalsifikasi.
Referensi
George, A. S. (2024). Escaping the situationship: Understanding and addressing modern relationship ambiguity among young adults. Partners Universal International Innovation Journal, 2(3), 35-56.
Ilyana, A., & Al Hamidy, F. T. (2024). Interaksi Hubungan Tanpa Status Antara Lawan Jenis Pada Mahasiswa Fisip UPN Veteran Yogyakarata. Sadharananikarana: Jurnal Ilmiah Komunikasi Hindu, 6(1), 13-25.
Naja, F., & Kholifah, N. (2020). Bias Konfirmasi terhadap Perilaku Berbohong. Jurnal Psikologi: Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan, 7(1), 21-40.
Sari, W. P. E. (2024). Teori Falsifikasi Karl Popper. Ungu Madahi| STAK Abdi Wacana, 1(1), 1-12.
Yumesri, Y., & Syukri, A. (2024). Teori kebenaran perspektif filsafat ilmu. Jurnal Genta Mulia, 15(2), 56-62.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



























































