Dalam peradaban manusia, penggunaan plastik telah menjadi hal sangat dibutuhkan, membawa kemudahan dan sering kali terkesan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa penggunaannya. Hal ini dikarenakan bahwa plastik memiliki daya tahan yang bersifat fleksibel dan biaya produksi yang rendah sehingga membawa kemudahan dan menarik minat banyak manusia untuk menggunakannya. Dibalik penggunaan plastik yang membawa kemudahan ini, terdapat fakta bahwa plastik sangat sulit terurai karena sifatnya yang fleksibel (Suryatini et al., 2024). Meski demikian, plastik dapat menguraikan mikroplastik sedikit demi sedikit dalam hal tertentu sesuai penggunaannya khususnya dalam makanan yang memiliki dampak terhadap kesehatan manusia sehingga muncul pertanyaan apa itu mikroplastik?, bagaimana dampaknya terhadap kesehatan?, hingga bisakah kita menghindari penggunaan plastik?.
Apa itu Mikroplastik?
Mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran kecil yaitu sekitar kurang lebih 5mm. Berdasarkan sumbernya, mikroplastik terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Mikroplastik primer, yaitu plastik si produksi dalam ukuran yang kecil untuk produk tertentu sedangkan,
2. Mikroplastik sekunder, yaitu partikel plastik yang berasal dari penguraian benda plastik yang lebih besar seperti botol bekas, kantong plastik, atau serat pakaian sintetis. Mikroplastik inilah yang biasanya tanpa kita sadari masuk kedalam tubuh kita dan memberikan dampak yang cukup mengkhawatirkan bagi tubuh kita (Sutanhaji et al., 2021).
Bagaimana Mikroplastik dapat Masuk kedalam Tubuh Kita?
Penggunaan plastik baik disadari ataupun tidak disadari telah sangat banyak digunakan dalam kehidupan sehari hari. Kemampuan mikroplastik sekunder dalam menguraikan mikroplastiknya tentu dikatakan dapat merugikan manusia, namun bagaimana mikroplastim tersebut dapat masuk ke tubuh manusia adalah melalui berbagai penggunaan yang terbilang tidak tepat seperti:
1. Penggunaan botol air kemasan yang digunakan berkali-kali,
2. Penggunaan plastik untuk makanan atau minuman yang terlalu panas,
3. Penggunaan kantong plastik hitam yang langsung digunakan untuk membungkus makanan
4. Penggunaan barang berbahan plastik yang digunakan berkali-kali seperti talenan,
5. Makanan laut seperti udang, ikan, kerang dan lain sebagainya yang terkontaminasi mikroplastik akibat cemaran laut.
Hal-hal diatas inilah yang tanpa kita sadari seringkali dilakukan terus menerus sehingga mikroplastik dapat masuk kedalam tubuh kita.
Dampak Mikroplastik bagi Kesehatan
Mikroplastik memiliki dampak yang cukup mengkhawatirkan bagi tubuh karena mikroplastik yang masuk kedalam tubuh melalui berbagai proses atau organ-organ dalam tubuh seperti pencernaan dan pernapasan. Hal ini menandakan bahwa mikroplastik tersebut memiliki kemungkinan untuk terserap atau menempel pada suatu organ tubuh. Menurut Kementerian Kesehatan tahun 2023, endapan mikroplastik yang telah berada dalam tubuh tidak dapat dicerna karena dianggap sebagai benda asing yang tidak dikenali tubuh. Hal ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang biasanya bermula dari menimbulkan iritasi pada saluran pencernaan, peradangan, gangguan hormon hingga dapat menyebabkan tumor bahkan kanker bila dibiarkan terlalu lama dalam tubuh.
Bisakan kita Menghindari Mikroplastik?
Untuk menghindari dampak buruk mikroplastik bagi kesehatan, dapat dilakukan berbagai cara seperti menghindari hal-hal yang memungkinkan mikroplastik masuk kedalam tubuh kita. Dalam hal ini, seringkali didapati kurangnya kesadaran bagi seseorang atau kurangnya keinginan dalam menghindari penggunaan plastik yang kurang tepat tersebut. Oleh karena itu, kesadaran akan bahaya mikroplastik harus ditumbuhkan awalnya dari diri sendiri kemudian dengan bantuan orang lain sebagai pengingat atau penasihat. Bagi anak-anak, peran orang tua sangat penting untuk dapat mengontrol dan mengantisipasi penggunaan plastik yang kurang baik baik anak-anak mereka. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan cara:
1. Menggunakan tumblr air minum berbahan stainless dibandingan berbahan plastik
2. Menunggu hidangan tidak terlalu panas sebelum dibungkus
3. Berbelanja menggunakan tas belanja berbahan kertas atau kain
4. Menggunakan talenan berbahan kayu disbanding berbahan plastik
5. Memastikan sumber makanan bebas dari unsur plastik sebelum dibeli atau dimasak, dsb.
Kesimpulan
Mikroplastik kini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia akibat penggunaan plastik yang kurang tepat. Tanpa disadari, partikel kecil ini dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan, air minum, maupun udara, dan dapat menimbulkan risiko kesehatan seperti peradangan, gangguan hormon, hingga penyakit serius jika terus dibiarkan. Walaupun plastik sulit dihindari, langkah kecil seperti memilih wadah yang lebih aman, mengurangi plastik sekali pakai, dan lebih bijak dalam penggunaannya dapat membantu mengurangi masuknya mikroplastik ke dalam tubuh. Dan pada akhirnya, menjaga diri dari mikroplastik bukan hanya tentang kesehatan hari ini, tetapi juga tentang menjaga lingkungan dan masa depan generasi berikutnya.
Referensi
Sutan Haji, A. T., Rahadi, B., dan Firdausi, N. T. 2021. Analisis Kelimpahan Mikroplastik Pada
Air Permukaan di Sungai Metro. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Vol. 8(2): 74-84.
Suryatini, K. Y., 2024. Paparan Mikroplastik dan Potensi Risiko Kesehatan Pencernaan. Jurnal
Edukasi Matematika dan Sains. Vol. 13(1): 105-109.
Rahmawati, A. 2023.Mikoplastik: Wujudnya Tak Nampak dan Dampaknya Tak Terduga. Ayo
Sehat-Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































