Lingkungan pada dasarnya merupakan ruang tempat manusia menjalani kehidupan sehari-hari, yang idealnya memberikan rasa aman, nyaman, dan mendukung kesehatan. Namun, kondisi tersebut tidak selalu dapat dirasakan di berbagai wilayah. Salah satu persoalan yang masih sering ditemui adalah kebiasaan membakar sampah, baik di pekarangan rumah maupun di lahan kosong. Praktik ini telah berlangsung lama dan dianggap hal biasa, padahal dampaknya semakin mengkhawatirkan bagi kesehatan dan kualitas lingkungan.
Saya sering melihat bagaimana asap dari pembakaran sampah menimbulkan ketidaknyamanan dan mengganggu aktivitas banyak orang. Asap yang mengepul tidak hanya mengganggu pandangan, tetapi juga membawa ancaman kesehatan yang nyata. Udara yang tercemar bau menyengat dapat membuat napas terasa sesak, terutama bagi anak-anak dan orang lanjut usia yang memiliki sistem pernapasan lebih sensitif. Banyak keluarga yang mengeluhkan anak mereka mudah terserang batuk, mengalami iritasi mata, atau sesak akibat paparan asap yang muncul secara berulang.
Ada beberapa penyebab mengapa praktik ini masih terus terjadi. Rendahnya kesadaran mengenai pengelolaan sampah, minimnya fasilitas pendukung, serta anggapan bahwa membakar sampah adalah cara tercepat untuk “membersihkan” lingkungan, membuat kebiasaan ini sulit dihentikan. Padahal, sampah itu tidak hilang begitu saja. Ia berubah menjadi polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Pembakaran plastik, misalnya, dapat menghasilkan zat seperti dioksin dan furan yang berpotensi merusak sistem pernapasan, melemahkan daya tahan tubuh, hingga berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.
Situasi lingkungan di beberapa daerah kini semakin mengkhawatirkan. Tumpukan sampah yang tidak tertangani, abu sisa pembakaran, dan asap yang muncul pada pagi atau sore hari menjadi pemandangan yang umum dijumpai. Lingkungan yang seharusnya memberikan kenyamanan berubah menjadi ruang yang penuh risiko. Yang lebih memprihatinkan, kebiasaan seperti ini sudah berlangsung lama sehingga banyak orang tidak lagi mempertanyakan bahaya di baliknya.
Melihat kondisi tersebut, banyak orang merasa cemas terhadap kualitas udara tempat mereka tinggal. Jika kebiasaan ini tidak segera dihentikan, dampaknya akan semakin meluas dan dapat menurunkan kualitas hidup masyarakat. Padahal, setiap wilayah memiliki potensi menjadi lingkungan yang bersih dan sehat apabila ada kerja sama antara masyarakat dan pemerintah lokal untuk meningkatkan kesadaran, menyediakan fasilitas, serta menegakkan aturan pengelolaan sampah.
Kesadaran untuk berhenti membakar sampah harus segera dibangun. Kebiasaan ini bukanlah solusi, tetapi justru pemicu berbagai masalah kesehatan yang merugikan banyak orang. Pengelolaan sampah yang tepat perlu diperkenalkan dan dibiasakan, seperti memilah sampah dari rumah, mengumpulkan sampah secara teratur, serta menghentikan aktivitas pembakaran di area permukiman. Pemerintah daerah juga dapat berperan dengan menyediakan sarana pendukung, melakukan sosialisasi, serta menerapkan aturan yang jelas agar masyarakat lebih disiplin.
Setiap orang berhak menikmati lingkungan yang bersih, udara yang layak dihirup, dan ruang hidup yang aman bagi generasi masa depan. Tidak seharusnya anak-anak tumbuh dalam kondisi udara yang tercemar asap sampah. Perubahan hanya bisa terwujud apabila semua pihak memahami bahwa menjaga lingkungan adalah investasi jangka panjang bagi kesejahteraan bersama. Permasalahan sampah bukan sekadar soal membuang atau menghilangkan, tetapi menyangkut kesehatan dan masa depan lingkungan.
Jika kita sungguh ingin mewujudkan lingkungan yang lebih baik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan pembakaran sampah. Perubahan besar tidak muncul seketika, tetapi dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten—dan langkah itu bisa dimulai dari diri kita sendiri sekarang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































