Di tengah arus besar murid yang berlomba memilih program sarjana (S1) sebagai jalur utama menuju perguruan tinggi negeri, Raunaq Lilard justru mengambil arah berbeda. Murid kelas XII PK 1 MAN 1 Yogyakarta itu mantap melangkah ke program Diploma IV (D4) Bahasa Inggris Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Keputusan itu bukan pilihan yang muncul tiba-tiba. Sejak awal memasuki kelas XII, Raunaq telah menimbang langkahnya dengan matang. Diskusi panjang bersama keluarga, khususnya ayah dan kakaknya, menjadi fondasi keyakinannya.
“Sejak awal kelas 12, kami sering berdiskusi. Kami membahas apa saja yang harus saya lakukan agar bisa lolos eligible dan SNBP. Dari situ saya semakin yakin dengan pilihan saya,” ujar Raunaq.
Di antara 16 murid MAN 1 Yogyakarta yang berhasil menembus SNBP UGM tahun ini, pilihan Raunaq terasa menonjol. Ia tidak sekadar mengikuti arus, melainkan merumuskan sendiri arah masa depannya berdasarkan pertimbangan yang sangat personal: relevansi dan prospek.
Baginya, pendidikan bukan sekadar jenjang, melainkan kesiapan menghadapi dunia kerja.
“Banyak yang bertanya kenapa tidak memilih S1. Jawabannya sederhana, saya lebih mempertimbangkan prospek kerja dan mata kuliahnya. Saya ingin lebih banyak praktik dalam bahasa Inggris, bukan hanya teori. Karena itu saya memilih D4,” katanya.
Pilihan tersebut mencerminkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap pendidikan tinggi bahwa jalur vokasi pun memiliki nilai strategis yang tidak kalah dengan jalur akademik. Keyakinan Raunaq semakin kuat karena didukung rekam jejak akademik yang selaras dengan pilihannya. Nilai mata pelajaran peminatan yang konsisten tinggi, pengalaman mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, hingga keberadaan alumni MAN 1 Yogyakarta di program studi yang sama menjadi modal penting. Ia bahkan menyertakan sertifikat lomba speech yang pernah diikutinya sebagai bagian dari penguatan portofolio.
Namun, bagi Raunaq, usaha tidak hanya berhenti pada aspek akademik. Ia memadukan ikhtiar lahir dengan pendekatan batin.
“Persiapan saya tidak hanya belajar dan memperbaiki nilai, tapi juga meminta doa restu dari orang tua, guru, dan orang-orang terdekat. Saya juga membiasakan amalan sederhana seperti sholawat dan sedekah,” tuturnya.
Dalam keyakinannya, keberhasilan bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga buah dari doa dan restu. Kini, setelah dinyatakan lolos SNBP, Raunaq tidak lupa menoleh ke belakang kepada adik-adik kelasnya yang tengah menapaki jalan serupa. Ia berbagi pesan sederhana, namun sarat makna.
“Boleh idealis, tapi tetap harus realistis juga. Persiapkan semuanya dengan matang, manfaatkan waktu untuk belajar dan berdoa. Jangan lupa minta doa orang tua, itu sangat penting,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa langkah kecil yang konsisten bahkan hal sederhana seperti beribadah di sela aktivitas harian dapat menjadi kekuatan yang tak terlihat, namun berdampak besar.
Pilihan Raunaq mungkin tidak lazim bagi sebagian orang. Namun, justru di situlah letak keberaniannya: berani berbeda, berani menentukan arah, dan berani percaya pada proses yang ia yakini.
Di tengah perubahan dunia pendidikan yang terus bergerak, pilihan Raunaq mengingatkan bahwa setiap orang punya jalannya sendiri. Tidak harus selalu mengikuti arus, selama kita tahu apa yang ingin dituju dan berani menjalaninya. Bagi Raunaq, langkah itu kini benar-benar dimulai, dari keputusan yang ia pilih dengan penuh keyakinan. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































