Di banyak kampus Indonesia, kita menemukan paradoks yang sunyi: dosen-dosen produktif, sibuk, bahkan populer di kelas, tetapi karier akademiknya berhenti di satu titik “Lektor” . Tahun berganti, aktivitas berjalan, seminar dihadiri, mahasiswa dibimbing, jabatan struktural diemban. Namun satu hal tak berubah: angka kredit stagnan dan publikasi tak naik kelas.
Fenomena ini bukan sekadar soal administrasi. Ia adalah persoalan budaya akademik. Selama ini, angka kredit (KUM) sering dipersepsikan sebagai beban administratif menjelang kenaikan jabatan. Padahal sejatinya, ia adalah peta jalan karier ilmiah. Mereka yang memahami peta akan melompat terarah. Mereka yang mengabaikannya akan berjalan tanpa tujuan jelas.
Namun persoalan kita lebih dalam dari sekadar “buta peta angka kredit”. Masalah mendasarnya adalah rendahnya standar menulis artikel ilmiah.
Menulis untuk Terbit, atau Menulis untuk Berdampak?
Banyak dosen menulis agar “cepat terbit”. Pilih jurnal yang prosesnya mudah, revisinya ringan, dan peluang diterima besar. Artikel terbit, laporan kinerja aman, angka kredit bertambah sedikit demi sedikit. Tetapi pertanyaannya: apakah artikel itu dibaca luas? Apakah ia dikutip? Apakah ia berdampak pada industri, kebijakan, atau transformasi sosial?

Di sinilah kita harus jujur. Terbit tidak selalu berarti berkualitas. Produktif tidak selalu berarti strategis. Jika orientasi menulis hanya untuk memenuhi beban kinerja, maka hasilnya adalah artikel sekedar administratif yang cukup untuk laporan, tetapi tidak cukup untuk reputasi.
Padahal dalam sistem kenaikan jabatan, terutama menuju Lektor Kepala dan Guru Besar, kualitas publikasi menjadi penentu utama. Publikasi di Sinta 2, Sinta 1, apalagi jurnal internasional bereputasi Scopus Q2 dan Q1, bukan lagi pilihan tambahan. Ia adalah kebutuhan strategis.
Naik Jabatan Butuh Naik Standar
Banyak dosen terjebak di zona nyaman Sinta 3–6. Jurnal ini penting sebagai tahap awal. Namun jika bertahun-tahun tetap berada di level yang sama, maka itu bukan lagi tahap belajar melainkan stagnasi.
Kenaikan jabatan menuntut kenaikan standar. Tidak cukup sekadar menambah jumlah artikel. Yang dibutuhkan adalah lompatan kualitas. Menulis untuk Sinta 2 atau jurnal internasional bereputasi berarti:
1. Rumusan masalah harus relevan dan aktual.
2. Metodologi harus kuat dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Analisis tidak boleh dangkal.
4. Novelty harus jelas.
5. Implikasi harus konkret.
Standar ini memang lebih tinggi. Review lebih ketat. Risiko ditolak lebih besar. Namun justru di sanalah kualitas ditempa.
Artikel yang banyak direvisi bukan tanda kegagalan, melainkan proses pematangan ilmiah. Penolakan bukan akhir perjalanan, tetapi bagian dari pendidikan akademik itu sendiri.
Menghubungkan Riset dengan Industri
Kelemahan lain dalam budaya menulis kita adalah rendahnya keterhubungan dengan kebutuhan nyata. Banyak artikel berhenti pada diskusi teoritis tanpa menyentuh implementasi.
Padahal dunia industri, UMKM, sektor publik, hingga kebijakan nasional membutuhkan basis ilmiah yang kuat. Riset dosen seharusnya tidak berhenti di jurnal, tetapi menjelma menjadi model, rekomendasi, bahkan inovasi terapan.
Jurnal bereputasi global tidak hanya mencari teori, tetapi kontribusi. Mereka bertanya: apa kebaruan penelitian ini? Apa implikasinya? Bagaimana ia memperkaya literatur dan praktik?
Jika dosen membiasakan diri menulis dengan orientasi aplikatif, maka riset tidak lagi sekadar memenuhi angka kredit, tetapi menciptakan dampak. Dan ketika riset berdampak, reputasi mengikuti.
Membaca Peta, Menargetkan Puncak
Mengurai stagnasi di level Lektor memerlukan dua hal sekaligus: membaca peta angka kredit dan menaikkan standar menulis.
Membaca peta berarti memahami secara detail kebutuhan KUM untuk jenjang berikutnya. Berapa yang harus dipenuhi dari penelitian? Berapa publikasi inti yang wajib? Berapa yang tidak bisa digantikan oleh unsur lain?
Namun membaca peta saja tidak cukup. Dosen juga harus berani menargetkan puncak. Jika sejak awal hanya menargetkan jurnal yang mudah, maka kualitas akan menyesuaikan target itu.
Sebaliknya, jika sejak awal menargetkan Sinta 2, Sinta 1, atau Scopus Q2/Q1, maka pola berpikir, desain riset, dan kualitas tulisan akan terdorong naik. Target menentukan standar. Standar menentukan hasil.
Mengubah Budaya, Bukan Sekadar Regulasi
Kita sering menyalahkan regulasi yang dianggap rumit atau berubah-ubah. Namun persoalan utamanya bukan pada aturan, melainkan pada budaya akademik yang belum sepenuhnya berorientasi kualitas.
Menulis artikel ilmiah seharusnya menjadi kebiasaan intelektual, bukan sekadar kewajiban administratif. Dosen perlu membiasakan diri:
1. Menulis secara rutin.
2. Membaca jurnal bereputasi sebagai referensi utama.
3. Berkolaborasi lintas institusi.
4. Terbuka terhadap kritik reviewer.
Perguruan tinggi dapat mendukung melalui klinik penulisan, pendampingan publikasi, dan insentif berbasis kualitas. Namun keputusan untuk naik kelas tetap berada pada individu dosen.
Jangan Takut Standar Tinggi
Ada ketakutan yang sering tak diakui: takut ditolak, takut tidak lolos, takut merasa belum cukup. Padahal standar tinggi bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dituju. Tanpa standar tinggi, tidak ada lompatan. Tanpa keberanian mengirim artikel ke jurnal bereputasi, tidak ada percepatan karier.
Jika ingin keluar dari bottleneck Lektor, maka ubahlah strategi. Jangan lagi menulis sekadar agar terbit. Tulis agar diuji. Tulis agar dikutip. Tulis agar diterapkan. Karier akademik bukan tentang cepat atau lambat, tetapi tentang arah dan kualitas.
Pada akhirnya, jabatan akademik bukan sekadar gelar administratif. Ia adalah pengakuan atas kedalaman keilmuan dan konsistensi kontribusi. Pertanyaannya kini sederhana: kita ingin sekadar bertahan di Lektor, atau berani melompat ke puncak?
Pilihan itu ada pada standar yang kita tetapkan hari ini.
*La Mema Parandy
**Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































