Kecerdasan Buatan (AI) telah mengalami kemajuan pesat dalam bidang kesehatan, terutama pasca-pandemi COVID-19. Artikel ini meninjau peluang AI dalam diagnosis, telemedicine, dan pengembangan obat, serta tantangan seperti privasi data, bias algoritma, dan regulasi. Dengan analisis literatur terkini, artikel ini menekankan pentingnya integrasi AI yang etis untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi layanan kesehatan global. Kata kunci: Kecerdasan Buatan, Kesehatan, Pandemi COVID-19, Telemedicine, Etika AI.
Pandemi COVID-19 (2020–2023) telah mempercepat adopsi teknologi digital dalam kesehatan, dengan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai pilar utama. AI, melalui algoritma machine learning dan deep learning, memungkinkan analisis data besar (big data) untuk prediksi penyakit, personalisasi pengobatan, dan optimasi sumber daya medis (Topol, 2019). Namun, di era pasca-pandemi, tantangan seperti ketimpangan akses teknologi dan risiko etis muncul sebagai isu krusial. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peluang dan tantangan AI dalam kesehatan, didasarkan pada literatur ilmiah terkini, untuk memberikan wawasan bagi peneliti, praktisi kesehatan, dan pembuat kebijakan.
Peluang AI dalam Kesehatan
AI menawarkan inovasi signifikan dalam beberapa aspek kesehatan. Pertama, dalam diagnosis, model AI seperti Convolutional Neural Networks (CNN) telah menunjukkan akurasi tinggi dalam mendeteksi kanker payudara melalui analisis gambar mamografi, dengan sensitivitas hingga 94% (McKinney et al., 2020). Kedua, telemedicine yang didukung AI memungkinkan konsultasi jarak jauh, terutama di daerah terpencil, mengurangi beban rumah sakit selama pandemi (Hollander & Carr, 2020). Ketiga, AI mempercepat pengembangan obat melalui simulasi molekuler, seperti yang digunakan dalam vaksin COVID-19, menghemat waktu dan biaya (Zhavoronkov et al., 2019).
Di era pasca-pandemi, AI juga mendukung pemantauan kesehatan populasi melalui wearable devices yang mengintegrasikan data real-time untuk deteksi dini penyakit kardiovaskular (Kvedar et al., 2021). Ini relevan saat ini karena meningkatnya penyakit kronis akibat gaya hidup pasca-lockdown.
Tantangan AI dalam Kesehatan
Meskipun peluangnya besar, AI menghadapi tantangan krusial. Privasi data menjadi isu utama, di mana algoritma AI memerlukan data pasien yang sensitif, meningkatkan risiko pelanggaran seperti yang terjadi dalam kasus Cambridge Analytica (Vayena et al., 2018). Bias algoritma juga signifikan; model AI yang dilatih pada data dari populasi tertentu dapat menghasilkan diagnosis yang tidak akurat untuk kelompok minoritas, memperburuk ketimpangan kesehatan (Obermeyer et al., 2019).
Regulasi menjadi tantangan lain, dengan kerangka hukum seperti GDPR di Eropa yang belum sepenuhnya menyesuaikan dengan perkembangan AI (Yeung, 2018). Di Indonesia, misalnya, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik perlu diperbarui untuk mengakomodasi AI kesehatan. Selain itu, ketergantungan pada teknologi dapat mengurangi interaksi manusia-dokter, mempengaruhi aspek psikologis pasien.
Diskusi dan Implikasi
Integrasi AI dalam kesehatan menjanjikan efisiensi, namun memerlukan pendekatan holistik. Penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara AI dan tenaga medis manusia dapat meningkatkan akurasi diagnosis hingga 20% (Rajpurkar et al., 2017). Di era pasca-pandemi, fokus pada AI etis—seperti melalui prinsip fairness, accountability, dan transparency (FAT)—dapat memitigasi risiko (Floridi et al., 2018).
Implikasi bagi pembuat kebijakan termasuk investasi dalam infrastruktur digital di negara berkembang dan pendidikan bagi profesional kesehatan. Penelitian masa depan harus mengeksplorasi AI dalam kesehatan mental, yang meningkat pasca-COVID-19 (Torales et al., 2020).
Kesimpulan
AI memiliki potensi transformasional dalam kesehatan, menawarkan peluang untuk diagnosis yang lebih akurat dan telemedicine yang efisien di era pasca-pandemi. Namun, tantangan privasi, bias, dan regulasi harus diatasi melalui kerjasama multidisiplin. Dengan pendekatan yang bertanggung jawab, AI dapat memperbaiki akses kesehatan global, memastikan masa depan yang lebih sehat dan adil.
Dampak Kecerdasan Buatan terhadap Kesehatan: Peluang dan Tantangan di Era Pasca-Pandemi
Penulis: Annisa Nst
Tanggal: November 2025
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































