Opioid merupakan analgesik sentral yang dikenal memiliki kemampuan kuat dalam meredakan nyeri, khususnya pada kondisi nyeri berat yang membutuhkan penanganan intensif. Selain memberikan efek analgesia, berbagai penelitian menunjukkan bahwa opioid juga berpengaruh pada sejumlah organ dan sistem tubuh. Pengaruh tersebut tidak hanya berkaitan dengan proses fisiologis, tetapi juga mencakup respons tubuh terhadap rangsangan tertentu, termasuk pada sistem kekebalan yang dapat mengalami perubahan akibat paparan opioid (Rahardjo, 2020). Selain dampak fisik, penggunaan opioid dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi kondisi mental, seperti suasana hati dan potensi ketergantungan.
Pembahasan mengenai penggunaan opioid penting dilakukan karena obat ini memiliki pengaruh signifikan terhadap Kesehatan, serta potensi risiko yang sering tidak disadari oleh penggunanya.
Penggunaan opioid resep mengalami peningkatan di Amerika Serikat dan beberapa negara lain pada periode 2008–2013, sementara penggunaan opiat seperti heroin dan opium cenderung stabil atau bahkan menurun di sejumlah wilayah Eropa. Perbedaan tren ini penting diperhatikan karena setiap jenis dan dosis opioid dapat menghasilkan dampak fisiologis yang berbeda (Yamin & Jufri, 2024).
Pemberian berbagai jenis opioid diketahui menghasilkan efek imunologis yang beragam, mulai dari imunosupresif, imunostimulator, hingga kombinasi keduanya. Variasi ini dipengaruhi oleh interaksi opioid dengan reseptor opioid di membran sel, yang memiliki sifat biologis dan farmakologis kompleks. Reseptor ini tidak hanya berperan dalam analgesia, toleransi obat, kecanduan, dan depresi pernapasan, tetapi juga terlibat dalam regulasi kardiovaskular serta fungsi kekebalan tubuh (Rahardjo, 2020).
Penelitian selanjutnya menyoroti peran ligan endogen seperti endorfin, enkefalin, dan dinorfin pada reseptor opioid, yang memengaruhi analgesia, aktivitas pernapasan, detak jantung, dan respons kecemasan (Mahmud & Rahardjo, 2020). Ketiga reseptor opioid klasik ini memiliki ligan endogen dengan fungsi khas masing-masing. Endorfin yang berikatan pada reseptor μ berperan dalam analgesia, penurunan frekuensi napas, dan penurunan detak jantung. Enkefalin sebagai ligan reseptor δ berkontribusi pada perlindungan miokardium terhadap iskemia. Sementara itu, dinorfin yang berikatan pada reseptor κ memiliki efek analgesik namun dapat memicu respons kecemasan, dengan pengaruh minimal terhadap inhibisi pernapasan (Xuan Liang, 2017).
Interaksi ligan endogen dengan reseptor opioid tidak hanya memengaruhi sistem saraf, tetapi juga berperan dalam regulasi neuroendokrin dan respons imun. Berbagai studi menunjukkan adanya hubungan erat antara sistem imun dan sistem neuroendokrin, di mana sejumlah sel imun memiliki reseptor opioid dalam jumlah signifikan. Sistem saraf dapat melepaskan peptida opioid yang berikatan dengan reseptor pada imunosit untuk mengatur aktivitas imun. Sebaliknya, imunosit juga mampu melepaskan peptida opioid yang memengaruhi mekanisme neuroendokrin, menunjukkan adanya komunikasi dua arah antara kedua sistem tersebut.
Pandangan lama menyebutkan bahwa sebagian besar opioid bersifat menekan sistem imun. Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa efek opioid dapat bersifat ganda, tergantung jenis, dosis, dan kondisi fisiologis pengguna. Meski demikian, mekanisme interaksi opioid dan reseptornya dalam sistem imun belum sepenuhnya dipahami (Xuan Liang, 2017).
Selain berpengaruh pada sistem imun, penggunaan opioid jangka panjang juga berdampak signifikan pada sistem endokrin dan kesehatan tulang. Opioid dapat mengganggu fungsi hormon reproduksi dengan menurunkan kadar testosteron dan estradiol, sehingga memicu berbagai masalah seperti hilangnya libido, disfungsi seksual, gangguan menstruasi, infertilitas, kelelahan, serta depresi. Dampak jangka panjang ini semakin terasa karena opioid juga menurunkan massa otot dan kepadatan tulang, yang berpotensi meningkatkan risiko osteoporosis dan patah tulang. Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa risiko patah tulang dapat meningkat hingga 80 persen, terutama pada penggunaan dosis tinggi dan opioid kerja pendek.
Selain itu, beberapa jenis opioid dapat kembali memengaruhi keseimbangan sistem kekebalan tubuh. Morfin, misalnya, diketahui memiliki efek imunosupresif yang kuat, sementara jenis lain seperti fentanyl dapat menimbulkan efek ganda, dan tramadol menunjukkan sifat imunostimulator. Variasi efek ini dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam melawan infeksi serta menjaga kelancaran fungsi imun secara keseluruhan (Kotlińska-Lemieszek & Żylicz, 2022).
Penggunaan opioid tidak hanya menimbulkan gangguan pada sistem endokrin dan kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi mental penggunanya. Perubahan hormon, kelelahan, dan melemahnya imunitas dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga depresi. Sebaliknya, kondisi mental yang tidak stabil sering membuat seseorang semakin bergantung pada opioid untuk meredakan ketidaknyamanan emosional. Pola timbal balik ini menunjukkan bahwa dampak opioid menciptakan lingkaran masalah yang kompleks antara kesehatan fisik dan psikologis. Kondisi ini juga memperkuat kekhawatiran tentang potensi ketergantungan yang muncul akibat penggunaan opioid.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan opioid resep — terutama jika berlangsung dalam jangka panjang atau dosis besar — dapat memicu ketergantungan. Sebuah meta-analisis terhadap pasien yang menerima terapi opioid jangka panjang menemukan bahwa sekitar 4,7 % kemudian mengalami ketergantungan atau penyalahgunaan opioid (Higgins & Smith, 2018).
Penggunaan opioid memberikan dampak yang kompleks terhadap kesehatan fisik dan mental, sebagaimana terlihat dari pengaruhnya terhadap sistem imun, hormon, serta keseimbangan neuroendokrin. Variasi efek antarjenis opioid menunjukkan bahwa respons tubuh tidak seragam dan dapat menimbulkan risiko jangka panjang, mulai dari gangguan reproduksi, penurunan kepadatan tulang, hingga peningkatan kecemasan dan depresi. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan opioid secara bijak dan terkontrol. Pemahaman menyeluruh mengenai mekanismenya diperlukan agar tenaga kesehatan dapat meminimalkan risiko sekaligus memastikan manfaat terapi tetap optimal bagi pasien.
Referensi
Higgins, C., & Smith. (2018). Incidence of iatrogenic opioid dependence or abuse in patients with pain who were exposed to opioid analgesic therapy: a systematic review and meta-analysis. British Journal of Anaesthesia, 120(6), 1335–1344. https://doi.org/10.1016/j.bja.2018.03.009
Kotlińska-Lemieszek, A., & Żylicz, Z. (2022). Less Well-Known Consequences of the Long-Term Use of Opioid Analgesics: A Comprehensive Literature Review. Drug Design, Development and Therapy, 16, 251–264. https://doi.org/10.2147/DDDT.S342409
Rahardjo, S. (2020). EFEK IMUNOLOGI PADA PENGGUNAAN OPIOID AKUT DAN KRONIS. 7, 83–95.
Xuan Liang. (2017). Opioid System Modulates the Immune Function. Physiology & Behavior, 176(10), 139–148.
Yamin, M., & Jufri. (2024). Sosalisasi Jenis Zat Adiktif dan Psikotropika serta Dampaknya terhadap Kesehatan di SMPN 1 Gunungsari Lombok Barat. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 7(2), 368–373.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































