Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara individu mengonsumsi informasi dan hiburan. Data dari We Are Social, TikTok sebagai salah satu platform yang paling banyak digunakan, kini mencatat pengguna aktif sebesar 73,5% dari total pengguna internet di Indonesia. Dominasi ini memunculkan pertanyaan penting: mengapa seseorang dapat menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melakukan aktivitas scrolling tanpa disadari? Psikologi dalam salah satu bidangnya yaitu Neurosains memberikan penjelasan mendalam mengenai mekanisme yang mendorong perilaku tersebut.
Algoritma TikTok dan Pembentukan Pola Preferensi
TikTok memanfaatkan sistem rekomendasi berbasis kecerdasan buatan yang menganalisis perilaku pengguna. Durasi menonton, interaksi, jenis konten, hingga pola perhatian menjadi indikator untuk memprediksi preferensi individu. Jurnal The Impact of TikTok menjelaskan bahwa sistem ini menciptakan aliran konten yang selalu relevan dengan minat pengguna. Akibatnya, pengguna mengalami personalized feed yang meningkatkan peluang keterlibatan dan memperpanjang durasi penggunaan.
Menurut Kevin Morgan, peneliti teknologi digital dari University of Birmingham, “Platform yang mampu memetakan minat mikro pengguna secara real-time akan lebih mudah mempertahankan atensi mereka dibanding media tradisional.” Hal ini menunjukkan bahwa kecanduan tidak hanya berasal dari faktor neurologis, tetapi juga desain platform yang secara strategis dirancang untuk mempertahankan perhatian.
Konsep Kecanduan dalam Perspektif Ilmiah
Dalam Jurnal Bina Ilmu Cendekia, kecanduan didefinisikan sebagai dorongan kuat untuk mengulangi suatu perilaku demi memperoleh sensasi menyenangkan. Aktivitas scrolling pada TikTok memenuhi pola tersebut: sederhana, cepat, dan memberikan rangsangan visual yang bervariasi. Kombinasi ini merangsang bagian otak yang mengatur rasa senang dan motivasi.
Psikolog perilaku James Olds pernah menyatakan bahwa, “Otak manusia sangat responsif terhadap stimulus yang bersifat variatif dan tidak dapat diprediksi.” TikTok, melalui variasi konten yang tanpa akhir, menjadi stimulus yang memenuhi karakter ini.
Sistem Reward Otak dan Peran Dopamin
Salah satu penjelasan utama kecanduan dalam konteks neurosains adalah aktivasi sistem reward otak. Dopamin, neurotransmiter yang terkait dengan rasa senang, memainkan peran penting dalam memperkuat perilaku tertentu.
Susanti dkk. dalam Jurnal Teologi dan Psikologi menjelaskan bahwa sistem reward melibatkan jalur dopaminergik mesolimbik dan mesokortikal. Kedua jalur tersebut berawal dari ventral tegmental area (VTA) dan berproyeksi ke nucleus accumbens, amigdala, dan prefrontal cortex (PFC) area yang berperan dalam emosi, motivasi, penilaian risiko, dan pengambilan keputusan.
Penelitian “What the Brain ‘Likes’” menemukan bahwa aktivitas VTA meningkat ketika seseorang menerima stimulus positif, termasuk konten media sosial. Proses ini memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa puas, sehingga individu terdorong untuk mengulangi perilaku yang sama.
Neuroscientist Wolfram Schultz juga menyatakan bahwa dopamin tidak hanya muncul dari “hadiah” yang diterima, tetapi juga dari anticipation atau antisipasi terhadap hadiah itu. Inilah yang membuat scrolling TikTok sulit dihentikan: setiap video memberikan kemungkinan reward yang baru.
Mekanisme Perilaku Kecanduan
Pada tahap awal penggunaan, dopamin muncul sebagai respon terhadap kejutan. Namun, ketika pengalaman tersebut diulang, otak mulai menciptakan pola antisipatif. Hal ini menyebabkan pengguna secara tidak sadar menunggu rangsangan berikutnya dan terus melakukan scrolling demi menemukan konten yang memberikan rasa puas yang sama.
Efek ini sangat mirip dengan mekanisme yang ditemukan dalam variable reward system, yaitu sistem imbalan dengan pola tidak terduga mekanisme yang juga digunakan dalam mesin judi (slot machine). TikTok menerapkan pola serupa melalui konten yang terus berganti-ganti tanpa jeda.
Adiksi Digital dan Dampak Neurologis
Fisipol UGM mendefinisikan adiksi digital sebagai kondisi ketika individu mengakses dunia digital secara berlebihan hingga mengabaikan waktu, ruang, dan tanggung jawab sosial. WHO menambahkan bahwa penggunaan teknologi yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kesehatan mental dan regulasi emosi.
Jurnal “Digital Addiction in Children: Is There a Neurological Basis” yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menemukan korelasi antara adiksi digital jangka panjang dengan penurunan beberapa struktur otak, antara lain:
1. Korteks dorsolateral prefrontal → mengatur memori kerja dan fokus.
2. Korteks motorik suplementer → mengatur perencanaan gerak.
3. Korteks orbitofrontal → berperan dalam penilaian, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi.
4. Cerebellum → memengaruhi koordinasi motorik dan ketepatan gerakan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa adiksi digital bukan hanya perilaku berlebihan, tetapi juga kondisi yang memiliki dampak neurologis nyata.
Kesimpulan
Dari perspektif Psikologi yaitu bidang Neurosains, kecanduan saat mengakses TikTok berkaitan erat dengan aktivasi sistem reward otak yang memicu pelepasan dopamin ketika pengguna menemukan konten menarik. Algoritma TikTok yang adaptif memperkuat respons tersebut melalui penyajian konten yang relevan dan bervariasi. Jika tidak dikendalikan, mekanisme ini dapat berkembang menjadi adiksi digital yang berdampak pada struktur dan fungsi otak.
Pemahaman mengenai mekanisme ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pengguna untuk mengatur konsumsi media digital secara bijak serta menjaga kesehatan kognitif di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”




































































