Doomscrolling: Ketika Mencari Informasi Justru Menjadi Sumber Kecemasan Kolektif
Di tengah arus informasi digital yang tak pernah berhenti, muncul satu kebiasaan yang kian mengkhawatirkan: doomscrolling. Istilah ini merujuk pada perilaku terus-menerus mengonsumsi berita negatif mulai dari konflik, bencana, kekerasan, hingga tragedi kemanusiaan meski berdampak buruk bagi kesehatan mental. Fenomena ini tidak lagi bersifat individual, melainkan telah menjelma menjadi gejala sosial yang meluas.
Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah doomscrolling merupakan pilihan sadar individu, atau hasil rekayasa algoritma media digital? Platform digital dirancang untuk mempertahankan atensi pengguna selama mungkin, dan konten yang memicu emosi kuat seperti takut dan marah terbukti paling efektif. Dalam kondisi ini, batas antara kebutuhan informasi dan konsumsi informasi yang merusak kesehatan mental menjadi semakin kabur.
Antara Kebutuhan Informasi dan Kecanduan Terselubung
Banyak pengguna meyakini bahwa mereka sekadar “ingin tahu” atau “tidak ingin ketinggalan informasi”. Namun ketika aktivitas tersebut dilakukan secara kompulsif, berulang, dan sulit dihentikan meski menimbulkan kecemasan, muncul pertanyaan lain: apakah doomscrolling dapat dikategorikan sebagai bentuk kecanduan digital terselubung?
Secara psikologis, manusia cenderung mencari informasi buruk saat berada dalam kondisi cemas. Alih-alih menenangkan diri, otak justru terdorong untuk terus mencari kepastian dari ancaman yang dirasakan. Ironisnya, semakin banyak informasi negatif dikonsumsi, semakin tinggi tingkat kecemasan yang muncul.
Budaya “Selalu Update” dan Kelelahan Emosional
Fenomena doomscrolling tidak bisa dilepaskan dari budaya digital saat ini. Budaya “selalu update” perlahan membentuk generasi yang lelah secara emosional. Kewajiban sosial untuk selalu mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia membuat individu sulit mengambil jarak dari arus berita negatif.
Di sisi lain, pertanyaan tentang siapa yang paling diuntungkan dari maraknya doomscrolling juga mengemuka. Apakah pengguna benar-benar mendapatkan manfaat, atau justru platform digital yang memperoleh keuntungan melalui peningkatan waktu layar dan pendapatan iklan? Dalam konteks ini, media juga tak luput dari sorotan, terutama terkait framing berita yang cenderung menonjolkan sisi sensasional dan tragis demi klik dan perhatian.
Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa doomscrolling juga mencerminkan kegagalan literasi digital dalam sistem pendidikan, di mana kemampuan memilah informasi, mengatur konsumsi media, dan menjaga kesehatan mental belum menjadi prioritas utama.
Dampak Psikologis yang Lebih Dalam
Dari sisi psikologis, doomscrolling berpotensi memperburuk kondisi depresi dan kecemasan. Meski kerap dianggap sebagai mekanisme koping cara “menghadapi kenyataan” pada kenyataannya ia sering kali menjadi koping semu yang justru memperparah tekanan batin.
Rasa takut dan marah lebih cepat menyebar di ruang digital dibandingkan harapan dan empati. Paparan berita negatif yang terus-menerus tidak hanya membentuk persepsi realitas yang suram, tetapi juga berisiko menumpulkan kepekaan individu terhadap penderitaan nyata di sekitarnya. Ketika tragedi menjadi konsumsi harian, empati bisa berubah menjadi kelelahan, dan kepedulian berujung pada kelumpuhan untuk bertindak.
Tanggung Jawab Etis di Balik Algoritma
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan etis yang serius: apakah perusahaan media sosial memiliki tanggung jawab moral atas dampak psikologis doomscrolling? Jika algoritma terbukti memperkuat penyebaran konten yang memicu kecemasan, haruskah ada pembatasan demi kesehatan mental publik?
Lebih jauh, muncul pertanyaan tentang etika memonetisasi ketakutan dan tragedi manusia. Ketika penderitaan menjadi komoditas, batas antara informasi publik dan eksploitasi emosi menjadi semakin tipis.
Refleksi dan Arah Solusi
Di tingkat personal, doomscrolling memaksa kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar mencari informasi, atau sedang memberi makan kecemasan? Kapan terakhir kali kita berhenti scroll karena peduli pada kesehatan mental sendiri? Dan mengapa keheningan digital sering kali terasa lebih menakutkan daripada berita buruk itu sendiri?
Namun solusi atas doomscrolling tidak bisa dibebankan sepenuhnya pada individu. Diperlukan pendekatan sistemik yang melibatkan platform digital, media, dan institusi pendidikan. Kampus dan sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan konsumsi informasi yang sehat, kritis, dan berimbang.
Di era digital, wacana tentang menjadikan literasi kesehatan mental sebagai bagian dari kurikulum bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa kesadaran dan intervensi bersama, doomscrolling berisiko terus memperdalam krisis kesehatan mental yang diam-diam menggerogoti masyarakat.
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan cermin relasi manusia dengan teknologi, informasi, dan ketakutannya sendiri. Cara kita merespons fenomena ini akan menentukan apakah ruang digital menjadi sumber pengetahuan yang membebaskan, atau justru jebakan kecemasan kolektif.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































