Gedung KORPRI Lamongan menjadi saksi bisu pertemuan hangat lintas wilayah dalam tajuk serasehan budaya yang digelar pada Sabtu, 24 Januari 2026. Acara ini mengusung tema yang cukup mendalam dan relevan dengan kondisi zaman sekarang, yakni pangan lokal sebagai ekosistem kehidupan. Inisiasi kegiatan ini datang dari kolaborasi antara Komunitas Pelukis Lamongan atau Kospela bersama Doglas Club. Keberhasilan acara ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak seperti Komunitas Sketsa Indonesia Tunggal Roso, Tesla Paints, SPS Corporate, Ikatan Pelukis Indonesia, Duta Plasa Wallpaper, Bank Daerah Lamongan, RSUD Dr Soegiri Lamongan, hingga PD Pasar Kabupaten Lamongan.
Suasana di dalam gedung tampak sangat hidup karena dihadiri oleh berbagai kalangan. Tidak hanya seniman dan pelukis lokal, tetapi juga para aktivis kebudayaan yang datang dari berbagai kota seperti Gresik dan Mojokerto. Bahkan, gaung acara ini sampai ke luar provinsi, terbukti dengan hadirnya peserta dari Semarang hingga Bali. Kehadiran tokoh masyarakat seperti Cak Nursalim dan Cak Pandi menambah bobot diskusi pada hari itu.
Cak Nursalim Wakil Ketua PCNU Lamongan menegaskan
“Diskusi bertema ekologis di pameran lukisan ini menunjukkan kepedulian para pelukis se kabupaten Lamongan terhadap isi lingkungan.
Hal ini karena mereka merasa tidak ada tindakan sama sekali dari pemerintah daerah kabupaten Lamongan dan berbagai pihak terkait dengan banjir selama 2 bulan ini yg di alami 6 kecamatan yg berisi 146 desa.
Semoga kegiatan para seniman ini menginspirasi semua pihak utk bergerak menyelesaikan problem lingkungan yg di terpa banjir di semua daerah ini.”
Di tengah berlangsungnya acara, kehadiran Wakil Ketua DPRD Lamongan, Husen, semakin melengkapi formasi tokoh penting yang peduli terhadap perkembangan seni dan budaya di Lamongan.
“Rencana tindak lanjut komunitas dari berbagai daerah gerak latih tanam bibit pohon bersama kesadaran tentang merawat ibu bumi, untuk mendorong gerak roda ekonomi.
Membuat grand desain bukan hanya komunitas seni tapi seluruh lapisan masyarakat.” Statement Husen Wakil Ketua DPRD Lamongan dari PDIP
Dalam sesi diskusi, para narasumber membedah keterkaitan erat antara seni dan ekosistem kehidupan. Poin menarik yang disampaikan adalah bagaimana banyak karya seni, penamaan benda, hingga penamaan daerah sebenarnya berakar dari nama-nama tanaman lokal. Sayangnya, pengetahuan sejarah dan filosofis semacam ini mulai terkikis dan tidak banyak diketahui oleh generasi masa kini. Seni dipandang bukan sekadar estetika visual, melainkan dokumentasi hidup tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alam dan ketersediaan pangan di sekitarnya. Pangan lokal bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi bagaimana vegetasi tersebut membentuk identitas kebudayaan suatu masyarakat.
Cak Rokhim yang bertindak sebagai moderator mampu menghidupkan suasana dengan menjelaskan detail-detail kecil mengenai karya-karya yang dipajang di area pameran. Penjelasan tersebut memberikan perspektif baru bagi pengunjung mengenai makna di balik sapuan kuas para seniman. Melalui moderasi yang komunikatif, audiens diajak untuk memahami bahwa setiap lukisan memiliki narasi tentang ekosistem yang sedang diperjuangkan atau kenangan akan kekayaan alam yang mulai langka.
Daya tarik utama dari serasehan ini adalah sesi melukis langsung atau live painting yang dilakukan oleh tiga seniman dengan gaya yang berbeda. Abu Sufyan menunjukkan kepiawaiannya dalam menangkap momen dengan melukis peristiwa yang sedang terjadi tepat di hadapannya secara real-time. Hal ini memberikan pengalaman visual bagi penonton tentang bagaimana sebuah realitas sosial ditransformasikan ke dalam kanvas.

Di sisi lain, Sugeng Lanang menampilkan lukisan dengan konsep abstraksi yang didominasi oleh gambar ikan. Sapuan warnanya menciptakan kesan dramatis yang kuat, seolah menggambarkan dinamika kehidupan air sebagai bagian dari ekosistem pangan.

Sementara itu, Ochez Sumantri membawa filosofi yang mendalam melalui lukisan abstraksi seekor kuda yang sedang berlari. Di samping objek kuda tersebut, terdapat sembilan ekor ikan koi yang dipadukan dengan simbol arah mata angin. Karya ini secara simbolis menggambarkan semangat untuk terus mengejar kejayaan dan kemakmuran tanpa melupakan keseimbangan alam.

Perpaduan antara diskusi teoritis dan praktik kesenian secara langsung ini menjadikan serasehan budaya di Lamongan ini sebagai sebuah ekosistem pembelajaran yang utuh bagi seluruh peserta yang hadir. Acara ini berhasil membuktikan bahwa seni rupa dapat menjadi medium efektif untuk membicarakan isu-isu lingkungan dan ketahanan pangan lokal secara lebih cair dan menyentuh hati.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































