Kemajuan teknologi digital, khususnya media sosial, memberikan akses yang luas bagi individu untuk terhubung dengan erbagai topik. Salah satu topik populer saat ini adalah figur media seperti K-pop dan anime dapat dilihat dari jumlah penggemar K-pop di Indonesia dan jumlah penonton anime pada layanan streaming online. Ketertarikan terhadap figur media seperti K-pop atau anime bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga dapat memberikan dorongan emosional dan afektif seperti memberikan motivasi psikologis dalam melakukan aktivitas mereka sehari-hari, tetapi jika berlebihan dapat memunculkan ketertarikan emosional secara satu arah dan akan berdampak untuk kesehatan mental serta pikiran mereka.
Horton & Wohl (1956) memperkenalkan konsep interaksi parasosial (para-social interaction), yaitu bentuk keterikatan satu arah antara pemirsa dan figur media seperti artis atau karakter fiksi. Meskipun tidak ada interaksi secara langsung, pemirsa merasa seolah-olah memiliki hubungan pribadi yang nyata dengan figur tersebut.
Horton & Wohl menjelaskan bahwa media massa, terutama media sosial menciptakan ilusi intimasi melalui gaya komunikasi personal dan berulang. Figur media disini tampak berbicara langsung kepada pemirsa, menggunakan kontak mata, ekspresi emosional, dan narasi personal yang membuat pemirsa merasa “dikenal” dan “diperhatikan.”
Mereka yang mengalami interaksi parasosial cendurung merasa kesepian dalam kehidupan sehari-harinya. Hawkley dan Cacioppo (2010) kesepian adalah sinyal biologis yang dimana bukan sekedar perasaan negatif, tetapi juga sebagai sinyal adaptif yang menunjukkan bahwa kebutuhan sosial tidak terpenuhi.
Ketika individu merasa kesepian, sistem limbik termasuk amigdala dan hippocampus menjadi lebih aktif dalam memproses ancaman sosial, sementara itu sirkuit reward seperti ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens mengalami penurunan aktivitas karena minimnya stimulus sosial yang menyenangkan, sehingga individu kurang merasakan dampak dari interaksi sosial.
Untuk mengimbangi kekosongan yang disebabkan oleh kesepian, otak mengalihkan fokus pada stimulus alternatif yang memberikan rasa nyaman dan afeksi. Keterikatan emosional terhadap figure media meskipun bersifat satu arah, dapat mengaktifkan sistem reward dan memberikan pengalaman afektif menyerupai hubungan dalam dunia nyata.
Selain perubahan pada neurobiologis, individu juga mengembangkan strategi psikologis untuk mengatur emosi dan mempertahankan keseimbangan afektif. Strategis tersebut adalah dengan mengalami/melakukan fantasi romantis terhadap figur media. Fantasi romantis yang dialami oleh individu berfungsi sebagai mekanisme koping yang memungkinkan individu membayangkan hubungan yang aman, stabil, jauh dari konflik, penuh afeksi, dan tanpa adanya penolakan.
Studi oleh Athirah (2024) menunjukkan bahwa empati terhadap idola dan daya tarik interpersonal berkontribusi pada intensitas hubungan parasosial yang pada akhirnya dapat mengurangi perasaan kesepian. Meskipun pada kenyataannya hubungan tersebut bersifat satu arah dan tidak nyata, keterikatan emosional yang terbentuk antara individu dengan tokoh tersebut dapat memberikan rasa nyaman dan dapat membantu individu tersebut menjalankan aktivitas sehari-hari dengan positif. Akan tetapi, jika keterikatan ini berkembang secara berlebihan dan menggantikan hubungan sosial pada kehidupan nyata, maka berpotensi untuk meningkatkan gangguan psikologis seperti delusional.
Budaya fanbase (komunitas penggemar) memperkuat alasan kenapa mereka bisa memiliki keterikatan emosional terhadap figur media. Dalam komunitas penggemar tidak hanya menjadi tempat untuk berbagi konten, tetapi juga membentuk struktur sosial yang kompleks melalui aktivitas seperti fan project, voting online agar idola mereka menang pada acara mingguan atau tahunan hingga interaksi dalam forum daring. Bagi individu yang memiliki keterbatasan dalam hubungan sosial pada kehidupan nyata, partisipasi yang ia lakukan dalam komunitas dapat memberikan rasa terhubung karena mereka bisa membahas hal yang sama dan dukungan emosional yang menyerupai hubungan interpersonal.
Keterlibatan individu dalam komunitas memperkuat intensitas hubungan parasosial dan memperluas fungsi fantasi romantis sebagai sumber emosi. Studi oleh Shaleha, Rahmawati, & Yusuf (2023) menunjukkan bahwa penggemar kpop yang merasa kesepian cenderung memiliki hubungan parasosial yang lebih kuat dan komunitas fanbase berperan dalam meperkuat keterikatan tersebut. Meskipun disatu sisi itu dapat memberikan efek positif jika individu aktif dalam komunitas itu ia dapat terhubung dengan individu lain. Namun, apabila keterlibatan yang berlebihan dalam komunitas dapat menyebabkan ketergantungan emosional dan menghambat pembentukan hubungan sosial yang sehat dalam kehidupan nyata.
Fantasi romantis terhadap figur media seperti tokoh fiksi atau K-pop merupakan respon adaptif terhadap kesepian yang berjalan lewat regulasi afektif dan aktivasi sistem reward. Apabila individu tertarik kepada figur media dalam batas wajar dapat memberikan dorongan emosional dan afeksi yang positif. Namun, apabila sudah diluar dari batas wajar ketertarikan itu dapat menimbulkan gangguan psikologis. Oleh karena itu perlunya batasan ketika tertarik dengan figur media agar tidak memengaruhi hubungan atau interaksi sosial pada kehidupan nyata.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































