Fenomena Guru yang Tertinggal oleh Muridnya Sendiri
Di banyak sudut sekolah di Indonesia, terutama di madrasah dan sekolah dasar yang berdiri di wilayah pinggiran, terdapat kisah yang diam-diam tumbuh menjadi perbincangan yang sarat makna. Kisah itu tentang guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, tetapi harus menerima kenyataan pahit ketika muridnya sendiri berhasil lebih dulu menjadi aparatur sipil negara. Kisah itu tidak hanya muncul sekali dua kali, tetapi telah menjadi fenomena yang menimbulkan keprihatinan sekaligus menggugah rasa kemanusiaan. Ada rasa haru, bangga, dan pilu yang bercampur menjadi satu.
Suatu pagi di sebuah ruang guru yang sederhana, seorang guru honorer duduk sambil menatap papan tulis. Ia mengingat hari-hari ketika ruang itu menjadi tempatnya membimbing murid-murid, termasuk seorang siswa yang kini telah dewasa dan baru saja lulus seleksi ASN. Murid itu kini kembali ke sekolah yang sama untuk bertugas sebagai guru baru. Senyumnya ramah, sikapnya sopan, dan ia mengucapkan terima kasih kepada mantan gurunya dengan penuh hormat. Namun di balik senyum bangga itu, sang guru honorer menyembunyikan perasaan getir yang sulit dijelaskan. Ia bahagia melihat keberhasilan muridnya, tetapi ia juga tidak bisa menutupi rasa sedih karena dirinya sendiri belum mendapatkan kesempatan yang sama. Fenomena seperti ini hadir di berbagai daerah. Ada guru yang telah mengabdi dua puluh atau tiga puluh tahun, mengajar dengan segala keterbatasan dan tetap setia pada profesinya. Namun ketika seleksi ASN dan PPPK dibuka, mereka harus mengikuti mekanisme tes digital yang menuntut ketangkasan, ketelitian, dan kecepatan. Bagi sebagian guru yang terbiasa dengan metode mengajar konvensional, proses ini menjadi tantangan besar.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat membuat mereka harus berpacu dengan sesuatu yang tidak mereka kuasai sepenuhnya. Sementara itu, para lulusan baru yang dahulu belajar dari mereka dengan mudah memahami pola soal berbasis komputer dan terbiasa mengoperasikan perangkat digital. Keterampilan digital bukan satu-satunya faktor yang membuat guru senior sering tertinggal. Ada pula aspek stamina, daya fokus, dan tekanan psikologis. Guru yang sudah menjalani perjalanan panjang dalam dunia pendidikan sering membawa keletihan yang tidak tampak oleh mata. Puluhan tahun mengajar dari pagi hingga siang, melakukan administrasi yang terus berubah, menghadapi kurikulum yang berganti-ganti, dan bekerja dengan gaji minim telah menguras energi mereka. Ketika mengikuti seleksi yang menuntut konsentrasi tinggi, kondisi tersebut sering menghambat hasil optimal. Sementara para lulusan baru datang dengan energi yang segar dan fokus yang kuat.
Tidak jarang berita tentang fenomena ini menyebar melalui media sosial, menciptakan diskusi hangat mengenai bagaimana negara seharusnya menghargai pengabdian panjang seorang guru. Banyak orang menilai bahwa pengalaman lapangan selama bertahun-tahun semestinya memiliki nilai besar dalam proses seleksi. Namun realitasnya, sistem yang dirancang untuk objektivitas lebih mengutamakan skor. Nilai pengalaman memang diperhitungkan, tetapi tidak selalu mampu menyaingi hasil tes yang dikuasai dengan baik oleh generasi muda. Akibatnya, guru yang telah berjasa mendidik suatu generasi justru tersisih dari kesempatan mendapatkan kesejahteraan yang lebih layak.
Dalam ruang-ruang kelas, guru senior itu tetap mengajar dengan sepenuh hati. Mereka tidak menunjukkan kekecewaan di hadapan siswa. Mereka tetap tersenyum dan tetap mempersiapkan pembelajaran dengan penuh tanggung jawab. Namun saat pintu kelas tertutup atau ketika mereka sendirian di meja kerja, tatapan mereka sesekali menerawang jauh seolah menimbang kembali perjalanan panjang yang telah ditempuh. Dalam hati, ada perasaan bertanya mengapa pengabdian yang begitu lama tidak mampu membawa mereka pada pengakuan formal yang lebih baik. Sementara itu, para murid yang telah menjadi ASN atau PPPK sering kali merasa serba salah. Mereka sangat menghormati gurunya dan tidak pernah berniat melangkah lebih jauh meninggalkan sosok yang dulu membimbingnya. Namun dinamika kehidupan membawa mereka pada posisi yang lebih mapan. Mereka bekerja dengan penuh hormat kepada guru senior yang tetap bertugas sebagai honorer. Ada momen-momen ketika murid yang kini berstatus ASN memberikan arahan kepada gurunya dalam hal administrasi atau teknologi, karena sistem menempatkan mereka dalam struktur yang berbeda. Situasi seperti ini tidak dapat dihindari dan kerap menimbulkan rasa canggung yang cukup mendalam.
Fenomena ini memperlihatkan kesenjangan generasi yang semakin tampak dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, guru muda hadir dengan inovasi, penguasaan teknologi, dan dinamika perkembangan zaman. Mereka mampu beradaptasi dengan cepat. Di sisi lain, guru senior membawa kebijaksanaan, kesabaran, dan pengalaman pedagogis yang tidak tergantikan. Sistem idealnya menempatkan kedua generasi ini dalam harmoni. Namun proses seleksi yang bersifat kompetitif sering kali menempatkan mereka pada posisi yang harus saling bersaing.
Kisah-kisah ini memunculkan pertanyaan besar tentang keadilan dan penghargaan dalam dunia pendidikan. Banyak pihak yang menyadari bahwa guru honorer bukan sekadar pekerja biasa. Mereka adalah penjaga peradaban, pilar penting dalam pembentukan karakter bangsa, dan teladan yang telah berperan dalam perjalanan hidup banyak siswa. Ketika guru seperti ini kalah dalam seleksi oleh mantan muridnya sendiri, ada rasa tidak adil yang menggelayut di benak masyarakat. Walaupun seleksi bertujuan untuk memastikan kualitas, banyak yang berharap agar pengalaman tidak hanya menjadi catatan kecil tetapi benar-benar menjadi pertimbangan utama. Beberapa wilayah sudah mulai merancang pelatihan intensif bagi guru honorer agar lebih siap menghadapi seleksi. Ada pula upaya menghadirkan pendampingan dalam penguasaan teknologi. Namun langkah ini belum merata. Banyak guru di daerah terpencil tidak memiliki akses memadai terhadap pelatihan digital. Mereka bergantung pada kemampuan belajar mandiri, yang tidak selalu berhasil ketika kemampuan dasar teknologi belum terbentuk dengan baik.
Fenomena ini tidak boleh dibiarkan menjadi cerita pilu yang terus berulang. Pengabdian seorang guru layak mendapatkan jalan yang lebih manusiawi. Sebuah negara yang menghargai pendidik harus mampu menciptakan mekanisme yang tidak hanya mengukur kecerdasan teknis, tetapi juga dedikasi dan jejak pengabdian. Guru yang telah puluhan tahun berdiri di depan kelas tidak pantas merasakan ketertinggalan dalam sesuatu yang seharusnya menjadi hak mereka. Pada akhirnya, fenomena guru yang tertinggal oleh muridnya sendiri bukan sekadar persoalan administrasi atau nilai tes. Ini adalah potret kompleks tentang perjalanan bangsa dalam menghargai pendidikan. Kisah-kisah ini mengingatkan kita bahwa menjadi guru berarti siap melihat murid melampaui dirinya. Namun negara pun seharusnya memastikan bahwa guru tidak tertinggal terlalu jauh, apalagi sampai merasa dilupakan.
Guru adalah sumber cahaya. Dan cahaya yang telah menerangi banyak jalan seharusnya tidak padam hanya karena tuntutan sebuah sistem yang terlalu kaku. Dunia pendidikan akan lebih indah jika cahaya itu dapat terus bersinar, berdampingan dengan cahaya baru yang lahir dari murid-muridnya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































