Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, pemuda masa kini hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Arus informasi yang bergulir tanpa henti membuat mereka selalu terhubung, tetapi sekaligus rentan terhadap tekanan sosial yang tidak terlihat. Media sosial tak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan citra diri yang sering kali tidak realistis. Kondisi inilah yang memicu munculnya fenomena FOMO (Fear of Missing Out) ketakutan untuk tertinggal dari apa yang dilakukan orang lain.
Data nyata menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. Menurut artikel oleh Ninuk Mardiana Pambudy di Kompas.id (2023), survei McKinsey Health Institute mengungkap bahwa lebih dari 50 persen responden dari semua generasi merasa sisi positif media sosial, tetapi Gen Z cenderung lebih khawatir akan “ketinggalan isu” (FOMO). Di antara Gen Z, 32% mengaku bahwa FOMO memengaruhi citra diri mereka dan menurunkan kepercayaan diri ini menunjukkan bahwa tekanan dari media sosial bukanlah sekadar ringan. Lebih jauh, riset dari Indonesia Indicator (I2) yang dikutip oleh Tutur Media menyatakan bahwa TikTok, platform yang sangat populer di kalangan pemuda, memiliki dampak psikologis signifikan. Dalam laporan tersebut, rata-rata pengguna menghabiskan 38 jam 26 menit per bulan di TikTok, dan banyak dari mereka mengalami kecemasan hingga gangguan tidur karena FOMO.
Sebuah survei tahun 2018 menyebutkan Indonesia berada di posisi kedua dengan persentase FOMO sebesar 39%. Lebih lanjut, 80% anak muda menghabiskan uang untuk menyesuaikan gaya hidup mereka di media sosial, sementara data dari OJK menunjukkan kerugian finansial akibat investasi ilegal melonjak hingga Rp112,2 triliun pada 2022, sebagian besar didorong oleh FOMO.Menurut Kompas, Gen Z merasa capek karena tren terus berubah sangat cepat dan media sosial “gemburan tren” membuat mereka merasa harus ikut terus.Kumparan membahas FOMO sebagai fenomena sosial budaya di kalangan Gen Z, bukan sekadar sesuatu personal.
Tekanan ini membuat pemuda merasa harus selalu mengikuti berbagai aktivitas, tren, dan pencapaian yang muncul di linimasa media sosial. Ketika melihat teman sebaya berprestasi atau menjalani hidup yang tampak lebih menarik, muncul rasa cemas dan takut kehilangan momen penting. Rasa takut inilah yang mendorong banyak pemuda untuk menyesuaikan diri dengan standar dunia maya, bukan berdasarkan kebutuhan pribadi. Pada akhirnya, mereka lebih fokus pada bagaimana terlihat baik di mata orang lain daripada menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Tekanan dari FOMO secara perlahan dapat memicu krisis identitas. Banyak pemuda mulai bingung tentang siapa mereka sebenarnya, apa nilai hidup yang mereka junjung, dan apa tujuan yang ingin mereka capai. Budaya perbandingan di media sosial membuat mereka merasa tidak cukup baik, tidak cukup sukses, dan selalu tertinggal. Akibatnya, kepercayaan diri menurun, muncul kecemasan berlebih, dan pemuda kehilangan arah dalam menentukan pilihan hidup.
Dampak krisis identitas juga terlihat dalam perilaku sosial. Pemuda menjadi lebih mudah terpengaruh oleh tren sesaat, mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan karakter mereka, atau bahkan mengambil keputusan hanya demi mendapatkan validasi dari orang lain. Ketergantungan pada pengakuan publik ini dapat menghambat perkembangan kepribadian yang autentik dan berpotensi menimbulkan tekanan mental yang lebih berat jika tidak segera disadari.
Menurut saya Untuk menghadapi masalah ini, pemuda perlu membangun kesadaran diri serta kedewasaan dalam menggunakan media sosial. Menyadari bahwa tampilan di dunia maya hanyalah sisi terbaik seseorang dapat membantu mengurangi tekanan perbandingan. Penting pula untuk memperkuat minat dan nilai hidup yang sesuai dengan jati diri, sekaligus membangun lingkungan pertemanan yang sehat dan mendukung. Dengan demikian, pemuda dapat menemukan identitas yang lebih stabil dan tidak mudah terombang-ambing oleh tren digital.
Sebagai mahasiswa PPKn, saya memandang bahwa FOMO dan krisis identitas pada pemuda muncul akibat rendahnya literasi digital dan lemahnya ketahanan karakter. Banyak pemuda mengikuti tren tanpa pertimbangan nilai sehingga kehilangan jati diri. Dalam perspektif PPKn, hal ini menunjukkan kurangnya kemampuan berpikir kritis dan pemahaman nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup. Karena itu, pemuda perlu dibekali pendidikan karakter, literasi digital, dan kesadaran berbangsa agar mampu mengenali diri, bersikap mandiri, dan tidak mudah terpengaruh tuntutan media sosial. Dengan penguatan nilai-nilai ini, pemuda dapat membangun identitas yang lebih stabil dan berkarakter.
Pada akhirnya, FOMO dan krisis identitas adalah tantangan nyata yang dihadapi generasi muda saat ini. Data menunjukkan betapa besarnya tekanan yang mereka alami, dan dampaknya jelas terlihat dalam psikologis maupun perilaku sosial. Namun dengan kesadaran diri, literasi digital berbasis nilai, dan pemahaman mendalam terhadap jati diri sebagai warga negara Indonesia, pemuda dapat belajar untuk berdiri lebih teguh dan tidak mudah terombang-ambing oleh dunia digital yang serba cepat. Identitas yang kuat tidak dibangun dari perbandingan, tetapi dari nilai, karakter, dan tujuan hidup yang mereka pilih sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































