Sekarang, smartphone sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari remaja dan mahasiswa. Namun, penggunaan smartphone yang berlebihan bisa mengakibatkan berbagai masalah Kesehatan, salah satunya gangguan tidur. Di sisi lain, penelitian membuktikan bahwa terlalu sering memakai smartphone bisa membuat orang lebih mudah cemas, stres, dan merasa sedih. Karena itu, Itu sebabnya kita perlu tau bagaimana smartphone bisa memengaruhi tidur dan kesehatan mental.
Afek adalah respon emosional yang bisa bersifat positif maupun negatif, seperti rasa senang, cemas, dan stress. Menggunakan smartphone yang berlebihan seringkali memperburuk afek negatif. Contohnya, ketergantungan pada media sosial dapat menyebabkan rasa cemas, iri hati, stress, bahkan depresi pada sebagian orang. Hal ini sejalan dengan pandangan Elhai et al. (2017) yang menunjukan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan berkaitan dengan tingkat kecemasan dan stress psikologis yang tinggi. Ketika seseorang mengalami peningkatan dalam afek negatif, Kemungkinan mengalami gangguan tidur juga meningkat.

Selain faktor emosional, cahaya biru yang dipancarkan
oleh layar smartphone juga menjadi penyebab gangguan tidur lainnya.
Cahaya biru dapat menurunkan produksi melatonin, hormon yang berperan dalam mengatur pola
tidur. Chang et al. (2015) menemukan bahwa penggunaan smartphone sebelum tidur dapat
menghambat munculnya rasa mengantuk serta menurunkan durasi dan kualitas tidur.
Keadaan ini membuat pengguna sering terjaga hingga larut malam dan merasakan kelelahan
di keesokan hari.

Dalam Indonesia, fenomena ini juga menjadi perhatian. Penelitian yang dilakukan oleh Wati dan Nursalam (2018) mengungkapkan bahwa mahasiswa yang menggunakan smartphone secara berlebihan mengalami kualitas tidur yang lebih buruk daripada mereka yang menggunakan smartphone secara berlebihan mengalami kualitas tidur yang lebih buruh daripada mereka yang menggunakannya dengan seimbang. Tidak nyamannya tidur ini meliputi kesulitan untuk tidur, sering terbangun di malam hari, serta rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari.
Penggunaan smartphone yang berlebihan juga berkaitan dengan meningkatnya rasa takut kehilangan informasi atau bahasa gaulnya FOMO (Fear Of Missing Out). Orang yang memiliki tingkat FOMO yang tinggi biasanya terus-menerus memeriksa smartphone mereka, bahkan saat menjelang tidur. Ini dapat menyebabkan peningkatan kecemasan dan memperburuk gangguan tidur (Przbylski et al. , 2013). Ketika gangguan tidur terus berlanjut, stabilitas afek (emosi) akan semakin terganggu dan terbenuk siklus masalah anatar emosi negatif dan tidur.
Dampak lain yang berkaitan dengan overstimulasi otak. Bermain game online, menonton video, atau scroll media sosial sebelum tidur membuat otak tetap terjaga. Wang et al. (2019) menjelaskan bahwa terlalu banyak stimulus digital meningkatkan aktivitas kognitif dan emosi, sehingga tubuh kesulitan untuk mulai merilekskan diri dan tidur. Akibatnya, kualitas tidur menurun dan memungkinkan munculnya gangguan kesehatan mental semakin tinggi.
Pengunaan smartphone sering kali dijadikan sebagai cara untuk pelampiasan emosi. Saat seseorang merasa sedih atau stress, ia cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dengan smartphone untuk mengalihkan perhatian. Namun, car aini malah bisa memperburuk mood dan kualitas tidur. Berdasarkan penelitian Panova dan Carbonell (2018), smartphone tidak sepenuhnya dapat berfungsi dengan baik sebagai alat untuk mengatur emosi dan justru dapat meningkatkan perasaan negatif dalam jangka Panjang.
Para ahli merekomendasikan penerapan kebiasaan yang lebih baik dalam menggunakan smartphone untuk mengatasi permasalahan ini. Salah satu Tindakan yang disarankan adalah membatasi durasi menggunakan smartphone, khususnya satu jam sebelum tidur. Meletakkan smartphone jauh dari tempat tidur juag dapat mengurangi keinginan uuntuk terus mengecek pesan atau media sosial. Selain itu, meningkatkan kegiatan fisik serta memperkuat interaksi sosial secara langsung diyakini dapat meningkatkan kesehatan emosional sekaligus kualitas tidur.
Secara keseluruhan, pengguna smartphone yang berlebihan sangat berkaitan dengan munculnya afek negatif dan gangguan tidur. Emosi negatif bisa memicu insomnia, sementara kualitas tidur yang buruk dapat memperburuk stress dan kecemasan. Oleh karena itu, meningkatnya kesadaran untuk mengatur penggunaan smartphone menjadi Solusi dalam menjaga keseimbangan kesehatan mental dan fisik.
Penggunaan smartphone secara berlebihan memiliki dampak langsung pada keadaan emosi dan kualitas tidur seseorang. Paparan cahaya biru, kecemasan akibat interaksi di media sosial, stimulus berlebihan pada otak, dan fenomena FOMO terbukti dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan tidur. Selain itu afek negatif yang muncul akibat penggunaan smartphone juga memperburuk kualitas tidur, sehingga menciptakan siklus yang saling memengaruhi. Oleh karena itu, pengaturan waktu dan kebiasaan dalam memanfaatkan smartphone menjadi sangat penting untuk menjaga kesehatan emosional dan kualitas tidur
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































