Di jaman yang hampir sepenuhnya berbasis teknologi digital, hubungan romansa pun bisa dilakukan dengan produk teknologi itu sendiri. Belakangan ini AI tidak hanya digunakan sebagai alat yang membantu untuk mencari informasi dan belajar, tetapi AI pun kini digunakan sebagai alat yang memenuhi kebutuhan manusia akan afeksi. Berbagai aplikasi berbasis AI mulai dari chatbot, karakter virtual, hingga companion app, menjadi tempat sebagian orang menjalim hubungan yang mirip dengan pacaran. Dimana dalam hubungan tersebut ada keterikatan emosional, perasaanyang divalidasi dan dimengerti, bahkan rasa kehilangan bila interaksi berkurang, atau jika terjadi pertengkaran. Risalah ini meninjau mengapa bentuk hubungan tersebut dapat muncul dan bagaimana otak memproses kedekatan digital dengan cara yang sama seperti kedekatan fisik.
Fenomena ini bermula dari maraknya penggunaan AI seperti chatGPT. Dengan kemampuannya untuk memahami dan memberikan respons berdasarkan konteks, ChatGPT sering digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk mencari solusi atas masalah, berbagi cerita, atau bahkan mendapatkan dukungan emosional (Kurniati, Fili, Rahman., 2025). Dengan fakta ini muncullah ide untuk menjadikan AI sebagai teman yang memiliki sifat sesuai dengan apa yang diinginkan pengguna. Chatbot pendamping menampilkan diri sebagai manusia dengan kepribadian dan emosi yang dapat disesuaikan oleh pengguna, sehingga meningkatkan kepuasan pengguna dan memenuhi kebutuhan mereka (Demeure et al., 2011).

Dalam neurosains, “keterikatan” dijelaskan melalui interaksi beberapa sistem biologis, terutama oksitosin, vasopresin, dopamin, dan jaringan otak sosial seperti sistem limbik dan korteks prefrontal. Hubungan fisik seperti sentuhan, kontak mata, belaian, atau aktifitas bersama dapat memicu pelepasan oksitosin. Namun, Menurut Bickmore & Picard (2005) Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa manusia mampu membentuk hubungan dengan mesin atau computer. Secara mendasar, sistem emosi manusia bekerja berdasarkan pola sosial, bukan esensi biologis dari lawan interaksi. Otak manusia tidak memiliki detektor bawaan untuk membedakan apakah stimulus berasal dari manusia, hewan, atau entitas buatan. AI yang kini sudah didesain sebagai “teman” dapat memenuhi kebutuhan manusia akan keintiman dan keterikatan.
Ketika individu kurang melakukan interaksi sosial, merasakan kesepian, dan juga terisolasi, mereka akan mulai mencari kenyamanan dan hubungan dalam bentuk apapun, termasuk hubungan dengan sesuatu yang bersifat rekayasa atau buatan. AI yang merespons dengan memberikan perhatian, konsistensi, balasan percakapan yang hangat dan personal, menciptakan kondisi yang menimbulkan rasa nyaman dan diterima. Akibatnya, kebutuhan akan kasih sayang ini terpenuhi dan berkembang sebagai ikatan emosional terhadap AI yang sebanding dengan ikatan hubungan antarmanusia.
Jika dilihat dari satu sisi, hubungan dengan AI ini pun dapat memberikan dampak yang positif jika pengguna masih memahami batasan yang mereka miliki. AI memberikan stabilitas emosional, rasa diterima tanpa syarat, dan ruang aman bagi individu yang kesulitan menjalin hubungan antarmanusia, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif, mengurangi kesepian, dan membantu regulasi emosi jangka pendek. Vandhika & Sahrani (2025) menyebutkan, chatbotAI menunjukkan sebuah peluang dan inovasi yang dapat membantu individu dalam mengembangkan keterampilan sosial dan interaksi mereka, meskipun hal ini dapat menjadi negatif jika digunakan secara berlebihan.
Penggunaan yang berlebihan ini akan menimbulkan ketergantungan afektif, dimana AI selalu responsif, kooperatif, dan tidak pernah menolak. Hal tersebut dapat menciptakan standar keintiman yang tidak realistis ketika diterapkan pada hubungan antarmanusia. Ketergantungan ini dapat mengurangi motivasi individu untuk membangun relasi nyata yang lebih kompleks tetapi lebih sehat secara sosial. Penggunaan secara berlebih juga menyebabkan delusi kelekatan, kesulitan membedakan hubungan “palsu” dan hubungan aktual. Dengan demikian, fenomena pacaran dengan AI adalah ruang di mana manfaat emosional jangka pendek berpotensi berbenturan dengan risiko psikososial jangka panjang.
Perasaan cinta terhadap AI ini bukanlah hal yang palsu, melainkan objek yang menerima cinta tersebutlah yang palsu. Nilai emosional sebuah relasi, dalam konteks ini cinta, tergantung pada pengalaman subjektif, bukan karakter objeknya. Dengan ini, kemampuan manusia untuk membangun hubungan romantis dengan AI bukanlah hal aneh jika dilihat dari beberapa faktornya. Otak manusia merespons pola, bukan bentuk atau wujudnya. Kehangatan, kehadiran, dan perhatian yang diberikan oleh AI dapat mendorong tumbuhnya cinta bahkan di antara piksel dan algoritma.
DAFTAR PUSTAKA
Bickmore T. W., & Picard R. W. (2005). Establishing and maintaining long-term human computer relationships. ACM Transactions on Computer-Human Interaction (TOCHI), 12(2), 293–327. https://doi.org/10.1145/1067860.1067867
Demeure, V., Niewiadomski, R. & Pelachaud, C. (2011). How is believability of a virtual agent related to warmth, competence, personification, and embodiment?.Presence: Teleoperators & Virtual Environments, 20(5), 431–448. https://doi.org/10.1162/PRES_a_00065
fili, mantri kromo, Kurniati, N., & Rahman, M. (2025). Komunikasi Interpersonal di Era Digital: Tantangan dan Dampak Chat GPT. Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Communique, 7(2), 263-268. https://doi.org/https://doi.org/10.62144/jikq.v7i2.503
Vandhika, S., & Sahrani, R. (2025). Chatting Away Loneliness: Embracing New Connections Between Humans and Artificial Intelligence. INSAN Jurnal Psikologi Dan Kesehatan Mental, 10(1), 1–20. https://doi.org/10.20473/jpkm.v10i12025.1-20
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”

































































