Inovasi Pembelajaran IPAS di MIS Al-Musthofa Melalui Projek Rangka Manusia dari Bahan Bekas
Garut, 05 November 2025 — Dunia pendidikan terus berkembang seiring dengan tuntutan zaman, dan salah satu kunci keberhasilan dalam proses belajar mengajar adalah kreativitas guru dalam menghadirkan pembelajaran yang menarik dan bermakna. Hal inilah yang dilakukan oleh Ibu Hefi Ferawati, S.Pd, salah satu guru inspiratif di MIS Al-Musthofa, yang dikenal selalu berinovasi dalam menciptakan suasana belajar yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Sebagai wali kelas VI, Ibu Hefi senantiasa mencari cara agar siswanya tidak sekadar memahami materi pelajaran, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar. Salah satu inovasi menarik yang baru-baru ini ia lakukan adalah memanfaatkan kardus bekas dan sedotan plastik untuk membuat projek rangka manusia dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Projek ini muncul dari ide sederhana namun bermakna. Menurut Ibu Hefi, banyak benda di sekitar yang sering dianggap tidak berguna atau bahkan dibuang begitu saja, padahal jika diolah dengan kreativitas, benda tersebut bisa menjadi media belajar yang efektif dan ramah lingkungan. “Saya ingin anak-anak belajar bahwa tidak semua benda yang kita anggap sampah itu benar-benar tidak berguna. Kardus dan sedotan misalnya, bisa kita olah menjadi alat peraga rangka manusia yang menarik dan mudah dipahami. Selain belajar IPAS, anak-anak juga belajar tentang pentingnya menjaga lingkungan,” tutur Ibu Hefi saat ditemui setelah kegiatan berlangsung.
Dalam kegiatan tersebut, siswa tampak sangat antusias. Mereka bekerja dalam kelompok, memotong kardus, menempelkan sedotan, dan menyusun bentuk rangka tubuh manusia secara utuh. Proses ini tidak hanya melatih pemahaman konsep tentang fungsi tulang dan bagian-bagian rangka manusia, tetapi juga menumbuhkan keterampilan motorik halus, kreativitas, dan kerja sama tim. Ibu Hefi menjelaskan bahwa pendekatan pembelajaran seperti ini merupakan bagian dari upayanya untuk mewujudkan Joyful Learning, yakni pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan emosi positif siswa. “Kalau anak-anak merasa senang saat belajar, mereka akan lebih cepat memahami materi. Apalagi kalau mereka bisa memegang langsung, membuat, dan melihat hasil karya mereka sendiri,” tambahnya dengan senyum bangga.
Lebih dari sekadar pembelajaran sains, kegiatan ini juga mengajarkan nilai-nilai karakter, seperti kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab sosial. Dengan menggunakan bahan bekas seperti kardus dan sedotan, siswa diajak untuk lebih peka terhadap masalah sampah plastik yang banyak mencemari lingkungan. Mereka belajar bahwa dengan kreativitas, benda bekas bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai edukatif tinggi.
Kepala Madrasah Ibu Neti Maryati, S.Pd.I, memberikan apresiasi yang tinggi atas inovasi yang dilakukan oleh Ibu Hefi. Ia menilai bahwa kreativitas semacam ini merupakan wujud nyata dari guru yang berdedikasi dan berorientasi pada kualitas pembelajaran. “Ibu Hefi memang selalu punya ide yang gemilang. Beliau tidak pernah kehabisan cara untuk membuat kegiatan belajar menjadi menarik. Apa yang beliau lakukan ini bukan hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga memberikan teladan tentang kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Ibu Neti dengan bangga.
Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran berbasis projek seperti ini sangat sejalan dengan kurikulum yang diterapkan di madrasah, yang menekankan pada pengalaman belajar langsung dan pengembangan kompetensi abad ke-21, seperti berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.
Salah satu siswa kelas VI mengungkapkan bahwa kegiatan membuat rangka manusia dari kardus dan sedotan sangat menyenangkan. “Saya senang bisa bikin sendiri. Dulu saya cuma lihat gambar rangka di buku, tapi sekarang saya tahu bentuknya seperti apa. Ternyata belajar bisa seru juga,” ucapnya dengan senyum lebar sambil menunjukkan hasil karyanya.
Melalui inovasi sederhana namun bermakna ini, Ibu Hefi Ferawati, S.Pd telah membuktikan bahwa guru kreatif mampu mengubah pembelajaran menjadi pengalaman yang hidup dan berkesan. Dengan memanfaatkan bahan bekas yang ada di sekitar, ia tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan dan semangat untuk berpikir kreatif.
Kegiatan ini menjadi inspirasi bagi guru-guru lain di MIS Al-Musthofa untuk terus berinovasi dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, relevan, dan menyenangkan. Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya tentang mengajarkan pengetahuan, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran, karakter, dan kepedulian terhadap dunia di sekitar kita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































