Di tengah hidup yang serba cepat, kesehatan mental sering kali menjadi bagian dari diri kita yang terluka paling diam-diam. Kita hidup dalam kultur yang menuntut setiap orang untuk terlihat kuat, seolah lelah adalah sesuatu yang memalukan dan kesedihan harus selalu disembunyikan rapat-rapat. Banyak dari kita terbiasa menahan napas panjang di tengah tekanan, tetapi tetap mengatakan “aku baik-baik saja” hanya karena takut dianggap tidak mampu. Padahal, tidak ada yang lebih manusiawi selain mengakui bahwa kita sedang berantakan.
Masyarakat kita masih memuji orang yang tampak tahan banting, dan karena itu kita tumbuh dengan keyakinan bahwa memendam adalah pilihan paling aman. Kalimat seperti “jangan dipikirkan” atau “kamu harus kuat” sering terdengar sederhana, tetapi perlahan membuat kita meragukan perasaan sendiri. Kita menjadi ahli dalam menyembunyikan luka: dari tekanan pekerjaan, tuntutan keluarga, perbandingan di media sosial, hingga trauma masa lalu yang kembali muncul tanpa permisi. Luka-luka itu memang tak terlihat, tetapi diam-diam menggerogoti semangat, menguras energi, dan membuat kita mempertanyakan nilai diri sendiri.
Kelelahan emosional bukanlah tanda kurang bersyukur, dan merasa tidak baik-baik saja bukanlah sebuah kelemahan. Justru masalah terbesar sering muncul ketika kita memaksa diri untuk terus berjalan tanpa pernah berhenti. Kita menyalahkan diri sendiri karena tidak produktif, karena tidak bisa memenuhi ekspektasi, atau karena tidak selalu terlihat bahagia. Kita lupa bahwa manusia memiliki batas, dan batas itu bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Kerapuhan bukan dosa; ia adalah bagian dari keberadaan kita.
Merawat kesehatan mental bukan berarti egois. Kadang justru itu adalah bentuk keberanian. Berhenti sejenak, menjauh dari hal-hal yang membuat sesak, atau meminta bantuan bukanlah tanda menyerah. Itu adalah cara sederhana untuk menyelamatkan diri sendiri sebelum semuanya terlambat. Kita tidak harus selalu kuat, tidak harus selalu tersenyum, tidak harus selalu terlihat tangguh supaya diterima. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri bahwa ada saat-saat ketika kita membutuhkan ruang untuk bernapas.
Pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah sekadar isu yang muncul di media sosial atau tren yang datang dan pergi. Ia adalah bagian penting dari diri kita yang menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Mungkin sudah waktunya kita berhenti berpura-pura baik-baik saja, mulai mendengarkan apa yang hati coba sampaikan, dan menerima bahwa meminta pertolongan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk paling nyata dari keberanian. Karena tidak ada manusia yang kuat setiap hari, dan itu sepenuhnya wajar.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































