Di warung kopi pojok desa, sambil nunggu gorengan matang dan kopi hitam agak dingin dikit biar gak gosong lidah, obrolan warga mulai “berat”—ya, berat di angka, bukan di pikiran 😄
“Eh, kalian udah dengar belum?” kata si Ujang sambil nyeruput kopi. “Tanggal 1 April 2026 itu lho, keluar aturan baru dari Kementerian Keuangan. Namanya panjang banget, kayak judul sinetron—intinya soal duit desa buat bangun gerai, gudang, sama perlengkapan koperasi Merah Putih.”
“Lah, 1 April? Jangan-jangan April Mop?” celetuk Mang Asep. Semua ketawa, tapi ketawanya agak pahit.
Ternyata bukan bercanda. Aturan baru itu mengganti aturan lama. Dulu yang minjem duit katanya koperasi desa, sekarang malah diganti jadi perusahaan—PT Agrinas Pangan Nusantara. Warga langsung saling pandang, “Oh… jadi kita yang nyicil, tapi yang minjem siapa?”
“Canggih ya,” kata Pak RT pelan, “kita yang punya hajatan, tapi tetangga yang ngundang tamu.”
Nah, yang bikin makin menarik—atau bikin kening berkerut—itu soal angkanya. Satu koperasi bisa “dikasih kesempatan” pinjaman sampai 3 miliar. Bunganya 6% setahun, dicicil 6 tahun.
“Enam tahun, cuy…” kata si Ujang sambil ngitung pakai jari. “Itu mah satu periode kepala desa lewat, cicilan masih nongkrong.”
Yang lebih seru lagi, bayarnya pakai dana desa tiap tahun. Jadi ya… otomatis, dana desa yang biasanya buat jalan, irigasi, atau kegiatan warga, sekarang harus berbagi cinta sama cicilan.
Kabarnya sih, buat tahun 2026 aja, sekitar 58,03% dana desa dipakai buat bayar angsuran itu.
“Berarti kalau mau bangun jalan, ya sabar dulu ya… jalan kita ikut nyicil juga,” kata Mang Asep sambil ngakak tipis.
Tapi ya namanya juga harapan, tetap ada. Katanya kalau koperasi ini jalan bagus, untungnya bisa balik ke desa. Minimal 20% masuk jadi pendapatan asli desa.
“Kalau beneran jalan sih enak,” kata Pak RT, “desa bisa hidup, ekonomi muter, warga sejahtera.”
“Iya… kalau jalan,” timpal yang lain.
Soalnya warga juga paham, ini program dari atas—bukan dari hasil rembug di bale desa. Istilah kerennya top-down. Bahasa warung kopinya: “dikasih paket, tinggal nerima… mau siap atau belum.”
Akhirnya obrolan ditutup dengan kesimpulan khas warga:
“Ya semoga aja ini bukan jadi bangunan megah yang nanti cuma jadi tempat foto-foto sama tempat berteduh kambing pas hujan.”
Semua diem sebentar… lalu ketawa lagi.
Kopi pun habis, tapi pertanyaan masih tersisa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































