Sebagai seorang dosen yang telah bertahun-tahun berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya sering mengamati bagaimana praktik-praktik di tingkat sekolah dasar membentuk fondasi sosial siswa. Salah satu momen yang tampak sepele, namun kerap menjadi bahan refleksi kritis, adalah ritual pertanyaan “Liburan ke mana?” di hari pertama sekolah.
Pertanyaan itu berkelebat di ruang kelas, di koridor, seolah menjadi pembuka percakapan yang wajar. Namun, di balik niat baik untuk mencairkan suasana, tersimpan potensi dampak yang tidak kecil. Dalam perspektif pedagogis—ilmu mendidik—pertanyaan ini justru kerap menjadi contoh kecil bagaimana ruang pendidikan tanpa sadar dapat menjadi medan pertaruhan harga diri dan penanda kesenjangan.
Pertama, pertanyaan ini mengabaikan realita pluralitas ekonomi dan sosial. Asumsi bahwa semua anak memiliki akses pada “liburan” dalam pengertian pergi ke suatu tempat adalah keliru. Bagi banyak keluarga, liburan adalah kata lain untuk bertahan di rumah, membantu orang tua, atau bahkan menghadapi situasi keluarga yang sulit—sakit, kehilangan, atau konflik. Memaksa anak untuk bercerita tentang sesuatu yang tidak mereka alami, atau justru mengingatkan mereka pada ketiadaan itu, adalah bentuk ketidakpekaan yang dapat melukai harga diri mereka. Anak-anak yang tidak punya cerita “wah” untuk dibagikan bisa merasa minder, terpinggirkan, dan sejak dini belajar bahwa ada “standar” kesenangan yang tidak mampu mereka raih.
Kedua, pertanyaan tersebut secara tidak langsung menggeser fokus pendidikan dari pembelajaran ke konsumsi. Ketika cerita berputar pada destinasi mahal, tiket pesawat, atau hotel mewah, yang terjadi adalah pameran kapital simbolik. Ruang kelas, yang seharusnya menjadi tempat penyamaan hak dan kesempatan belajar, justru berubah menjadi ajang perbandingan materi. Nilai seorang anak menjadi tidak lagi diukur dari semangat belajarnya, tetapi dari kemewahan pengalaman liburannya. Ini adalah awal dari pembentukan mentalitas konsumtif dan pengukuran diri berdasarkan materi.
Ketiga, kita lupa bahwa tidak semua kenangan liburan itu indah. Bagi sebagian anak, periode liburan mungkin diasosiasikan dengan trauma, kehilangan, atau kecemasan. Pertanyaan yang tampak ringan bisa menjadi pemicu yang membuka luka emosional tanpa disadari oleh guru maupun teman sekelas. Seorang pendidik yang bijak harus menciptakan ruang aman secara psikologis, bukan justru membuka kotak Pandora tanpa persiapan.
Lalu, sebagai pendidik, apa alternatif yang bisa kita tawarkan? Tugas kita bukan menghapus momen berbagi, tetapi mengalihkannya ke ranah yang lebih konstruktif dan inklusif. Beberapa pertanyaan pengganti yang telah terbukti efektif adalah:
· “Hal baik apa yang kamu lakukan selama liburan?”
· “Kebiasaan baik apa yang ingin kamu lanjutkan atau mulai di semester ini?”
· “Apa yang paling kamu syukuri selama waktu liburan kemarin?”
· “Ceritakan satu momen sederhana di rumah yang membuatmu merasa senang.”
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memiliki beberapa keunggulan mendidik:
1. Inklusif: Semua anak bisa menjawabnya, terlepas dari kondisi ekonomi atau pengalaman liburan mereka.
2. Memfokuskan pada nilai dan karakter: Alih-alih konsumsi, pertanyaan ini mengajak anak merefleksikan kebaikan, rasa syukur, dan tanggung jawab.
3. Membangun emosi positif: Pertanyaan ini mendorong anak mengingat hal-hal baik, sekecil apa pun, sehingga menciptakan awal semester yang optimis.
4. Menjaga kerahasiaan dan keamanan psikologis: Anak tidak dipaksa membagi pengalaman yang mungkin privat atau menyakitkan.
Pendidikan yang humanis dimulai dari kesadaran akan kekuatan kata-kata. Sebuah pertanyaan yang tampak biasa bagi kita, bisa jadi adalah beban besar bagi seorang anak. Hari pertama sekolah seharusnya menjadi pintu masuk menuju komunitas belajar yang aman, setara, dan penuh semangat. Mari kita ganti pertanyaan “Liburan ke mana?” dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendidik, lebih peka, dan lebih memanusiakan. Karena pada hakikatnya, tugas utama seorang pendidik bukan hanya mengajar kurikulum, tetapi juga menjaga hati dan martabat setiap anak yang dipercayakan pada kita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































