BOJONEGORO – Di tengah hiruk-pikuk tren kuliah tinggi bagi generasi Z, seorang pemuda asal Desa Sumbertlaseh menunjukkan taringnya di dunia nyata. M. Hery Isaifudin, pemuda kelahiran 4 Agustus 2006, sukses menjadi perbincangan hangat setelah berhasil mengumpulkan aset Rp100 juta pertamanya di usia yang baru menginjak 20 tahun.
Hery bukanlah anak pengusaha besar. Ia adalah putra kebanggaan pasangan Bapak Mustaqim dan Ibu Siti Cholifah yang tinggal di RT 11 RW 01, Sumbertlaseh, Dander. Namun, mentalitasnya dalam bekerja disebut-sebut melampaui rata-rata pemuda seusianya.
Pilih “Banting Tulang” Daripada “Banting Buku”
Lulusan MA Abu Darrin ini mengambil langkah tidak populer setelah lulus sekolah. Saat mayoritas rekan seangkatannya berbondong-bondong mendaftar universitas, Hery justru memilih terjun langsung ke lapangan sebagai Pelaksana Proyek.
“Pilihannya sempat dianggap tidak biasa, karena trennya sekarang semua harus kuliah. Tapi Hery membuktikan bahwa profesionalisme di lapangan kerja juga bisa menghasilkan kesuksesan finansial yang nyata,” ungkap salah satu kolega yang mengamati perkembangannya.
Rekam Jejak Pendidikan
Disiplin yang ia miliki tidak datang tiba-tiba. Hery melewati masa kecil di lingkungan pendidikan yang ketat:
TK Abu Darrin & MI Abu Darrin (Kelas 1-2).
SDN Sumbertlaseh 2 (Hingga lulus).
MTs & MA Abu Darrin.
Pondasi pendidikan agama dan karakter di Abu Darrin nampaknya membentuk Hery menjadi sosok pelaksana proyek yang jujur dan amanah, modal utama dalam memenangkan kepercayaan di industri konstruksi.
Inspirasi Bagi Generasi Muda
Keberhasilan Hery meraih angka 100 juta pertama bukanlah keberuntungan semata. Ini adalah hasil dari manajemen gaji yang ketat dan keberanian mengambil tanggung jawab besar sebagai pengawas lapangan. Dari pelosok Dander, Hery mengirimkan pesan kuat: bahwa kerja keras, doa orang tua, dan fokus pada tujuan adalah kunci utama kesuksesan, apa pun jalur yang dipilih.
Di Balik Angka 100 Juta: Peluh dan Air Mata M. Hery Isaifudin
Meraih Rp100 juta di usia 20 tahun terdengar sangat mentereng, namun bagi Hery, angka itu adalah simbol dari perjuangan yang tidak selalu indah. Menjadi seorang pelaksana proyek di usia muda berarti ia harus siap menghadapi realita lapangan yang keras.
Duka: Menjadi “Anak Bawang” di Tengah Senior
Salah satu tantangan terberat Hery adalah usia. Di dunia konstruksi, pengalaman adalah segalanya. Seringkali, Hery harus memimpin tukang atau mandor yang usianya jauh lebih tua darinya.
Tantangan Mental: Awalnya, tidak mudah bagi Hery untuk memberikan instruksi kepada mereka yang sudah puluhan tahun di lapangan. Ia harus belajar cara berkomunikasi yang tegas namun tetap sopan agar tetap disegani.
Melawan Cuaca: Saat teman-temannya mungkin sedang santai di ruangan ber-AC sambil kuliah, Hery harus berdiri di bawah terik matahari Bojonegoro yang menyengat atau berkutat dengan lumpur saat hujan deras demi memastikan proyek tetap berjalan sesuai jadwal.
Jauh dari Kehidupan Remaja: Hery harus mengorbankan waktu “nongkrong” atau bersenang-senang demi mengejar target proyek. Ada rasa sepi saat melihat teman sebayanya menikmati masa muda, namun ia sadar ada mimpi besar yang harus dibayar.
Suka: Kepuasan Melihat Bangunan Berdiri
Namun, segala lelah itu terbayar lunas oleh kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Kebanggaan Profesional: Ada kepuasan batin yang luar biasa saat melihat sebuah lahan kosong berubah menjadi bangunan megah berkat pengawasannya. Bagi Hery, setiap beton yang tertuang adalah bukti kemampuannya.
Kemandirian Finansial: Bisa membantu orang tua, Bapak Mustaqim dan Ibu Siti Cholifah, tanpa harus meminta adalah kebahagiaan tertinggi bagi Hery. Melihat senyum di wajah orang tua adalah bahan bakar utamanya untuk terus bekerja.
Relasi dan Ilmu Nyata: Setiap hari di proyek adalah “universitas kehidupan”. Hery belajar tentang negosiasi, manajemen material, hingga teknik konstruksi yang tidak didapatkan di buku teks mana pun.
“Kulit mungkin menghitam karena matahari, tapi masa depan harus tetap cerah. 100 juta pertama ini bukan akhir, tapi awal dari pembuktian bahwa anak Sumbertlaseh bisa mandiri!” — M. Hery Isaifudin
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































