Dalam dua dekade terakhir, dunia menyaksikan sebuah pergeseran besar dalam peta pendidikan tinggi global. Jika dahulu universitas-universitas elite didominasi Amerika Serikat dan Eropa Barat, kini China tampil sebagai kekuatan baru yang sulit diabaikan. Investasi besar-besaran negara itu pada riset, infrastruktur kampus, dan pengembangan sumber daya manusia telah mendorong banyak universitasnya merangsek ke jajaran atas pemeringkatan dunia.
Kebangkitan ini bukan proses instan. Sejak awal 2000-an, melalui proyek ambisius seperti Project 211, Project 985, hingga Double First-Class Initiative, pemerintah China secara sistematis mengucurkan dana triliunan yuan untuk memperkuat universitas riset. Hasilnya mulai tampak nyata: jumlah publikasi ilmiah melonjak, kolaborasi internasional meningkat, dan universitas seperti Tsinghua dan Peking University semakin diperhitungkan dalam bidang sains, teknologi, dan rekayasa.
Namun, di balik capaian kuantitatif tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah peningkatan peringkat identik dengan kualitas akademik yang mendalam? Kritik internasional kerap menyoroti isu kebebasan akademik, independensi riset, hingga tekanan politik dalam lingkungan kampus. Di sisi lain, ada pula perdebatan tentang orientasi publikasi. Apakah sekadar mengejar indeks dan sitasi, atau sungguh berkontribusi pada solusi masalah global ?.
Fenomena ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tinggi tidak hanya soal anggaran dan infrastruktur, melainkan juga ekosistem intelektual. China berhasil membuktikan bahwa komitmen negara dalam jangka panjang mampu mengubah lanskap akademik. Namun, keberlanjutan reputasi global tetap bergantung pada integritas ilmiah, keterbukaan kolaborasi, dan kebebasan berpikir.
Pergeseran Pusat Gravitasi Akademik
Data menunjukkan bahwa China kini menjadi salah satu produsen publikasi ilmiah terbesar di dunia, bahkan melampaui Amerika Serikat dalam jumlah artikel di jurnal internasional tertentu. Dalam bidang kecerdasan buatan, teknik material, dan energi terbarukan, kontribusi ilmuwan China semakin dominan.
Menariknya, kebangkitan ini juga disertai perubahan pola mobilitas mahasiswa. Jika dahulu mahasiswa terbaik China berbondong-bondong ke AS dan Eropa, kini banyak yang memilih tetap di dalam negeri karena kualitas universitas domestik semakin kompetitif. Bahkan, kampus-kampus China mulai menarik mahasiswa internasional melalui beasiswa strategis dan kerja sama riset lintas negara.
Perubahan ini menandakan pergeseran pusat gravitasi ilmu pengetahuan ke Asia. Dalam konteks geopolitik, pendidikan tinggi menjadi instrumen soft power yang efektif. Kampus tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi juga arena diplomasi, inovasi, dan persaingan teknologi.
Pelajaran bagi Indonesia
Bagi Indonesia, kebangkitan universitas China menghadirkan refleksi mendalam. Selama ini, reformasi pendidikan tinggi sering terjebak pada pendekatan administratif: akreditasi, peringkat, dan pemenuhan indikator kinerja. Padahal, transformasi sejati memerlukan visi jangka panjang dan keberanian berinvestasi pada riset fundamental.
Pertama, konsistensi kebijakan menjadi kunci. China menunjukkan bahwa pembangunan universitas kelas dunia memerlukan komitmen lintas rezim. Indonesia perlu memastikan bahwa agenda penguatan riset dan inovasi tidak berubah-ubah mengikuti dinamika politik.
Kedua, pendanaan riset harus dipandang sebagai investasi strategis, bukan beban anggaran. Negara-negara maju mengalokasikan persentase signifikan dari PDB untuk riset dan pengembangan (R&D). Tanpa dukungan dana yang memadai, sulit bagi universitas Indonesia bersaing dalam ekosistem global.
Ketiga, kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi utama. Program magister dan doktor semestinya dirancang bukan sekadar untuk memenuhi angka lulusan, melainkan membentuk peneliti independen, kritis, dan berintegritas. Budaya akademik yang menghargai kebebasan berpikir dan dialog ilmiah harus diperkuat.
Refleksi bagi Mahasiswa Master dan Doktor
Bagi mahasiswa magister dan doktor, dinamika global ini membawa pesan penting. Di era kompetisi ilmu pengetahuan, gelar akademik bukan lagi simbol status, melainkan tanggung jawab intelektual.
Pertama, orientasi riset perlu bergeser dari sekadar menyelesaikan tesis atau disertasi menuju kontribusi nyata pada pengembangan ilmu dan solusi kebijakan. Publikasi penting, tetapi substansi lebih utama. Riset yang baik lahir dari pertanyaan yang relevan dan metodologi yang kokoh.
Kedua, kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara menjadi kebutuhan. Dunia akademik semakin terhubung. Mahasiswa pascasarjana perlu membangun jejaring internasional, mengikuti konferensi global, dan aktif dalam komunitas ilmiah. Keberanian berdialog dengan perspektif berbeda akan memperkaya kualitas penelitian.
Ketiga, integritas akademik harus menjadi kompas utama. Tekanan untuk cepat lulus atau mengejar publikasi dapat menggoda sebagian pihak menempuh jalan pintas. Padahal, reputasi ilmiah dibangun dalam jangka panjang dan dapat runtuh seketika akibat pelanggaran etika.
Keempat, pentingnya literasi kebijakan dan dampak sosial. Riset yang baik tidak berhenti di jurnal, tetapi mampu memengaruhi praktik industri, kebijakan publik, atau pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa doktor khususnya perlu dilatih mengkomunikasikan temuan riset secara efektif kepada pemangku kepentingan non-akademik.
Menuju Ekosistem Akademik yang Seimbang
Kebangkitan universitas China memperlihatkan bahwa negara dapat memainkan peran sentral dalam membangun kekuatan ilmu pengetahuan. Namun, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah gedung megah atau peringkat global. Esensi universitas tetap pada pencarian kebenaran, kebebasan berpikir, dan keberanian mengkritisi status quo.
Indonesia memiliki potensi demografis dan kekayaan sumber daya yang besar. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan kebijakan, pendanaan, dan budaya akademik ke dalam satu visi besar: menjadikan universitas sebagai pusat inovasi dan peradaban.
Pada akhirnya, kualitas pendidikan tinggi ditentukan oleh manusia-manusia di dalamnya yaitu dosen, peneliti, dan mahasiswa. Jika mereka diberi ruang tumbuh, dukungan memadai, dan kebebasan intelektual, maka transformasi bukanlah utopia.
Kebangkitan China adalah cermin. Bukan untuk ditiru secara membabi buta, melainkan untuk direnungkan. Bahwa membangun universitas unggul membutuhkan visi, konsistensi, dan keberanian menjaga integritas ilmu. Dan bagi generasi magister serta doktor Indonesia, inilah momentum untuk mengambil peran sebagai arsitek masa depan pendidikan tinggi yang lebih bermakna.
*La Mema Parandy
**Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam di Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































