Artikel ini membahas bagaimana Al-Qur’ an dan hadis membentuk cara pandang Islam terhadap ilmu dan teknologi. Kedua sumber utama ajaran Islam ini tidak hanya. menjelaskan nilai moral, tetapi juga mendorong manusia untuk berpikir, meneliti, dan membangun kehidupan yang lebih baik. Al-Qur’ an memberi dasar teologis yang kuat tentang pentingnya akal, pengamatan, dan pencarian pengetahuan. Sementara itu, hadis menuntun umat islam agar menggunakan ilmu secara bijak, bermanfaat, dan tidak merugikan. Melalui nilai-nilai tersebut, Islam menempatkan perkembangan iptek sebagai bagian dari tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Artikel ini menjelaskan konsep dasar keilmuan dalam Islam, contoh praktik Rasulullah dalam menghargai ilmu, serta relevansi nilai wahyu terhadap iptek modern seperti teknologi digital, kecerdasan buatan, dan persoalan etika. Pada akhirnya, artikel ini menegaskan bahwa agama dan sains tidak saling bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam membangun peradaban yang seimbang.
Ketika orang berbicara tentang hubungan agama dan ilmu pengetahuan, sering muncul kesan bahwa keduanya berada di dua dunia yang berbeda. Ilmu dianggap rasional, sedangkan agama dianggap berdasar pada keimanan. Namun dalam tradisi Islam, keduanya saling melengkapi. Sejak awal turunnya wahyu, Al-Quran membawa pesan yang mendorong manusia untuk mengetahui dirinya, alam, dan sejarah. Islam tidak menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang sekadar pelengkap hidup, tetapi sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia.
Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah Iqra yang berarti membaca. Ini bukan. hanya perintah untuk membaca teks, tetapi dorongan untuk memahami alam dan bertanya tentang bagaimana sesuatu bekerja Rasulullah juga memberikan teladan. tentang bagaimana ilmu duniawi bisa berkembang melalui riset dan pengalaman. manusia. Sikap terbuka, kritis, dan memanfaatkan ilmu dari sumber mana saja menjadi ciri khas sejarah ilmiah Islam.
Artikel ini berupaya menjelaskan peran Al-Quran dan hadis dalam membentuk caral pandang Islam terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Pembahasannya meliputi fondasi konsep keilmuan dalam Islam, dorongan wahyu untuk mengembangkan pengetahuan, contoh penerapannya dalam sejarah, serta bagaimana nilai-nilai Islam relevan dalam perkembangan teknologi modern.
1. Konsep Ilmu dalam Al-Qur’ an
Al-Qur’an memberikan banyak gambaran tentang ilmu. Meskipun tidak menjelaskan iptek secara teknis, ia memberi prinsip umum yang menjadi dasar berkembangnya ilmu.
1.1. Perintah untuk membaca dan belajar
Wahyu pertama memuat pesan agar manusia membaca. Makna membaca dalam konteks ini lebih luas dari sekadar membaca tulisan, Allah mengajak manusia untuk membaca realitas, membaca fenomena alam, membaca sejarah, dan membaca dirinya sendiri. Sikap ini menjadi fondasi bagi kegiatan ilmiah yang menuntut kepekaan terhadap lingkungan dan keinginan untuk memahami sesuatu secara mendalam.
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan (QS. Al- Alaq (96):1).
1.2. Penggunaan akal sebagai kewajiban
Al-Qur’ an berulang kali menyebut pentingnya berpikir, Kata seperti apakah kamu tidak berpikir?”,” apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” dan bagi kaum yang berakal” muncul pada banyak ayat. Ini menunjukkan bahwa akal harus digunakan secara aktif. Metode ilmiah modern seperti observasi dan analisis pada dasarnya adalah cara manusia menggunakan akalnya.
Apakah kamu tidak memperhatikan?” atau “Bagi kaum yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]. 269, QS. Ali Imran (3): 190-191)..
1.3. Alam sebagai tanda yang harus diteliti
Fenomena alam dalam Al-Qur’ an disebut sebagai ayat. Ini memberi pesan bahwa alam. tidak berdiri sendiri. la merupakan tanda yang mengarahkan manusia pada keberadaan dan kebesaran Allah. Dengan mengamati alam, manusia dapat memahami hukum-hukum yang mengatur kehidupan. Ketika ilmuwan Muslim masa lalu melakukan eksperimen tentang astronomi, fisika, atau kedokteran, mereka menganggap kegiatan itu sebagai membaca ayat-ayat Allah yang terbentang di alam.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (QS. All Imran (3) 190)
2. Hadis dan Sikap Rasulullah terhadap Ilmu
Hadis memberi contoh konkret tentang bagaimana Rasulullah memperlakukan ilmu.. Beliau tidak memandang ilmu duniawi sebagai sesuatu yang kurang bernilai, tetapi sebagai pengetahuan yang bisa membantu kehidupan masyarakat.
2.1. Mencari ilmu sebagai kewajiban moral
Rasulullah mengatakan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Kata ilmu dalam konteks ini tidak terbatas pada ilmu agama. Semua pengetahuan yang membantu kehidupan manusia termasuk dalam kategori yang dianjurkan untuk dipelajari.
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah).
2.2. Menghargai keahlian dan riset manusia
Contoh yang sering disebut adalah ketika Rasul melihat petani kurma melakukan penyerbukan manual. Setelah memberi saran yang tidak menghasilkan panen baik, Rasul mengakui bahwa dalam urusan dunia, manusia lebih paham. Ini menunjukkan bahwa
pengetahuan praktis lahir dari pengalaman dan eksperimen. Dalam konteks modern, pesan ini relevan untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan empiris harus dihargai.
2.3. Menekankan manfaat dan menghindari mudarat
Rasulullah berdoa agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat. Pesan ini mengingatkan bahwa ilmu harus diarahkan pada kemaslahatan. Teknologi yang berkembang pesat perlu dipandu oleh nilai agar tidak menimbulkan kerusakan.
“Ya Allah, berikan aku ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan amal yang diterima (HR. Ibnu Majah),
3. Ilmu dan Teknologi sebagai Bagian dari Tugas Khalifah
Islam memandang manusia sebagai khalifah di bumi. Tugas ini berkaitan dengan kemampuan manusia untuk berpikir, mengelola alam, dan menciptakan teknologi.
3.1. Ilmu sebagai alat untuk mengelola kehidupan
Tanpa ilmu, manusia tidak dapat mengelola bumi. Teknologi hadir sebagai bagian dari usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam pandangan Islam, mengembangkan iptek adalah bagian dari menjalankan amanah.
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
3.2. Batasan moral dalam penggunaan iptek
Sebagai khalifah, manusia tidak bebas melakukan apa saja. Ada beberapa prinsip moral yang harus dipegang:
menjaga alam,
menghindari kerusakan,
berlaku adil,
dan menggunakan pengetahuan untuk kebaikan bersama.
Batasan ini membuat iptek tidak bisa dipisahkan dari etika.
4. Prinsip Keilmuan dalam Al-Qur’ an yang Sejalan dengan Sains Modern
Al-Qur’ an mengajak manusia meneliti alam dengan cara-cara yang akrab dengan metode ilmiah..
4.1. Observasi
Banyak ayat meminta manusia memperhatikan” fenomena alam seperti QS. Al-Ghashiyah [88]: 17-20 yang mengajak manusia meneliti perkembangan janin, Observasi adalah dasar pertama dalam penelitian ilmiah.
4.2. Pengujian dan bukti
Ayat-ayat tentang proses penciptaan dan struktur alam memberi ruang bagi eksperimen dan penelitian, misalnya QS. Al-Mulk [67]: 3-4 tentang penciptaan langit dan bumi. Paral ilmuwan Muslim mengembangkan metode uji coba yang kemudian menjadi fondasi sains modern.
4.3. Rasionalitas
Al-Qur’an memberi ruang bagi penggunaan akal untuk menemukan hubungan sebab-akibat. Ini sesuai dengan pola pikir ilmiah modern.
5. Perkembangan Iptek dalam Sejarah Islam
Cara pandang Islam terhadap ilmu terbukti berhasil melahirkan peradaban ilmiah. Pada masa keemasan islam, banyak tokoh menciptakan inovasi di berbagai bidang.
5.1. Bidang-bidang iptek yang berkembang
Beberapa contoh kemajuan yang muncul
astronomi,
kedokteran,
matematika,
optik dan fisika,
teknik dan rekayasa mekanik.
Tokoh seperti Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, Ibnu al-Haytham, dan Al-Jazari menjadi bukti bahwa dorongan islam terhadap ilmu melahirkan kemajuan nyata.
6. Relevansi Nilai Islam terhadap Iptek Kontemporer
Kemajuan teknologi modern membawa banyak peluang sekaligus tantangan. Nilai-nilai Islam membantu menata arah perkembangan ini.
6.1. Teknologi sebagai alat
Teknologi seharusnya membantu manusia, bukan menguasai manusia. Al-Qur’ an memberi panduan agar manusia tetap menjadi subjek yang bertanggung jawab atas ciptaannya (QS. Al-Baqarah [2]: 30).
6.2. Etika digital dalam dunia modern
Media sosial, data, dan ruang digital menuntut kedisiplinan moral. Prinsip menjaga lisan dalam hadis bisa diterapkan untuk menjaga apa yang kita unggah atau sebarkan.
6.3. Kecerdasan buatan dan tanggung jawab moral
Al menawarkan banyak peluang untuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Namun pengembangannya harus memperhatikan keadilan, privasi, dan keamanan. Nilai amanah dalam Islam memberi landasan moral untuk ini.
6.4. Teknologi medis
Rekayasa genetika, transplantasi organ, dan teknologi reproduksi menuntut pertimbangan etika. Prinsip menjaga jiwa dan martabat manusia menjadi pijakan penting dalam mengambil keputusan.
6.5. Ekologi dan krisis lingkungan
Al-Qur’ an menekankan keseimbangan alam (QS. Ar-Rum [30] 41). Teknologi harus digunakan untuk mengatasi kerusakan lingkungan, bukan menambah masalah.
7. Hubungan Saling Melengkapi antara Sains dan Wahyu
Islam tidak mempertemukan sains dan agama sebagai dua kutub yang bertentangan.
7.1. Sains menjelaskan proses alam
Sains memberi penjelasan teknis tentang bagaimana alam bekerja. Ini tidak mengurangi makna spiritualnya.
7.2. Wahyu memberi arah moral
Sains tidak menjelaskan tujuan dan nilai. Di sinilah wahyu memberi tuntunan agar ilmu digunakan secara bijak.
7.3. Keduanya bekerja pada level berbeda
Sains bertugas menjelaskan mekanisme. Wahyu menjelaskan makna dan etika. Keduanya berjalan seiring.
Al-Quran dan hadis memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang Islam terhadap ilmu dan teknologi, Wahyu tidak hanya mendorong manusia untuk belajar, tetapi juga mengarahkan agar ilmu digunakan secara bijak. Rasulullah memberi contoh bagaimana pengetahuan duniawi berkembang melalui riset dan pengalaman manusia. Islam menempatkan teknologi sebagai alat yang harus dimanfaatkan untuk keadilan, kemaslahatan, dan kelestarian alam. Pada akhirnya, hubungan antara sains dan wahyu dalam Islam bersifat saling melengkapi. Sains membantu manusia memahami proses alam, sementara wahyu memberi arah moral agar teknologi tidak merusak kehidupan. Pandangan ini membuat iptek bukan sekadar alat teknis, tetapi bagian dari ibadah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































