Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal. Globalisasi membawa berbagai kemajuan, terutama dalam bidang teknologi, informasi, dan budaya populer yang mudah diakses oleh semua kalangan. Namun, jika tidak disikapi secara bijak, globalisasi juga dapat mengikis nilai-nilai budaya lokal yang telah lama menjadi identitas bangsa. Oleh karena itu, pendidikan menjadi garda terdepan dalam menanamkan kesadaran akan pentingnya kearifan lokal kepada generasi muda.
Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan jati diri peserta didik. Melalui pendidikan, siswa diperkenalkan dengan sejarah daerah, adat istiadat, bahasa daerah, kesenian tradisional, serta nilai-nilai luhur yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Ketika nilai-nilai tersebut diajarkan sejak dini, peserta didik tidak hanya memahami secara teori, tetapi juga mampu menghayati dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kearifan lokal tidak sekadar menjadi warisan masa lalu, melainkan tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.
Peran guru sangat menentukan dalam proses pelestarian kearifan lokal melalui pendidikan. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan bagi peserta didik. Melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, guru dapat mengaitkan materi pelajaran dengan budaya lokal yang ada di sekitar siswa. Misalnya, dalam pembelajaran bahasa, guru dapat menggunakan cerita rakyat daerah sebagai bahan ajar. Sementara itu, dalam pelajaran seni dan budaya, siswa dapat dikenalkan pada tarian, musik, atau kerajinan tradisional daerah setempat. Pendekatan ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dekat dengan realitas kehidupan siswa.
Selain melalui kegiatan pembelajaran di kelas, pendidikan juga dapat mendukung pelestarian kearifan lokal melalui kegiatan ekstrakurikuler dan program berbasis budaya. Kegiatan seperti sanggar seni, pentas budaya sekolah, hingga kunjungan ke situs sejarah memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Pengalaman tersebut mampu menumbuhkan rasa bangga, kepedulian, serta tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya.
Di era digital saat ini, pengaruh budaya asing sangat mudah masuk melalui media sosial dan berbagai platform digital. Oleh karena itu, pendidikan harus membekali peserta didik dengan sikap selektif dan kritis dalam menyikapi globalisasi. Globalisasi tidak perlu ditolak, tetapi harus disaring agar tidak menghilangkan nilai-nilai lokal yang menjadi identitas bangsa. Dengan pendidikan yang berakar pada budaya sendiri, generasi muda diharapkan mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan jati diri dan karakter bangsa.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































