Dalam Islam, pembicaraan tentang ilmu bukanlah tema pinggiran. Ia adalah jantung peradaban. Sejak awal turunnya wahyu, Allah ﷻ telah menegaskan bahwa kebangkitan manusia dimulai dari kesadaran intelektual. Risalah kenabian tidak dibuka dengan perintah berperang, bukan pula dengan perintah mengumpulkan kekayaan, tetapi dengan satu kata yang sarat makna: membaca.
Dalam Surah Al-‘Alaq ayat pertama Allah berfirman:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Perintah ini menunjukkan bahwa jalan perubahan dimulai dari ilmu. Membaca bukan sekadar aktivitas melihat huruf, tetapi proses memahami, merenungi, dan menalar. Perintah tersebut menjadi simbol bahwa umat ini dibangun di atas fondasi pengetahuan.
Kemuliaan ilmu juga ditegaskan dalam firman Allah pada Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu. Artinya, ukuran kemuliaan dalam Islam bukan terletak pada harta, jabatan, atau popularitas, tetapi pada kualitas iman dan kedalaman ilmu. Seseorang dihormati bukan karena kekayaannya, melainkan karena manfaat ilmunya.
Lebih jauh lagi, sebelum Nabi Adam عليه السلام diturunkan ke bumi, Allah terlebih dahulu membekalinya dengan pengetahuan. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 31 disebutkan:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
Ini adalah isyarat yang sangat kuat bahwa ilmu merupakan bekal utama manusia dalam menjalani kehidupan. Allah tidak memberikan Adam harta atau kekuasaan sebagai modal awal, melainkan ilmu. Dengan ilmu, manusia mampu mengenali potensi, memahami lingkungan, serta membangun peradaban.
Rasulullah ﷺ pun menegaskan urgensi menuntut ilmu dalam sabdanya:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Hadis ini mengandung kabar gembira bahwa setiap langkah menuju majelis ilmu, setiap usaha memahami ajaran agama, dan setiap proses belajar yang dilakukan dengan niat yang benar, akan menjadi jalan yang dimudahkan menuju surga. Ilmu bukan sekadar alat berpikir, tetapi juga sarana mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, pentingnya ilmu terasa sangat nyata. Seseorang tidak akan mampu menunaikan shalat dengan benar tanpa memahami rukun dan syaratnya. Ia tidak dapat menunaikan zakat tanpa mengetahui ketentuannya. Ia tidak dapat menjalankan puasa secara sempurna tanpa memahami hukum-hukumnya. Ilmu menjadi penuntun agar ibadah tidak sekadar ritual, tetapi bernilai dan sah.
Para ulama pun memberikan penegasan yang sama. Imam Syafi’i رحمه الله pernah mengatakan:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Ungkapan ini menegaskan bahwa ilmu adalah kunci segala pencapaian. Keberhasilan dalam dunia membutuhkan pengetahuan dan keahlian. Keselamatan akhirat pun memerlukan pemahaman agama yang benar. Bahkan ketika seseorang menginginkan keseimbangan antara keduanya, jalannya tetap sama: ilmu.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini semakin relevan. Dunia bergerak cepat, kompetisi semakin ketat, dan tantangan semakin kompleks. Tanpa ilmu, seseorang akan tertinggal. Namun Islam juga mengajarkan bahwa ilmu harus disertai iman dan akhlak, agar tidak kehilangan arah dan nilai.
Akhirnya, dapat ditegaskan bahwa ilmu adalah pondasi kemuliaan manusia. Ia mengangkat derajat, membimbing amal, dan membuka pintu keberhasilan. Dunia dapat diraih dengan ilmu, akhirat pun dicapai dengan ilmu. Maka menuntut ilmu bukan hanya kewajiban moral, tetapi kebutuhan mendasar bagi setiap individu yang ingin hidup bermakna dan bermanfaat.
Oleh: Misbahul Ulum, S.E
Misbahul Ulum, S.E / Materi Kuliah Subuh
Masjid Nur Al-Mashduqiah
Jumat, 27 Februari 2026
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































