πΌπΎππ πππππππ β Paparan masif konten di platform media sosial TikTok kini menjadi sorotan utama di balik pergeseran pola perilaku konsumtif kalangan remaja, khususnya di Kabupaten Aceh Singkil. Fakta ini terungkap melalui sebuah riset akademis yang mengkaji korelasi antara intensitas penggunaan media sosial dengan gaya hidup belanja remaja berusia 15-19 tahun di wilayah tersebut.
βPenelitian ini dilakukan oleh tim akademisi yang terdiri dari Rahmawan Cibro, M.I.Kom., M. Suhadi, M.I.Kom., Rizki Firmansyah, M.Kom., dan Alex Rikki Sinaga, M.Si.
βπ ππππ ππ£ πΌπ‘ππ€π§ππ©π’π πππ£ πππ£ππ§π€π’ ππππ
Menurut hasil riset tersebut, algoritma For You Page (FYP) yang sangat terpersonalisasi, dipadukan dengan gencarnya endorsement dari para kreator konten, telah merombak drastis psikologi belanja remaja. Kehadiran fitur TikTok Shop dan kemudahan sistem pembayaran di tempat atau Cash on Delivery (COD) menjadi katalis utama yang mendorong remaja di daerah melakukan pembelian impulsif tanpa pertimbangan matang.
βLebih lanjut, tim peneliti menyoroti kuatnya pengaruh sindrom Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren. Kondisi psikologis ini memicu remaja untuk membeli barang-barang yang sebenarnya bukan kebutuhan pokokβseperti pakaian, kosmetik, hingga makanan viralβsemata-mata demi validasi sosial dan mengikuti tren yang sedang berlangsung.
Temuan Utama: 3 Jam Menuju Belanja Irasional
βMelalui pendekatan kuantitatif, riset ini menemukan adanya pengaruh positif dan signifikan antara durasi paparan konten TikTok dengan tingginya tingkat perilaku konsumtif.
βData lapangan menunjukkan sebuah fakta yang patut diwaspadai: Remaja yang menghabiskan waktu lebih dari 3 jam per hari untuk mengakses TikTok memiliki kecenderungan jauh lebih tinggi untuk melakukan pembelanjaan yang irasional.
βπ½ππ£π©ππ£π πππ§π©ππππ£ππ£: πππ©ππ§ππ¨π πππ£ πππ§ππ£ πππ£ππ πͺπ£πππ£
βMerespons temuan mengkhawatirkan tersebut, tim peneliti merumuskan tiga rekomendasi strategis guna menekan angka perilaku konsumtif di kalangan generasi muda:
βPenguatan Literasi Finansial dan Digital: Remaja perlu dibekali kemampuan dasar untuk mengelola keuangan agar lebih kritis dalam membedakan antara kebutuhan nyata (needs) dan sekadar keinginan sementara (wants).
βIntervensi Orang Tua: Diperlukan pendampingan ekstra dari keluarga, khususnya dalam mengatur manajemen uang saku dan menerapkan batasan durasi menatap layar (screen-time limit) guna memutus siklus kecanduan belanja impulsif.
βEdukasi Sosial di Sekolah: Institusi pendidikan disarankan untuk lebih proaktif mengampanyekan pemahaman mengenai dampak buruk dari gaya hidup hedonis dan konsumtif yang berlebihan.
βHasil riset ini diharapkan dapat menjadi alarm sekaligus rujukan bagi orang tua dan tenaga pendidik di Aceh Singkil. Di tengah gempuran digitalisasi, kebijaksanaan dalam memanfaatkan media sosial menjadi kunci utama untuk menyelamatkan masa depan finansial generasi muda.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
Β











































































