Manhaj tarjih adalah metode berpikir dan pengambilan hukum Islam yang dikembangkan Muhammadiyah. Metode ini berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih, dengan pendekatan yang rasional, terbuka, dan kontekstual. Yang menarik, cara kerja manhaj tarjih ternyata sangat selaras dengan prinsip-prinsip psikologi modern khususnya psikologi kognitif, moral, dan spiritual.
Kata manhaj berarti jalan atau metode, dan tarjih berarti memilih pendapat yang paling kuat dari berbagai pandangan. Secara sederhana, manhaj tarjih adalah panduan sistematis Muhammadiyah untuk memahami ajaran Islam secara benar dan tepat sasaran. Dalam psikologi, pendekatan seperti ini disebut System 2 thinking (Kahneman) berpikir secara lambat, hati-hati, analitis, dan berbasis bukti, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau intuisi.
Manhaj tarjih bekerja melalui empat metode yang saling melengkapi. Masing-masing ternyata memiliki padanan langsung dalam ilmu psikologi:

Keempat metode ini bekerja secara bersamaan dan saling mengisi. Dalam psikologi, kemampuan mengintegrasikan berbagai cara berpikir seperti ini disebut cognitive flexibility kelenturan pikiran untuk mendekati suatu masalah dari berbagai sudut sekaligus.
Jika dibandingkan dengan Nahdlatul Ulama (NU), perbedaan mendasarnya terletak pada sumber otoritas. NU bertumpu pada pendapat ulama mazhab klasik, sementara Muhammadiyah langsung kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah sahih. NU cenderung menjaga tradisi (cognitive conservatism dalam psikologi), sedangkan Muhammadiyah bersikap terbuka untuk memperbarui pemahaman berdasarkan bukti yang lebih kuat (cognitive openness). Keduanya sah dan memiliki kekuatan masing-masing dalam memperkaya khazanah Islam Nusantara.
Majelis Tarjih dan Tajdid adalah lembaga Muhammadiyah yang bertugas menjawab persoalan keagamaan masa kini melalui ijtihad kolektif. Prosesnya melibatkan musyawarah ilmiah yang terstruktur setiap peserta menyampaikan argumen dan dalil secara mandiri sebelum dicapai mufakat. Dalam psikologi sosial, ini adalah contoh ideal dari collective intelligence: keputusan bersama yang matang cenderung lebih baik daripada keputusan seorang individu saja. Proses ini juga secara alami mencegah groupthink yaitu kecenderungan kelompok untuk saling mengiyakan tanpa berpikir kritis.
Dua contoh yang paling dikenal: pertama, penetapan salat tarawih 11 rakaat berdasarkan hadis sahih riwayat Aisyah RA diputuskan melalui penelusuran dalil yang ketat, bukan tradisi semata. Kedua, penggunaan hisab astronomi modern untuk menentukan awal bulan Hijriah. Ini menunjukkan bahwa manhaj tarjih tidak anti-sains ia justru mengintegrasikan ilmu pengetahuan ke dalam kerangka syariat. Dalam psikologi, kemampuan menyerap pengetahuan baru tanpa meninggalkan prinsip lama disebut akomodasi kognitif (Piaget) tanda kedewasaan intelektual.
Manhaj tarjih bukan sekadar metode hukum Islam ia adalah sistem berpikir yang moderat, rasional, dan berkembang bersama zaman. Ketika dikaji melalui lensa psikologi, manhaj tarjih ternyata telah mempraktikkan secara organik apa yang oleh ilmu psikologi modern baru diformulasikan: berpikir analitis berbasis bukti, penalaran moral tingkat tinggi, kecerdasan spiritual, dan deliberasi kolektif yang sehat. Memahami manhaj tarjih berarti memahami bagaimana akal dan wahyu dapat bekerja bersama secara harmonis sesuatu yang sangat relevan bagi mahasiswa psikologi dalam membangun cara pikir yang ilmiah sekaligus berkarakter.
Ditulis Oleh : Hesa Fila Yuriska, Magister Psikologi, Universitas Ahmad Dahlan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































