Bondowoso, 17 Juli 2026 — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 221 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar rangkaian workshop bertajuk “Mengubah Limbah Menjadi Berkah” di tiga lembaga pendidikan anak usia dini di Desa Sumber Malang, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, yakni RA Melati (Dusun Sempol), KB Nurul Hidayah (Dusun Sukojati), dan TK Harapan Bangsa (Dusun Krajan), dengan total 59 ibu wali murid sebagai peserta. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari Rabu hingga Jumat (15–17/7/2026) ini memperkenalkan sistem hidro-akuaponik kepada para ibu wali murid yang mengantar anak-anak mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sekaligus mendukung mandat Bupati Bondowoso terkait kesehatan lingkungan. Sistem hidro-akuaponik sendiri merupakan metode budi daya yang memadukan hidroponik (menanam sayuran tanpa media tanah) dengan akuakultur (budi daya ikan) dalam satu siklus terpadu, di mana air sisa budi daya ikan dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi tanaman.
Koordinator Desa (Kordes) KKN 221 UINSA, Rohmad Ridho Setiawan, menjelaskan bahwa pemilihan sistem akuaponik didasarkan pada dua pertimbangan utama. “Kelompok kami mendapat tema khusus untuk mengoptimalkan BUMDes. Setelah kami konsultasikan dengan Ketua BUMDes Sumber Malang, ternyata unit usaha sebelumnya, yaitu produksi telur puyuh, sudah hampir mati. Karena itu, pihak desa meminta kami menginisiasi program baru,” jelasnya. Ia menambahkan, program ini juga sejalan dengan mandat Bupati Bondowoso mengenai kesehatan lingkungan. “Kami melihat akuaponik sebagai solusi pertanian minimalis yang mendukung kelestarian ekologi,” ujarnya.
Menariknya, tidak satu pun anggota tim KKN memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian maupun perikanan. Selama satu minggu sebelum workshop, tim melakukan riset mandiri dan pendalaman materi mengenai sistem hidroponik dan akuaponik dari nol, mulai dari cara menyatukan budidaya tanaman sayur di bagian atas dengan budidaya ikan di bagian bawah agar sistem dapat berjalan optimal saat disosialisasikan.
Atas saran dari Kepala BUMDes, sosialisasi hanya difokuskan pada kerumunan ibu-ibu dengan menyasar lembaga pendidikan anak usia dini seperti RA, KB, dan TK. Strategi ini dipilih agar tim dapat menjangkau audiens dalam jumlah besar secara efektif dengan memanfaatkan momen ibu-ibu yang mengantar anak mengikuti MPLS di sekolah.
Di RA Melati, Dusun Sempol, yang diikuti 14 wali murid, guru kelas kelompok B, Zakia, mengaku senang menerima antusiasme wali murid mengikuti workshop ini. Kegiatan ini disebut sebagai momen perdana, mengingat kegiatan KKN sebelumnya di lembaga tersebut biasanya hanya berupa perlombaan atau permainan. “Workshop ini meningkatkan inovasi dalam cara menanam sayuran dan budidaya ikan lele secara bersamaan. Ilmu ini sangat bermanfaat bagi guru maupun wali murid,” ujarnya. Zakia bahkan mengaku termotivasi mempraktikkan sistem ini di rumah menggunakan barang bekas seperti galon air atau ember, meski tidak memiliki lahan luas.

Di KB Nurul Hidayah, Dusun Sukojati yang diikuti 15 wali murid, salah satu wali murid, Zia, menilai sistem akuaponik sangat efektif karena mampu mengurangi penggunaan lahan sehingga cocok diterapkan di daerah dengan keterbatasan lahan tanam. Ia turut mempraktikkan langsung penanaman kangkung serta budidaya bibit ikan lele dalam workshop tersebut. “Tidak ada bagian yang sulit. Semua prosesnya mudah dilakukan, termasuk ketersediaan media, alat, bahan, hingga bibit ikan lele yang mudah didapatkan,” katanya, seraya menyatakan rencananya untuk mempraktikkan kembali di rumah.

Sementara itu, di TK Harapan Bangsa, Dusun Krajan, yang menjadi lokasi dengan peserta terbanyak yakni 30 wali murid, Kepala TK, Millah, memberikan tanggapan positif terhadap workshop ini. Ia menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat, khususnya bagi ibu-ibu agar dapat berkreasi dan tetap produktif. “Peserta jadi tahu cara memanfaatkan limbah menjadi sesuatu yang berharga, sekaligus mendapat ilmu memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan mandiri,” ujarnya. Millah berharap seluruh warga Desa Sumber Malang dapat berperan aktif memanfaatkan limbah, yang secara ekonomi juga dapat membantu menghemat kebutuhan belanja dapur keluarga. Salah satu peserta di TK Harapan Dusun Krajan, Nabil, mengaku mendapatkan ilmu baru yang bisa langsung dipraktikkan di rumah, seperti memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam akuaponik. Ia juga turut belajar cara menyemai benih dari awal dan menyatakan tidak ada kendala berarti selama sesi praktik berlangsung.
Rohmad Ridho Setiawan menekankan bahwa tujuan akhir program ini bukan sekadar memenuhi tugas KKN, melainkan menumbuhkan kesadaran ekologi masyarakat Sumber Malang melalui pertanian modern. “Harapan kami, program ini tetap berjalan meskipun masa KKN sudah berakhir, dan bisa menjadi langkah awal masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Melalui rangkaian workshop hidro-akuaponik di tiga lembaga PAUD ini, Tim KKN 221 UINSA berharap ilmu yang dibagikan dapat terus dipraktikkan secara mandiri oleh warga, sekaligus menjadi langkah awal menghidupkan kembali BUMDes serta mendukung terciptanya lingkungan yang lebih sehat dan produktif di Desa Sumber Malang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































