Bagi Muh. Gasha Aradea Sasangka, kelas X- XII di MAN 1 Yogyakarta bukan sekadar tiga tahun bersekolah. Itu adalah fase paling menantang, paling seru, dan paling banyak pelajaran hidup yang ia dapatkan. “Alhamdulillah, saat masuk di MAN 1 Yogyakarta saya merasa ada kemajuan serta bisa meningkatkan diri dan prestasi,” ujar Gasha membuka ceritanya.
Anak kelahiran Makassar, 7 Desember 2007 ini memang dikenal sebagai pribadi yang ambisius. Sejak SMP kelas IX hingga SMA kelas XI, satu nama jurusan yang selalu ada di kepalanya: Kedokteran Gigi. “Dulu cita-cita Gasha adalah menjadi seorang Dokter Gigi,” katanya mantap.
Ambisi itu ia buktikan dengan kerja keras luar biasa. Seminggu 6 kali les. Dari pagi sampai menjelang adzan Isya waktunya habis untuk bimbel. Di jam kosong kelas, ia mengerjakan soal UTBK. Malamnya, dari Isya hingga menjelang Subuh, buku dan latihan soal kembali menemaninya. “Ada kalanya gasha sakit secara fisik, secara mental, juga kadang pernah di titik sudah tidak ada rasa ingin belajar,” kenangnya. “Tetapi, gasha tetap tegar, tetap percaya, karena sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu.”
Perjuangan tidak selalu berujung sesuai harapan. Saat pengumuman SNBP, SNBT, hingga UTUL UGM tiba, nama Gasha tidak tercantum di jurusan impian. Tiga kali ditolak. Di titik inilah, banyak orang mungkin menyerah. Tapi tidak dengan Gasha dan keluarganya. “Orang tua sudah berkata untuk melepaskan dan tetap mendukung kalau ingin mencoba soshum,” cerita Gasha. Dukungan itu menjadi bahan bakar baru. Ia pun membelokkan haluan.
Keputusan itu ternyata bukan tanpa alasan. Sejak SMP, Gasha sering mengikuti lomba podcast dan selalu juara. Ia juga aktif jadi MC di organisasi sekolah. “Sempat terbesit kalau gasha lumayan cocok di ilmu komunikasi,” ucapnya.

Alhamdulillah, kerja kerasnya terbayar. Pada 14 Juli 2026 lalu, Gasha resmi diterima di Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Yogyakarta melalui jalur CBT Kampus.
“Bukan tidak sesuai, tetapi tidak sangka kalau bisa terkabul,” ujarnya haru.
Perjalanan di MAN 1 Yogyakarta juga mengajarkan Gasha tentang arti menerima. Saat naik ke kelas XI, ia tidak masuk di kelas yang ia daftarkan. Ia ditempatkan di Kelas F. Awalnya sempat ada “pembelokan”. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, ia akhirnya menerima. “Dan, Gasha merasa senang, karena walaupun bukan kelas yang gasha harapkan dan daftar, gasha bisa menjadi pribadi yang saat ini. Mendapatkan teman-teman yang baik, serta mendapatkan wali kelas yang sangat peduli,” tuturnya.
Teman-teman pun menjadi saksi sekaligus penyemangat terbesarnya. Mereka kerap bercanda memanggilnya “Halo Pak Dok”. Saat Gasha stres dan sakit karena persiapan kuliah, merekalah yang selalu menyemangati. “Apapun universitas dan juga jurusannya,” kata Gasha. Dan mereka paling bahagia saat mendengar kabar Gasha lolos PTN.
Kini, dengan status sebagai mahasiswa baru, Gasha membawa serta motto hidupnya: Work hard until you don’t have to introduce yourself. Bekerja keraslah hingga kau tak perlu mengenalkan dirimu sendiri.
Ia juga punya pesan untuk teman-teman yang masih berjuang: “Kejarlah apa yang kamu kejar, usahakan apa yang bisa kamu usahakan, in syaa Allah, Allah SWT tahu yang terbaik untuk kamu.”
Bagi Gasha, fase mengejar PTN adalah kenangan yang indah. “Kenangan yang cukup indah, tetapi cukup sekali aja,” katanya sambil tertawa kecil. Dari seorang calon “Pak Dok” yang les 6 kali seminggu, kini Gasha bersiap menulis cerita baru di dunia komunikasi. Karena ia percaya, Tuhan memang sudah menyiapkan skenario terbaik.
Penulis: Listya S. Wulan Kurniati, M.A (Guru MAN 1 Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































