JAKARTA — Platform media sosial TikTok telah berkembang pesat di Indonesia dengan keunggulan utama berupa laman For You Page (FYP). Namun, di balik kontennya yang menghibur, sistem rekomendasi berbasis algoritma tingkat tinggi ini ternyata menyimpan dampak serius bagi cara berpikir penggunanya.
Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Rahmawan Cibro dari Aceh Singkil, mengungkapkan bahwa algoritma TikTok berkontribusi signifikan dalam membentuk echo chamber (ruang gema) digital, mempersempit paparan informasi, dan berpotensi memperkuat polarisasi opini publik di Indonesia.
𝙄𝙡𝙪𝙨𝙞 𝙈𝙖𝙮𝙤𝙧𝙞𝙩𝙖𝙨: 𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙁𝙔𝙋 𝙎𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙎𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙙𝙖
Penelitian kuantitatif ini dilakukan melalui survei daring terhadap 150 responden generasi Z (berusia 18–25 tahun) di Indonesia yang aktif menggunakan TikTok minimal satu jam per hari. Hasil analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana menunjukkan adanya korelasi positif yang kuat (R\text{-square} = 0.68) antara intensitas kurasi algoritma dengan penyempitan perspektif pengguna.
Berdasarkan data persepsi responden, algoritma TikTok terbukti menyaring informasi dengan sangat ketat melalui indikator berikut:
• Kurasi Topik Monoton: FYP dinilai sangat cepat menampilkan topik yang sama secara terus-menerus setelah pengguna menyukai satu video saja (Nilai Rata-rata: 4.6 / Sangat Tinggi).
• Penyaringan Isu Negatif: Jika pengguna menunjukkan indikasi tidak menyukai suatu isu, TikTok akan berhenti menampilkannya (Nilai Rata-rata: 4.4 / Tinggi).
• Minim Sudut Pandang Berbeda: Pengguna mengaku jarang sekali melihat opini yang berseberangan dengan pandangan pribadi mereka di FYP (Nilai Rata-rata: 4.2 / Tinggi).
Dampak dari hiper-personalisasi konten ini sangat nyata: sebanyak 78% responden menyatakan bahwa keyakinan mereka terhadap suatu isu (baik politik lokal, gaya hidup, maupun budaya pop) menjadi semakin kuat setelah menggunakan TikTok. Pengguna terjebak dalam majority illusion (ilusi mayoritas), di mana mereka merasa opini pribadinya adalah kebenaran absolut karena FYP terus membanjiri mereka dengan konten dan komentar yang sejalan.
𝙈𝙚𝙨𝙞𝙣 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 ‘𝙂𝙖𝙩𝙚𝙠𝙚𝙚𝙥𝙚𝙧’ 𝘽𝙖𝙧𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙈𝙚𝙣𝙜𝙞𝙨𝙤𝙡𝙖𝙨𝙞
Jika pada media massa tradisional peran penyaring informasi (gatekeeper) dipegang oleh redaksi manusia, di TikTok fungsi tersebut diambil alih sepenuhnya oleh mesin. Sistem machine learning ini bekerja secara proaktif memprediksi preferensi berdasarkan durasi retensi dan completion rate (tingkat penyelesaian tontonan) demi menjaga atensi pengguna.
”TikTok, alih-alih menjadi ruang publik deliberatif tempat berbagai ide saling diuji, justru menjadi kepulauan echo chamber,” tulis Rahmawan Cibro di konfirmasi melalui video call dari Aceh Singkil dalam penelitiannya.
Akibatnya, diskursus publik menjadi reduktif. Komunitas dengan pandangan berbeda jarang berinteraksi secara sehat. Pertemuan antar-opini biasanya hanya terjadi lewat fitur stitch atau duet yang ironisnya kerap digunakan untuk saling menyerang (polarisasi afektif). Fenomena ini juga dinilai memicu cancel culture dan fanatisme di ruang digital Indonesia akibat hilangnya kemampuan pengguna untuk berempati dengan sudut pandang oposisi.
𝙎𝙤𝙡𝙪𝙨𝙞: 𝙇𝙞𝙩𝙚𝙧𝙖𝙨𝙞 𝘼𝙡𝙜𝙤𝙧𝙞𝙩𝙢𝙖 𝙙𝙖𝙣 𝙏𝙤𝙢𝙗𝙤𝙡 ‘𝙍𝙚𝙨𝙚𝙩’
Sebagai langkah mitigasi untuk memecah filter bubble dan echo chamber ini, penelitian memberikan dua rekomendasi utama:
Edukasi Algorithmic Literacy: Masyarakat Indonesia perlu memiliki literasi algoritma agar secara sadar bisa memanipulasi linimasa mereka, contohnya dengan sengaja mencari dan berinteraksi dengan konten di luar ekosistem minat biasanya.
Edukasi Algorithmic Literacy: Masyarakat Indonesia perlu memiliki literasi algoritma agar secara sadar bisa memanipulasi linimasa mereka, contohnya dengan sengaja mencari dan berinteraksi dengan konten di luar ekosistem minat biasanya.
- (Berita ini disusun berdasarkan laporan penelitian akademis berjudul “Dampak Algoritma Rekomendasi terhadap Pembentukan Echo Chamber pada Pengguna TikTok di Indonesia” oleh Rahmawan Cibro dari Aceh Singkil ).
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































