GRESIK – Bukan hanya soal konsep akademik, keberhasilan program pemberdayaan masyarakat sering kali ditentukan oleh siapa yang berdiri di lapangan bersama warga. Itulah yang terjadi di Desa Banyuurip, Kabupaten Gresik, pada Rabu 1 Juli 2026, ketika Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Tematik dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menggandeng Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) sebagai mitra pendamping dalam agenda Sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Bahagia, pelaku UMKM, dan tokoh masyarakat setempat.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dari program pembenahan tata kelola kawasan Ekowisata Mangrove Banyuurip, yang selama ini dikenal punya potensi lingkungan dan wisata besar, namun pengelolaannya belum tertata optimal. Hal ini sejalan dengan sejumlah target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), di antaranya SDGs pada poin ke 14 (Ekosistem Lautan) melalui upaya pelestarian kawasan mangrove pesisir. Dari temuan itulah sosialisasi dan FGD dirancang bukan sekadar forum penyampaian informasi, melainkan ruang dialog dua arah, tempat warga bisa menyuarakan kebutuhan, memetakan kendala, sekaligus menyusun bersama langkah-langkah prioritas untuk pengelolaan kawasan ke depan.

Yang menarik dari kegiatan ini, keterlibatan Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) sebagai mitra pendamping di lapangan justru menjadi salah satu kunci kelancaran program. Sebab, PUPUK bukan wajah baru bagi warga Banyuurip, organisasi ini telah lama membangun relasi dan kepercayaan lewat berbagai pendampingan sebelumnya. Modal sosial itulah yang kemudian dimanfaatkan sebagai jembatan penghubung antara tim akademik kampus dan komunitas lokal, sehingga proses sosialisasi berjalan lebih hangat dan mudah diterima oleh masyarakat.
Menyoroti hal tersebut, Bapak Jamiul Fawaid selaku anggota Pokdarwis Tirta Bahagia menyampaikan bahwa keberhasilan sebuah program pemberdayaan tidak melulu bergantung pada kematangan konsep akademik. “Ada faktor lain yang sama pentingnya, yaitu kehadiran mitra lapangan yang benar-benar memahami karakter dan kebutuhan komunitas. Di situlah peran PUPUK ini terasa sangat menentukan, karena mereka yang membangun kepercayaan awal dengan warga Banyuurip,” ujarnya
“Kehadiran rekan-rekan PUPUK adalah kunci utama cairnya suasana dalam FGD kali ini. Masyarakat tidak merasa didikte oleh teori-teori kampus, melainkan merasa didengarkan aspirasinya. Bentuk kemitraan ini sesuai dengan SDGs poin ke 17 yang mana dalam poin SDGs tersebut tercermin dari kolaborasi antara UPN “Veteran” Jawa Timur, pemerintah desa, komunitas, dan PUPUK. Kepercayaan lokal yang telah dirawat oleh PUPUK selama bertahun-tahun menjadi modal sosial terbesar kami untuk menyusun pembagian wilayah wisata (zonasi) dan aturan kerja yang inklusif tanpa merusak ekosistem.” Ungkap Putra Perdana, S.E, M.Sc., selaku dosen UPN “Veteran” Jawa Timur.
Melalui rangkaian kegiatan ini, tim pengabdian berharap dapat membuka jalan menuju pengelolaan Ekowisata Mangrove Banyuurip yang lebih tertata, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan warga. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, komunitas, dan mitra strategis seperti PUPUK diharapkan terus terjalin sebagai fondasi keberlanjutan program ke depannya.
(Penulis: Putra Perdana, S.E, M.Sc., Roesyana Dwi Santi Dewi dan Nayla Dwi Pertiwi adalah Dosen dan Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UPN “Veteran” Jawa Timur)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































