Pagi itu, aroma nasi hangat dan lauk sederhana memenuhi salah satu sudut Kampung Pancasila di RW 06 Sidosermo. Sejumlah ibu-ibu tampak sibuk menata bungkusan makanan di atas meja, sementara beberapa mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ikut serta membantu dan menyusun bungkusan makanan yang akan mati. Suasana rukun dan penuh canda tawa mewarnai kegiatan yang sudah menjadi rutinitas warga setiap hari Jumat itu.
Kehadiran mahasiswa KKN UINSA pagi itu bukan sebagai penggerak kegiatan, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang ikut mengambil bagian dalam program sosial tersebut yang telah ada selama bertahun-tahun. Mereka membantu proses persiapan, pengemasan, hingga pembagian makanan kepada warga yang membutuhkan, sekaligus dengan mendokumentasikan setiap proses sebagai bentuk pembelajaran langsung tentang kepedulian sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Jumat Berkah tidak lahir dari perencanaan besar atau program formal. Kegiatan ini bermula sekitar tujuh tahun yang lalu, tepat ketika pandemi Covid-19 (2019) melanda hampir seluruh kehidupan Masyarakat di Indonesia. Saat itu, banyak warga di sekitar Kampung Pancasila tersebut mengalami penurunan pendapatan akibat aktivitas aktivitas dan lemahnya roda perekonomian.
Melihat kondisi tersebut, sejumlah warga, khususnya para donatur di lingkungan perumahan setempat, tergerak untuk melakukan sesuatu. Tanpa menunggu bantuan dari pihak luar, mereka mulai mengumpulkan dana secara sukarela melalui iuran mingguan. Dana yang terkumpul kemudian dibelikan bahan makanan dan diolah menjadi nasi bungkus yang nantinya akan diumumkan kepada masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang terdampak langsung oleh krisis ekonomi saat itu.
Yang luar biasa, apa yang semula menjadi respons darurat di masa krisis yang tidak berhenti begitu pandemi mereda. Warga sepakat untuk terus melanjutkannya, dan hingga kini, tujuh tahun kemudian, Jumat Berkah masih rutin digelar setiap pekan.
Salah satu sosok yang mengetahui betul perjalanan panjang program ini adalah Ibu RW setempat. Ditemui di sela-sela kegiatan, ia menceritakan bagaimana semua ini bermula.
“Dulu jaman covid kan banyak yang kena phk ya mbak, terus ekonomi juga melemah, orang cari kerja juga susah banget, dari situ banyak yang kesusahan. Dari situ muncul rencana saya buat mengadakan program tersebut dan alhamdulilah nya warga kita banyak yang setuju dan yaa program ini berjalan sampai sekarang” mengungkapkannya mengenang masa awal pandemi.
Beliau menjelaskan bahwa meskipun situasi sudah jauh membaik, warga sepakat untuk tidak menghentikan kegiatan tersebut begitu saja. “Kegiatan ini sudah jadi kebiasaan baik kita, sayang kalau putus. Lagi pula, yang butuh bantuan itu selalu ada, meski bentuknya berbeda-beda. Jadi kami putuskan terus berlanjut” katanya.
Bagi mahasiswa KKN UINSA, keterlibatan dalam Jumat Berkah menjadi pengalaman yang berkesan. Sejak pagi, mereka juga membantu proses penyiapan dqari transfer makanan dari rumah produksi ke pos satpam (tempat Pendistribusian) lalu menata makanannya ke meja dengan rapih, hingga ikut membagikan makanan kepada warga yang membutuhkan.
Tidak hanya membantu secara teknis, siswa juga aktif berinteraksi dengan warga selama kegiatan berlangsung. Sapaan hangat dengan warga penerima makanan hingga percakapan ceria juga tercipta pada momen itu.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa menyaksikan langsung bagaimana nilai gotong royong dan solidaritas sosial dijalankan bukan sebagai wacana, melainkan sebagai kebiasaan nyata yang dipelihara secara konsisten oleh masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka belajar bahwa kepedulian tidak selalu membutuhkan program besar, cukup niat yang dijaga secara terus-menerus oleh orang-orang yang mau bergerak bersama.
Jumat Berkah, pada akhirnya, bukan sekedar kegiatan membagikan makanan kepada yang membutuhkan. Program ini telah tumbuh menjadi simpul yang mempererat hubungan sosial antarwarga di lingkungan RW 06 Sidosermo. Setiap hari Jumat, warga dari berbagai latar belakang berkumpul dengan satu tujuan yang sama: saling membantu dan memastikan tidak ada tetangga yang terlewatkan dari perhatian.
Konsistensi ini pula yang menjadikan Jumat Berkah sebagai contoh nyata bahwa semangat gotong royong dan kepedulian terhadap sesama masih hidup di tengah masyarakat, bahkan di saat krisis yang muncul telah lama berlalu.
Di balik ringkasnya nasi bungkus yang dibagikan setiap Jumat, tersimpan kisah panjang tentang ketulusan dan konsistensi warga RW 06 Sidosermo dalam menjaga kepedulian sosial selama tujuh tahun. Kehadiran mahasiswa KKN UINSA dalam kegiatan ini hanyalah sepenggal kecil dari perjalanan panjang tersebut, sebuah kesempatan untuk ikut belajar dan mendukung semangat yang telah lebih dulu ditanamkan oleh masyarakat.
Semoga semangat berbagi ini terus terjaga, tidak hanya sebagai rutinitas mingguan, tetapi sebagai warisan nilai kemanusiaan yang akan terus dipertahankan oleh generasi-generasi berikutnya di RW 06 Sidosermo.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer











































































