Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa dapat menggunakannya untuk mencari ide, memahami materi, menerjemahkan bahasa, membuat program, hingga membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan akademik. Namun, di balik manfaat tersebut, perkembangan AI juga membawa risiko ketika teknologi digunakan tanpa etika dan tanggung jawab.
Hal itu terlihat dari kasus yang menimpa seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Surakarta. Pada 28 Juli 2026, RRI memberitakan bahwa korban berinisial E melaporkan dugaan penyebaran konten hasil manipulasi deepfake berbasis AI kepada Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Polda Jawa Tengah. Wajah korban diduga digunakan dalam puluhan foto dan dua video hasil rekayasa digital. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa AI bukan lagi sekadar pembahasan mengenai masa depan. Teknologi tersebut sudah hadir di tengah kehidupan mahasiswa. Masalahnya bukan hanya seberapa canggih AI dapat bekerja, tetapi bagaimana manusia memilih untuk menggunakannya.
Ketika AI Tidak Lagi Sekadar Alat
Deepfake menunjukkan bagaimana AI dapat menghasilkan atau memanipulasi konten digital sehingga terlihat meyakinkan. Dalam kasus mahasiswi di Surakarta, teknologi tersebut diduga digunakan untuk memanipulasi identitas korban tanpa persetujuannya. Dampaknya bukan sekadar munculnya sebuah konten palsu, tetapi juga menyangkut privasi, reputasi, rasa aman, dan kondisi psikologis korban. RRI melaporkan bahwa korban awalnya mengabaikan penyebaran konten karena mengira hal tersebut hanya rekayasa AI, tetapi akhirnya melapor setelah penyebarannya semakin mengganggu.
Di sinilah persoalan AI menjadi lebih luas daripada persoalan teknologi. Manusia perlu mempertanyakan batas penggunaan teknologi: apakah sesuatu boleh dilakukan hanya karena secara teknis bisa dilakukan?
Jawabannya tentu tidak. Kemampuan AI untuk membuat atau mengubah sesuatu tidak otomatis memberikan hak kepada penggunanya untuk melakukan apa saja. Teknologi tetap membutuhkan pertimbangan mengenai izin, privasi, etika, dan dampaknya terhadap orang lain.
Industry 4.0 Membawa AI Semakin Dekat
Perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari perubahan teknologi pada era Industry 4.0. Digitalisasi, otomatisasi, big data, Internet of Things, dan AI membuat teknologi semakin terintegrasi dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan. Putra, Adri, dan Irfan (2025) menjelaskan bahwa integrasi AI dalam pendidikan semakin relevan dalam era Industry 4.0 dan transisi menuju Society 5.0. AI memberikan berbagai peluang bagi pendidikan, tetapi juga menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara kritis.
Bagi mahasiswa, peluang tersebut tentu besar. AI dapat menjadi alat bantu belajar yang membuat proses memahami materi menjadi lebih cepat dan fleksibel. Namun, kemudahan juga dapat menjadi masalah apabila mahasiswa mulai bergantung sepenuhnya pada hasil AI.
Mahasiswa bisa mendapatkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tetap perlu memeriksa apakah jawaban tersebut benar. AI dapat membantu membuat tulisan, tetapi mahasiswa tetap harus memahami isinya. AI dapat menghasilkan kode program, tetapi pengguna tetap perlu mengetahui bagaimana kode tersebut bekerja.
Artinya, kemampuan menggunakan AI harus berjalan bersama kemampuan berpikir.
Society 5.0: Manusia Tetap di Tengah
Jika Industry 4.0 menggambarkan semakin kuatnya integrasi teknologi, Society 5.0 memberikan penekanan bahwa teknologi seharusnya tetap digunakan untuk kepentingan manusia. Dalam konteks AI, manusia tidak seharusnya menjadi pihak yang kehilangan kendali. AI dapat memberikan rekomendasi, menghasilkan informasi, atau membantu pekerjaan, tetapi keputusan dan tanggung jawab tetap berada pada manusia.
Hal tersebut sejalan dengan kerangka UNESCO mengenai kompetensi AI bagi peserta didik. UNESCO menempatkan human-centred mindset dan ethics of AI sebagai dua dari empat dimensi utama kompetensi AI, bersama AI techniques and applications serta AI system design. Kerangka tersebut juga menekankan kemampuan siswa untuk menilai solusi AI secara kritis dan memahami tanggung jawab sebagai warga di era AI.
Dengan demikian, mahasiswa yang mampu menggunakan AI bukan hanya mahasiswa yang mengetahui banyak aplikasi atau pandai membuat perintah kepada chatbot. Lebih penting lagi, mahasiswa harus mampu menentukan kapan AI layak digunakan, bagaimana menggunakannya secara etis, dan kapan hasilnya perlu dipertanyakan.
Human Literacy: Saat Nalar Menjadi Pembeda
Di tengah semakin pintarnya teknologi, kemampuan manusia justru menjadi semakin penting. Inilah mengapa Human Literacy perlu mendapat perhatian dalam kehidupan mahasiswa. Human Literacy tidak cukup dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Dalam konteks perkembangan AI, kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami nilai, mempertimbangkan dampak, berempati, dan bertanggung jawab menjadi semakin penting.
UNESCO menekankan bahwa peserta didik perlu dipersiapkan sebagai pengguna sekaligus pencipta AI yang bertanggung jawab. Kerangka tersebut menempatkan human agency, human accountability, dan kemampuan berpikir kritis sebagai bagian dari pendekatan yang berpusat pada manusia.
Hal ini relevan dengan kasus deepfake. Teknologi mungkin mampu menghasilkan manipulasi yang terlihat nyata, tetapi manusialah yang menentukan tujuan penggunaannya. Karena itu, semakin canggih teknologi, semakin penting kemampuan manusia untuk mengatakan “boleh”, “tidak boleh”, dan “harus diperiksa terlebih dahulu”.
Tantangan Mahasiswa di Era AI
Bagi mahasiswa, tantangan AI sebenarnya bukan sekadar menghindari penyalahgunaan teknologi. Tantangannya juga bagaimana memanfaatkan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir sendiri. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti nalar. Mahasiswa tetap perlu membaca, membandingkan sumber, memeriksa fakta, memahami materi, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangannya sendiri.
Hal yang sama berlaku ketika menggunakan AI untuk membuat atau mengolah konten. Sebelum menggunakan foto, suara, tulisan, atau data orang lain, perlu ada pertanyaan sederhana: apakah saya memiliki izin, apakah tindakan ini merugikan orang lain, dan apakah saya siap bertanggung jawab atas hasilnya?
Pertanyaan sederhana tersebut merupakan bagian dari etika yang tidak dapat diserahkan begitu saja kepada mesin.
Kasus deepfake di Surakarta menunjukkan sisi ekstrem dari penyalahgunaan AI. Sementara dalam kehidupan akademik, bentuknya mungkin lebih sederhana, seperti menerima jawaban AI tanpa melakukan verifikasi atau menggunakan karya AI tanpa memahami isinya. Bentuknya berbeda, tetapi persoalannya memiliki akar yang sama: ketika manusia berhenti menggunakan nalar dan menyerahkan semuanya kepada teknologi.
AI Boleh Pintar, Manusia Harus Tetap Bertanggung Jawab
Perkembangan AI tidak perlu ditakuti, apalagi dijauhi. Teknologi justru dapat memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Yang perlu dibangun adalah kemampuan manusia untuk mengendalikan dan mengarahkannya.
Bagi mahasiswa, menggunakan AI secara bijak berarti tetap belajar meskipun menggunakan AI sebagai alat bantu, tetap melakukan verifikasi meskipun jawaban terlihat meyakinkan, serta tetap mempertimbangkan etika ketika menghasilkan sesuatu dengan bantuan teknologi.
Pada akhirnya, kasus deepfake yang menimpa mahasiswi di Surakarta bukan hanya persoalan tentang teknologi yang disalahgunakan. Kasus tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi selalu membawa tanggung jawab yang lebih besar bagi manusia.
Industry 4.0 membawa AI semakin dekat dengan kehidupan. Society 5.0 mengingatkan bahwa teknologi seharusnya tetap berpusat pada manusia. Sementara Human Literacy menjadi bekal agar manusia tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menentukan bagaimana teknologi seharusnya digunakan.
Teknologi boleh makin canggih, tetapi nalar jangan sampai tersisih.
Menjadi mahasiswa di era AI bukan sekadar tentang mampu menggunakan kecerdasan buatan. Lebih dari itu, mahasiswa perlu tetap mampu berpikir, mempertanyakan, menghargai manusia lain, dan bertanggung jawab atas teknologi yang digunakan.
Penulis: Febrina Intan Herlina – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































