Di era hiper-konektivitas saat ini, perhatian manusia telah menjadi komoditas yang paling diperebutkan. Algoritma media sosial dirancang untuk menarik perhatian selamanya, memicu kejenuhan mental (burnout) dan penurunan kemampuan fokus. Ironisnya, TikTok—platform yang kerap dituding sebagai dalang utama pemendekan attention span melalui video berdurasi singkat—kini justru menjadi panggung bagi maraknya tren mindfulness, meditasi mikro, dan aesthetic journaling. Fenomena ini memperlihatkan dinamika menarik: bagaimana generasi digital memanfaatkan platform yang sama untuk mencari penawar atas krisis perhatian yang mereka alami. Jika ditarik lebih jauh, pencarian ketenangan digital ini mencerminkan kebangkitan kembali estetika humanisme—sebuah upaya menegaskan kembali martabat, keberadaan, dan kesadaran manusia di tengah arus mekanisasi algoritma.
Estetika humanisme memandang manusia sebagai pusat dari pengalaman estetis dan moral. Berbeda dengan pandangan modernisme ekstrem yang menekankan efisiensi dan produktivitas mekanis, humanisme merayakan kesadaran diri, pemikiran kritis, kesenian, dan ruang introspeksi subjektif. Dalam konteks budaya digital, mindfulness dan journaling yang dipopulerkan di TikTok bertindak sebagai manifestasi estetika humanistik modern. Praktik-praktik seperti menulis buku harian secara visual (art journaling), bullet journaling, atau silent vlog tidak sekadar aktivitas hobi, melainkan bentuk perlawanan simbolis terhadap dehumanisasi digital. Melalui sapuan pena di atas kertas atau menit-menit hening sebelum berkegiatan, individu merebut kembali kendali atas pikiran dan emosi mereka dari dominasi notifikasi.
Fenomena ini mewujud secara nyata dalam tren tagar seperti #Journaling dan #Mindfulness di TikTok yang telah mengumpulkan miliaran tayangan. Kreator konten tidak hanya membagikan teknik tulisan, tetapi juga mengemasnya dalam estetika audio-visual yang menenangkan: pencahayaan alami yang lembut, alunan musik lo-fi, suara gesekan pena pada kertas (ASMR), serta sudut meja yang tertata rapi. Estetika ini menciptakan ruang virtual yang hening—sebuah oasis visual yang menghentikan guliran (scrolling) tanpa henti dari para penggunanya untuk sejenak bernapas dan berrefleksi.
Contoh Kasus: Maraknya Tren Aesthetic Journaling dan “a day in my life” di TikTok
Salah satu contoh kasus konkret adalah fenomena maraknya konten aesthetic journaling dan a day in my life yang dibawakan oleh kreator seperti pengguna yang mempopulerkan tren “romanticizing your life” atau “cozy productivity”.
Sebagai contoh, pada tren 5-Minute Journaling atau Shadow Work Journaling di TikTok, seorang kreator memperlihatkan rutinitas paginya: mematikan ponsel, menyeduh teh, lalu duduk menuliskan tiga hal yang disyukuri dan refleksi emosional hari itu tanpa gangguan layar. Video-video ini mendapatkan jutaan suka dan komentar dari warganet yang mengaku merasa “tersembuhkan” atau terinspirasi untuk mengambil jeda dari rutinitas digital.
Dalam kasus ini, terdapat paradoks yang menarik:
1. Media Kontradiktif: Proses refleksi diri yang bersifat pribadi dan analog direkam dan disebarkan melalui media digital yang instan.
2. Transformasi Nilai: TikTok yang biasanya memicu Fear of Missing Out (FOMO) dimanfaatkan sebagai medium untuk menyebarkan nilai Joy of Missing Out (JOMO).
3. Ekspresi Humanis: Kertas dan pena menjadi simbol kembalinya kontrol taktil manusia, mempertegas bahwa ruang batin manusia tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh kecerdasan buatan atau algoritma feeds.
Melalui kombinasi antara visualisasi estetis dan praktik mindfulness, tren ini berhasil mengubah sudut pandang tentang produktivitas. Produktivitas tidak lagi diukur dari seberapa cepat seseorang menyelesaikan pekerjaan secara mekanis, melainkan seberapa hadir dan sadarnya seseorang dalam menjalani setiap momen usahanya.
Pada akhirnya, tren mindfulness dan journaling di TikTok menunjukkan bahwa di balik krisis perhatian masyarakat modern, ada dorongan manusiawi yang kuat untuk tetap menjaga keseimbangan batin. Estetika humanisme hadir sebagai kerangka filosofis yang mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar konsumen data atau objek algoritma, melainkan subjek yang memiliki kedalaman jiwa dan kebutuhan akan ketenangan. Memanfaatkan media digital untuk menyebarkan kesadaran diri adalah langkah awal yang baik; namun, tantangan sebenarnya adalah bagaimana membawa momen kesadaran dari balik layar ponsel tersebut ke dalam realitas kehidupan sehari-hari secara utuh.
Penulis: Ega Okta Nawangsari, Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Siber Asia
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































