Pergaulan bebas di kalangan peserta didik saat ini menjadi salah satu isu penting yang mencerminkan adanya krisis karakter di era modern. Fenomena ini muncul di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi yang memberikan kebebasan komunikasi tanpa batas, sehingga remaja lebih mudah terpapar berbagai bentuk perilaku sosial yang tidak selalu sesuai dengan norma maupun nilai moral.
Krisis karakter di sini merujuk pada melemahnya nilai-nilai moral, etika, dan disiplin diri pada peserta didik. Pergaulan bebas tidak hanya terkait dengan interaksi sosial yang longgar, tetapi juga mencakup perilaku yang menyimpang dari standar sosial dan norma yang berlaku dalam masyarakat, seperti tindakan yang melanggar norma agama, sosial, maupun budaya.
Salah satu dampak nyata dari pergaulan bebas adalah penurunan prestasi akademik. Ketika peserta didik lebih fokus pada kegiatan sosial yang tidak terkontrol, seperti berkumpul tanpa tujuan yang jelas atau terlibat dalam hubungan yang tidak sehat, fokus dan motivasi belajar dapat menurun. Hal ini tidak hanya berimbas pada pencapaian akademik, tetapi juga berpotensi mempengaruhi masa depan mereka.
Lebih jauh lagi, pergaulan bebas dapat memicu berbagai perilaku negatif yang merugikan kesehatan fisik dan emosional peserta didik. Remaja yang tidak memiliki kontrol diri yang kuat lebih rentan terhadap penyalahgunaan narkotika, konsumsi alkohol, hingga hubungan seksual pranikah — semua ini merupakan bentuk perilaku yang kontradiktif dengan pembentukan karakter yang sehat.
Faktor yang mendorong banyaknya pergaulan bebas adalah pengaruh teman sebaya, tekanan sosial, dan kurangnya pengawasan dari orang tua atau lingkungan pendidikan. Ketika nilai-nilai moral tidak secara konsisten diajarkan dan diperkuat sejak dini, peserta didik cenderung mencari acceptability di luar lingkungan keluarga atau sekolah tanpa pertimbangan matang terhadap konsekuensinya.
Selain itu, media sosial dan akses informasi digital yang tanpa filter turut mempercepat penyebaran budaya bebas di kalangan remaja. Konten-konten yang memuat perilaku permisif sering kali dipandang sebagai sesuatu yang normal atau bahkan keren karena tampilannya yang menarik dan viral, padahal implikasi jangka panjangnya dapat merusak karakter.
Menghadapi masalah ini, peran pendidikan karakter menjadi sangat penting. Pendidikan karakter yang efektif tidak hanya menekankan pemahaman nilai-nilai moral dan etika, tetapi juga membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis dan kontrol diri agar dapat memilih perilaku yang benar di tengah berbagai godaan sosial.
Selain di sekolah, orang tua dan masyarakat juga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak. Lingkungan yang kondusif, komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, serta keterlibatan aktif dalam kegiatan positif dapat menjadi tameng terhadap pengaruh pergaulan bebas. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan etika.
Referensi :
Tren Penelitian Dampak Pergaulan Bebas pada Remaja – faktor penyebab dan dampak sosial pergaulan bebas. �
Jurnal ARIPI
Dampak Pergaulan Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja – pergaulan bebas dan pelanggaran norma sosial. �
Jurnal Sari Mutiara
Analisis Pengaruh Pergaulan Bebas terhadap Kepatuhan Norma Sosial dan Agama – hubungan pergaulan bebas dengan nilai moral. �
Jurnal Perma Pendis Sumut
Optimalisasi Pengembangan Karakter melalui Psikoedukasi Pergaulan Bebas pada Remaja – pentingnya pendidikan karakter. �
Riset Unisma
Penguatan Pendidikan Karakter melalui Edukasi Bahaya Pergaulan Bebas – upaya pencegahan melalui sekolah. �
Jurnal UMJ
Strategi Meningkatkan Karakter Positif Remaja – pendekatan pencegahan perilaku negatif.�
Jerkin
Pengaruh Faktor Sosial dan Lingkungan terhadap Perilaku Remaja – faktor pendorong pergaulan bebas. �
Jurnal Dharmawangsa
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































