Yogyakarta – Keberadaan Candi Prambanan selama ini lebih banyak dipahami sebagai simbol kejayaan arsitektur Hindu abad ke-9. Kemegahannya menjadikannya warisan dunia, sekaligus magnet pariwisata. Namun, di balik susunan batu andesit yang menjulang itu, tersimpan kemungkinan makna yang lebih dalam: Prambanan sebagai bagian dari garis imajiner kosmologis yang telah dirancang sejak masa Mataram Kuno.
Konsep garis imajiner dalam budaya Jawa bukan hal asing. Masyarakat Yogyakarta mengenal poros filosofis yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Pantai Parangtritis. Garis ini diyakini melambangkan keseimbangan antara dunia atas, dunia manusia, dan dunia bawah.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Slamet Muljana, dalam kajiannya tentang kerajaan Jawa Kuno, menekankan bahwa pusat kekuasaan Mataram tidak pernah berdiri tanpa pertimbangan simbolik. Ia menyebut bahwa pemilihan lokasi bangunan suci dan keraton berkaitan erat dengan upaya menempatkan kekuasaan raja dalam tatanan kosmis.
“Raja dalam tradisi Jawa Kuno tidak hanya penguasa politik, tetapi juga penjaga keseimbangan alam semesta,” tulis Slamet Muljana.
Dalam kerangka itu, Prambanan dapat dibaca bukan sekadar tempat ibadah, melainkan bagian dari lanskap sakral yang memperkuat legitimasi kekuasaan.
Pandangan serupa disampaikan arkeolog Indonesia, Mundardjito. Ia menegaskan bahwa pembangunan candi pada masa Jawa Kuno selalu mengikuti konsepsi kosmologi Hindu-Buddha.
Menurutnya, candi merupakan representasi Gunung Mahameru, gunung suci dalam kepercayaan Hindu, yang dianggap sebagai pusat alam semesta.
“Candi adalah replika kosmos. Penempatannya tidak pernah sembarangan, tetapi dipilih untuk menciptakan harmoni antara manusia, alam, dan dunia dewa,” jelasnya dalam berbagai publikasi arkeologi.
Letak Prambanan yang berada di dataran subur dengan orientasi ke arah Merapi memperkuat pandangan tersebut. Gunung Merapi sejak lama dipandang sebagai simbol kekuatan adikodrati.
Arkeolog Prancis yang lama meneliti Jawa, Jacques Dumarçay, juga melihat adanya keterkaitan antara lanskap alam dan pembangunan candi.
Dalam bukunya tentang arsitektur candi Jawa, ia menyebut bahwa hubungan visual antara candi dan gunung memiliki makna simbolik penting.
“Gunung memberikan konteks sakral. Candi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari lanskap spiritual,” tulis Dumarçay.
Artinya, kehadiran Prambanan di dataran Kewu bukan semata karena faktor geografis yang subur, tetapi juga karena makna simboliknya.
Sementara itu, arkeolog dan pakar epigrafi, Boechari, menekankan pentingnya memahami candi dalam konteks kekuasaan.
Menurutnya, pembangunan candi besar seperti Prambanan berkaitan erat dengan upaya raja menunjukkan otoritas dan kedekatannya dengan dunia ilahi.
“Candi adalah simbol kekuasaan sekaligus alat legitimasi,” ujarnya dalam berbagai kajian tentang prasasti Jawa Kuno.
Dalam perspektif ini, garis imajiner bukan sekadar garis geografis, tetapi garis makna.
Ia menghubungkan kekuasaan, spiritualitas, dan alam dalam satu kesatuan.

Namun, seiring waktu, cara pandang ini semakin terpinggirkan. Prambanan lebih sering dilihat sebagai objek wisata, bukan sebagai teks budaya yang menyimpan filosofi peradaban.
Modernisasi membawa perubahan besar dalam cara manusia memandang ruang. Alam dipahami secara rasional, terukur, dan fungsional. Dimensi simbolik perlahan memudar.
Padahal, seperti dikatakan budayawan dan pemikir Jawa, Niels Mulder, masyarakat Jawa tradisional memandang ruang sebagai bagian dari tatanan kosmis.
“Ruang bukan sekadar tempat, tetapi bagian dari struktur makna yang menghubungkan manusia dengan alam semesta,” tulisnya.
Dalam konteks ini, Prambanan menjadi pengingat bahwa leluhur Jawa membangun peradaban dengan kesadaran filosofis yang mendalam.
Mereka tidak sekadar membangun bangunan, tetapi membangun hubungan.
Hubungan antara manusia dan alam.
Hubungan antara kekuasaan dan spiritualitas.
Hubungan antara dunia nyata dan dunia simbolik.
Kini, tantangannya bukan hanya menjaga Prambanan sebagai warisan fisik, tetapi juga merawat makna yang dikandungnya.
Sebab, ketika candi hanya dipahami sebagai objek wisata, kita kehilangan kesempatan untuk memahami cara berpikir peradaban yang melahirkannya.
Prambanan bukan hanya tentang masa lalu.
Ia adalah cermin.
Cermin yang menunjukkan bahwa peradaban besar tidak lahir dari batu semata, tetapi dari gagasan besar tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di alam semesta.
Dan mungkin, memahami kembali garis imajiner itu adalah langkah awal untuk memahami kembali diri kita sendiri. (Yusuf)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































