Merantau: Dari Ujung Riau ke Kosan Sepi di Cibiru
30 Oktober 2021, pukul 22.47.
Lampu neon kuning di kosan Cibiru berkedip-kedip. Muhammad Iqbal Dinul Falah, 18 tahun, sedang belajar pidato bahasa Arab sendirian. Ponsel berdering panjang. Nama “Paman” muncul.
“Iqbal… ayahmu sudah nggak ada.”
Waktu berhenti.
Ia hanya ingat jeritan tanpa suara, ponsel terlepas dari genggaman, tubuh lunglai di lantai. Teman kos yang baru dikenal tiga hari mendobrak pintu, memeluknya erat. “Abang nangis di pelukan orang asing. Marah-marah sendiri. Ga karuan,” kenangnya hingga kini, suara masih serak.
Ayahnya wafat sendirian di rumah, masih di tempat tidur depan televisi yang menyala. Tak ada sakit, tak ada tanda. Hanya kepergian mendadak. Malam itu ia pesan tiket termurah, tes swab sendirian di klinik gelap, terbang subuh, transit Batam. Sampai rumah sudah terlambat 24 jam tinggal tenda putih bekas pemakaman dan umi yang memeluk kain kafan, mata bengkak.
Ia tak sempat mengucap salam terakhir. Hanya tenda. Dan keheningan.
Bang Dinul bisa kembali ke Bandung sebulan-dua bulan kemudian. Tapi ia memilih tinggal setahun penuh. “Umi kasihan. Belum move on. Abang nemenin.” Kuliah daring semester satu dijalani dari teras rumah di Riau, sambil bantu umi urus kebun kecil dan ajak adik belajar. Setiap malam ia baca Yasin di pusara ayah. Setiap subuh terbangun karena mimpi buruk: ayah memanggil namanya dari kejauhan.
Sebelum duka itu, ada satu gambar yang terus menyala: lomba pidato bahasa Arab tingkat nasional 2020 di Jawa Barat. Ia melihat mahasiswa berjaket merah bertuliskan “Korps Protokol Pramuka UIN Bandung” sibuk memfasilitasi acara. “Bagus banget,” gumamnya. Saat itu ia berjanji dalam hati: “Suatu hari abang harus pakai jaket itu.” Jaket merah itu jadi bara kecil yang tak pernah padam.
Kehilangan: Jeda Setahun yang Membentuk Jiwa Pemimpin
Akhir 2022, umi akhirnya berkata, “Pulanglah, Nak. Ayah pasti mau lihat kamu selesai.”
Bang Dinul naik pesawat lagi ke Bandung, kali ini dengan hati lebih teguh. Ia mendaftar KPP akhir 2022. Pendidikan Akpro dimulai 2023 — angkatan 13. “Abang seharusnya bisa angkatan 12, tapi karena nemenin umi, baru bisa 2023,” katanya tanpa penyesalan.
Akpro KPP UIN SGD terkenal keras: latihan fisik, mental ditempa, hukuman squat ratusan kali kalau salah gerak. Tapi ia jatuh cinta sejak hari pertama. “Semuanya progresif, detail, cocok sama abang.” Setiap latihan, ia bayangkan ayah berdiri di pinggir lapangan, mengangguk bangga. Ia lulus Kartika Wiyatama — lulusan terbaik. Air mata menetes saat terima penghargaan. “Ini buat ayah.”
2025, ia terpilih menjadi Komandan. Di bawah kepemimpinannya, KPP yang dulu “mencekam” berubah jadi keluarga besar. Progames kumpulkan 200 orang dari 11 korps se-Jawa Barat, study visit gratis ke kementerian Jakarta, Akpro angkatan XV & XVI jadi yang paling rapi dalam sejarah. Masa jabatannya selesai beberapa bulan lalu, tapi warisannya masih terasa kuat hingga kini.
Kak Aghnia Balqis, adik tingkat sekaligus panitia inti:
“Bang Dinul terstruktur, konseptor bagus banget. Paham output tiap kegiatan. Kalau marah, diam dulu, mikir, lalu kasih solusi. 75 % lebih rapi. Sisi humanisnya dapet banget.”
Memimpin: Dari Cibiru ke Koridor DPRD, dengan Luka yang Sudah Jadi Cahaya
Awalnya ia tak berniat magang di DPRD Jawa Barat. “Ribet, jauh dari Cibiru.” Tapi Pa Hafiz, Kasubag Protokol, terus menelepon: “Kami butuh MC laki-laki. Nama kamu selalu nomor satu dari rekomendasi alumni KPP.” Konsul ke Bang Aziz, langsung dimarahin: “Ambil kesempatan!”
Kini ia bolak-balik Cibiru–Gedung Sate: fasilitasi 129 anggota dewan, escort tamu VIP, MC paripurna. “Di sini abang belajar netralitas di tengah debat panas. Protokol itu seni menghormati,” katanya. Magang berakhir Desember 2025, tapi sinyal kuat akan dipertahankan jadi pegawai tetap.
Pernah ia tak tidur dua malam berturut-turut. “Mending capek daripada ninggalin amanah.” Kalau malam terlalu berat, ia buka Instagram, scroll story lama — foto barisan KPP, senyum anggota, candid DPRD. “Ngeliat hasil yang sudah kita kerjakan itu obat stres terbaik.” Support system terbesarnya tetap anak-anak KPP. “Mereka yang bikin pusing, juga yang tenangkan.”
Belum punya peta pasti setelah wisuda. Tapi ia sudah membayangkan dua jalur yang sama-sama terbuka lebar: tetap berkarir di ranah pemerintahan/protokol negara, atau pulang ke Riau dan mencoba membangun usaha sendiri di bidang event & keprotokolan. “Mungkin usaha, mungkin tetap di sini, yang penting amanah apa pun dimaksimalkan. Gelas dikosongkan tiap hari,” katanya ringan.
Empat tahun lalu, Bang Dinul pulang terlambat untuk memeluk ayahnya perpisahan.
Hari ini, setiap ia berdiri di podium atau koridor DPRD, ia rasakan pelukan ayah dari langit.
Jaket merah masih ia simpan rapi di lemari. Bordir emas “KOMANDAN” sudah dilepas, tapi jejaknya tetap terasa di hati.
Muhammad Iqbal Dinul Falah.
Pulang telat untuk ayah. Tepat waktu untuk mimpi.
Dan perjalanan ini belum selesai.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































