Surabaya, 22 November 2025 — Di balik riuh bangku penonton yang penuh sesak, Tiara duduk dengan mata tak berkedip, menyaksikan setiap gerak di panggung Wayang Orang Duta Pancawati di Gedung Kesenian Cak Durasim. Malam itu, ia datang hanya sebagai penonton biasa. Namun, ia pulang dengan cerita yang tak kalah dramatis dari lakon yang dipentaskan.
Bagian paling membekas baginya adalah adegan klimaks, ketika Hanoman kembali bangkit setelah diserang oleh kubu Rahwana. Tiara menggambarkan momen itu sebagai “ledakan energi” dari seluruh elemen pertunjukan musik yang menggelegar, cahaya yang menyorot tepat pada wajah para tokoh, hingga ekspresi para penari yang seolah menarik penonton masuk ke dalam pertempuran itu.
“Rasanya seperti seluruh gedung menyatu dalam satu napas,” tuturnya. “Adegan itu jadi penutup yang luar biasa kuat.”
Namun lebih dari sekadar cerita epos, Tiara melihat pertunjukan ini sebagai jembatan penting antara tradisi dan generasi muda. Menurutnya, pementasan tersebut berhasil mengolah cerita klasik menjadi sajian yang lebih segar dan dekat dengan pemuda masa kini. Unsur-unsur koreografi kontemporer, musik yang dinamis, hingga visual panggung yang lebih modern memberi nuansa baru bagi wayang orang yang selama ini dianggap kuno.
“Banyak penonton muda yang benar-benar menikmati. Mereka terhibur, bahkan tampak terpukau,” katanya.
Meski demikian, pengalaman menonton malam itu bukan tanpa catatan. Tiara menilai tata penyajian pertunjukan sudah sangat baik mulai dari komposisi musik, rias, hingga penggarapan panggung yang rapi. Namun ia menyayangkan kurangnya kesiapan panitia dalam mengatur alur penonton, terutama karena acara ini dibuka gratis untuk umum.
“Pertunjukan sebesar ini harusnya bisa lebih dipersiapkan agar tidak terjadi kericuhan seperti kemarin,” ujarnya.
Bagi Tiara, Duta Pancawati bukan hanya sebuah tontonan. Ia adalah pengalaman budaya yang mengajak penonton merayakan kembali kekayaan cerita Nusantara, sekaligus menyadari betapa pentingnya seni pertunjukan tradisional di tengah arus modernitas. Malam itu, Cak Durasim tidak hanya menjadi gedung kesenian, ia berubah menjadi ruang di mana masa lalu dan masa kini berdialog dengan penuh semangat.
Dan dari bangku penonton, Tiara tahu satu hal, wayang orang masih punya tempat yang hangat di hati generasi muda.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































