[JAKARTA, 16/11/25] Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh terus menjadi sorotan publik. Di satu sisi, keberadaannya dianggap sebagai simbol kemajuan transportasi Indonesia. Di sisi lain, penggunaan dana negara (APBN) dan beban utang yang mengiringinya menimbulkan tanda tanya terkait transparansi dan efisiensi pengelolaan anggaran.
Bagi masyarakat pengguna, Whoosh memberikan pengalaman perjalanan yang dinilai jauh lebih cepat dan nyaman dibandingkan moda transportasi sebelumnya. Akhmad Raihan, warga Bekasi yang rutin bepergian ke Bandung, mengaku merasakan langsung manfaat kehadiran kereta cepat tersebut.
“Menurut saya Whoosh ini cukup membantu, terutama untuk yang sering bolak-balik Jakarta–Bandung. Waktunya jauh lebih cepat dan nyaman. Fasilitasnya juga bersih dan modern,” ujarnya saat ditemui usai turun di Stasiun Halim.
Namun, di tengah kenyamanan dan inovasi transportasi tersebut, publik tetap mempertanyakan aspek pendanaan. Keterlibatan APBN dalam pembiayaan proyek ini dinilai perlu dijelaskan secara transparan mengingat adanya tambahan biaya serta skema utang yang masih menjadi bahan perdebatan.

Raihan mengaku sudah mengetahui bahwa dana negara digunakan dalam pengembangan proyek Whoosh. Meski demikian, ia menilai penggunaan APBN bukan menjadi masalah selama pemerintah mampu menjamin manfaatnya dan menjaga keterbukaan informasi.
“Selama manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan pengelolaannya transparan, menurut saya tidak masalah. Tapi memang harus jelas pertanggungjawabannya, karena itu kan uang publik,” ungkapnya. Ia berharap pemerintah lebih terbuka dalam menyampaikan detail anggaran, termasuk beban utang yang ditanggung negara.
Meski isu pendanaan menjadi sorotan, sebagian pengguna tetap memberikan apresiasi terhadap layanan yang telah berjalan. Raihan menilai Whoosh mampu menghadirkan standar baru transportasi publik di Indonesia. Meski begitu, ia berharap pengembangan selanjutnya dilakukan dengan lebih efisien agar tidak menambah beban fiskal negara.
“Kesan saya baik, karena layanan dan kecepatannya sudah bagus. Ke depannya saya berharap tarifnya tetap terjangkau dan jaringannya bisa diperluas ke daerah lain. Yang penting, pengelolaannya harus lebih efisien supaya tidak terlalu membebani APBN,” katanya.
Seiring meningkatnya jumlah penumpang dan perluasan layanan yang direncanakan, tantangan pemerintah kini berada pada sejauh mana proyek ini mampu memberikan manfaat maksimal tanpa memperbesar risiko fiskal. Di tengah pujian atas modernitasnya, Whoosh tetap menyisakan pekerjaan rumah besar: memastikan bahwa simbol kemajuan ini tidak menjadi beban jangka panjang bagi anggaran negara.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































