Setiap tanggal 7 Desember, dunia penerbangan memperingati Hari Penerbangan Sipil Internasional untuk mengingat pentingnya penerbangan yang menghubungkan masyarakat dengan wilayah lain. Transportasi udara seperti pesawat terbang dan industri penerbangan memberikan peluang bagi banyak kalangan masyarakat untuk terhubung, terlebih lagi bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Hari Penerbangan Sipil Internasional ini ditetapkan pada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1996 untuk memperingati pendirian Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO). ICAO merupakan bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa menurut Konvensi Chicago pada tahun 1944 tentang Penerbangan Sipil Internasional. Oleh karena itu, menarik bagi kita untuk mengulik bagaimana Minangkabau ikut berperan dalam perkembangan penerbangan Indonesia melalui sejarah dan dukungan masyarakat di saat masa-masa penting bangsa.
Awal dari sejarah penerbangan di Sumatera Barat adalah Bandara Tabing di kota Padang. Bandara ini awalnya dibangun pada masa kolonial Belanda oleh KNILM (Royal Dutch Indies Airways) pada awal abad ke-20, lebih tepatnya pada tahun 1934. Bandara Tabing kemudian beroperasi di tengah-tengah gentingnya Perang Dunia II. Setelah kemerdekaan, KNILM diambil alih menjadi Garuda Indonesian Airways pada 1949 dan Bandara Tabing menjadi bagian dari kedaulatan Indonesia. Bandara tersebut kemudian berkembang dan membuka penerbangan luar daerah pada tahun 1960-an. Masyarakat Minangkabau mulai tersambung dengan kota-kota antar daerah Sumatra. Daerah darat cenderung merupakan perbukitan sehingga perjalanan darat kadang memakan waktu yang lama. Bandara Tabing akhirnya memberikan efisiensi transportasi di daerah pesisir barat Sumatera tersebut.
Tetapi, Bandara Tabing memiliki kendala besar untuk berkembang karena faktor geografis. Jalur pendaratan bandara tersebut terhalang oleh Gunung Pangilun. Kondisi alam tersebut tidak memungkinkan perluasan bandara dan daerah landasan pacu. Selain dari itu, Bandara Tabing saat itu sudah tidak mengikuti standar keselamatan penerbangan. Masa depan Tabing sebagai bandara mulai diperlihatkan dengan kenyataan pahit yang tidak dapat diubah. Akhirnya dilakukan pencarian wilayah untuk mencari lokasi pembangunan bandara pengganti Bandara Tabing. Hasilnya adalah wilayah Ketaping, Padang Pariaman sebagai wilayah dibangunnya bandara baru. Proyek ini melahirkan Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Setelah itu, peran Bandara Tabing berakhir dan kemudian sepenuhnya dialihkan menjadi Pangkalan Udara TNI AU Sutan Sjahrir.
Bandara Internasional Minangkabau dibangun dari tahun 2002 dan beroperasi secara penuh pada tahun 2005. BIM kemudian berkembang sebagai pusat kegiatan penerbangan sipil yang kemudian memunculnkan banyak rute baru dan pertumbuhan industri wisata. Pada tahun 2006 saja, Kementerian Agama secara resmi membuka BIM sebagai tempat keberangkaran haji bagi daerah Sumatera Barat, Bengkulu, dan sebagian Jambi. Selain dari rute menuju Arab Saudi, terdapat juga penerbangan dengan tujuan Malaysia dan Singapura. Secara arsitektur, BIM menampilkan atap bagonjong layaknya pada rumah gadang. Desain ini menjadi simbol bahwa teknologi modern tetap dan akan terus berjalan bersama identitas budaya lokal. Di mata para pendatang, BIM seakan-akan merupakan awal gerbang perkenalan gaya visual dan budaya Minangkabau secara langsung sejak langkah pertama yang mereka menginjakkan kaki di Sumatera Barat.
Sebagai pengganti Bandara Tabing, BIM menjadi pusat perjalanan udara yang benar-benar dipakai masyarakat Sumatera Barat sehari-hari. Arus penumpang semakin ramai, terutama dari para perantau Minang yang kembali ke ranah Nagari untuk urusan keluarga, pekerjaan, atau hanya sekadar liburan. Aktivitas ekonomi ikut bergerak karena akses ke luar daerah menjadi jauh lebih terhubung. Dari pelaku usaha kecil dan mikro seperti pedagang oleh-oleh sampai kepada sektor pariwisata, semua mendapatkan manfaat langsung dari bandara ini.
Namun, kontribusi Minangkabau bagi penerbangan Indonesia tidak berhenti pada pembangunan bandara. Pada masa awal kemerdekaan, masyarakat Minangkabau memberi dukungan nyata bagi negara. Bentuk dukungan tersebut terlihat dari pembelian pesawat Avro Anson RI-003 yang dibiayai dari sumbangan masyarakat, khususnya dari masyrakat ibu atau bundo kanduang dengan emas mereka. Alat transportasi udara dibutuhkan karena banyak wilayah belum sepenuhnya aman serta untuk urusan komunikasi maupun tugas pemerintahan. RI-003 kemudian dipakai dalam berbagai penerbangan penting yang membantu pemerintah menjangkau daerah yang jauh dan sulit ditembus lewat darat. Keberadaan pesawat ini menunjukkan betapa kuatnya keinginan masyarakat Minang untuk ikut membantu negara dengan cara yang mereka mampu.
Semangat yang muncul dari pengadaan RI-003 menggambarkan nilai yang sudah lama hidup di Minangkabau, seperti kerja bersama dan rasa tanggung jawab terhadap kepentingan umum. Banyak orang berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing, mulai dari sumbangan kecil sampai yang lebih besar. Mereka sadar bahwa negara saat itu sedang membutuhkan dukungan langsung dari rakyatnya tanpa rasa paksa. Kisah ini sering disebut dalam sejarah penerbangan Indonesia karena menunjukkan bahwa teknologi yang mahal sekalipun bisa hadir berkat kepedulian masyarakat.
Pada akhirnya, Hari Penerbangan Sipil Internasional ini menjadi momen untuk melihat kembali peran Minangkabau dalam perjalanan panjang penerbangan Indonesia. Dari Bandara Tabing, BIM, sampai RI-003, semuanya menunjukkan bahwa teknologi bisa tumbuh dengan baik ketika masyarakat memberi ruang dan dukungan. Jejak itu memperlihatkan bagaimana orang Minang sudah lama terbiasa berhadapan dengan perubahan dan memakai teknologi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejarah ini juga memberi pondasi bagi generasi berikutnya agar mereka bisa melihat bahwa Minangkabau tidak tertinggal dalam urusan penerbangan, dan justru punya peluang besar untuk ikut mendorong perkembangan dunia penerbangan pada masa yang akan datang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer







































































