Kelompok MKWK Perundungan 128 Universitas Sumatera Utara (USU) melaksanakan kegiatan sosialisasi bertajuk “Bangun Sekolah yang Peduli: Hentikan Tekanan, Bangun Empati dan Simpati, Perkuat Kesehatan Mental, serta Hentikan Perundungan” di SMK Telkom 01 Medan pada 14 Oktober 2025. Kegiatan ini melibatkan 21 mahasiswa dari berbagai fakultas, dengan pendampingan Prof. Dr. Rosdinar Sembiring, SH., M.Hum. selaku dosen fasilitator dan Romauli Manurung sebagai mentor.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa terhadap berbagai bentuk perundungan sekaligus memperkuat budaya empati dan kepedulian di lingkungan sekolah.
Sosialisasi dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, dan sesi permainan edukatif yang dirancang untuk memudahkan siswa memahami perundungan fisik maupun non-fisik. Kelompok 128 menegaskan bahwa perilaku seperti ejekan, pengucilan, penyebaran rumor, dan intimidasi digital bukanlah “candaan”, tetapi termasuk tindakan perundungan yang memiliki dampak serius terhadap kesehatan mental.
Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan, respons aktif selama diskusi, serta pengalaman pribadi yang mereka bagikan kepada pemateri. Pendekatan dialogis ini membantu siswa memahami dampak jangka panjang perundungan terhadap kondisi emosional dan relasi sosial di sekolah.
Berdasarkan evaluasi kegiatan, seluruh peserta menyatakan bahwa sosialisasi ini membuat mereka lebih paham mengenai isu perundungan dan langkah pencegahannya. Mayoritas siswa juga memberikan penilaian positif terhadap metode penyampaian yang dianggap menarik, jelas, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Seorang siswa menuliskan, “Sosialisasi ini membuat saya lebih sadar dan mengerti dampak perundungan.” Siswa lain menyampaikan, “Benar-benar membantu, saya jadi lebih paham apa saja bentuk perundungan.” Kutipan ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memberikan dampak nyata terhadap pola pikir dan kesadaran siswa.
Selain menekankan pentingnya mengenali berbagai jenis perundungan, Kelompok 128 juga menyampaikan peran penting bystander atau saksi. Mereka menjelaskan bahwa sikap diam dapat memperkuat posisi pelaku, sedangkan dukungan terhadap korban dan keberanian melapor merupakan langkah penting untuk menghentikan perundungan sejak dini.
Meskipun demikian, evaluasi juga mengungkapkan bahwa sebagian siswa masih ragu melapor karena takut dicap “pengadu” atau merasa tidak yakin identitas mereka akan dirahasiakan. Catatan ini menandakan perlunya sekolah memperkuat sistem pelaporan internal yang aman, tertutup, dan responsif.
Melalui kegiatan ini, Kelompok MKWK Perundungan 128 USU berharap siswa semakin peka dalam mengenali tindakan perundungan serta mampu membangun lingkungan sekolah yang inklusif, suportif, dan saling menghargai. Edukasi berkelanjutan dinilai penting agar perubahan perilaku siswa berkelanjutan dan menjadi bagian dari budaya positif sekolah.
Program ini juga menjadi bentuk kontribusi mahasiswa USU dalam mendukung upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan serta mempererat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menciptakan ruang belajar yang aman dan sehat bagi seluruh peserta didik.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































