Di zaman dulu, dentuman mesin cetak terdengar setiap pagi. Kini, yang terdengar hanya bunyi notifikasi yang tak henti-hentinya. Surat kabar di tanah air mengalami penurunan jumlah pembaca sekitar 10-15% setiap tahunnya (Catatan Biro Audit Pers, 2023), sementara itu lebih dari 87% warga kota mengonsumsi berita melalui telepon genggam (APJII, 2023). Peralihan ini bukan sekedar soal selera, melainkan perubahan pola pikir dari kebiasaan membaca secara mendalam yang beralih ke kebiasaan membaca sekilas.
“Kami seperti ditinggalkan pembaca setia,” ungkap Bambang Wisudo, Pemimpin Redaksi sebuah koran lokal di Jawa Tengah yang jumlah pembacanya menurun 60% dalam lima tahun. “Yang masih setia adalah pembaca berusia di atas 50 tahun. Anak muda sekarang bahkan tak tahu cara membalik halaman koran.
Situs-situs berita seperti Kompas.com, Detik.com, dan Kumparan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah jadi arus utama. Namun, yang benar-benar mengubah segalanya adalah keberadaan media sosial sebagai pintu masuk utama untuk mendapatkan kabar. Lembaga Reuters Institute 2023 menemukan kenyataan yang mencengangkan yaitu, 72% generasi Z Indonesia pertama kali mengetahui suatu peristiwa melalui TikTok atau Instagram, bukan dari situs berita resmi.
Saat ini, sistem komputerlah yang memilihkan berita untuk kita,” terang Dr. Maya Sari, ahli komunikasi digital dari Universitas Indonesia. Platform seperti TikTok menggunakan kecerdasan buatan untuk menebak minat pengguna, lalu menyajikan konten yang ‘dianggap’ sesuai. Proses ini menghilangkan campur tangan editor yang memiliki pertimbangan nilai penting suatu kabar.”
Generasi yang lahir di era digital tidak memiliki cukup kesabaran untuk menelaah artikel panjang. Rata-rata waktu membaca artikel berani di Indonesia hanya 2 menit 15 detik (Data SameWeb, 2023), jauh lebih singkat durasi dibandingkan menonton video pendek yang bisa mencapai 8-10 menit per tayangan.
Media pun menyesuaikan diri dengan siasat “mengikuti gaya TikTok” seperti:
Detik.com yang menghadirkan DetikShot (format video singkat berisi berita)
Kompas TV merancang Kompas 60 Detik (kabar penting dalam satu menit)
Tirto.id yang tetap mempertahankan tulisan mendalam, namun melengkapinya dengan informasi grafis dan ringkasan visual
Gejala Membayangkan Filter yang dipopulerkan Eli Pariser (2011) sungguh terjadi di Indonesia. Pengguna media sosial hanya menyuguhi informasi yang sejalan dengan kesukaan mereka sebelumnya, menciptakan khayalan bahwa semua orang sepakat yang berbahaya.
Pada Pemilu 2024, kami mengamati gejala-gejala yang menarik,” papar Ahmad Fauzi, pemerhati media dari Masyarakat Telematika Indonesia. Pemilih muda banyak yang hanya terpapar radiasi kandidat tertentu di lingkaran media sosial mereka. Mereka nyaris tidak pernah mendengar perspektif lain karena algoritma terus memperkuat apa yang sudah mereka sukai atau percayai,” lanjut Ahmad Fauzi.
Fenomena ini diperparah dengan maraknya berita bohong (hoax) dan konten provokatif yang lebih mudah viral karena dirancang untuk memancing emosi daripada menyampaikan fakta. “Di ruang digital, kebenaran sering kalah cepat dengan sensasi. Media konvensional yang masih menggelar proses verifikasi justru tertinggal dalam kecepatan perlombaan,” tambah Fauzi.
Di sisi lain, upaya adaptasi media cetak terasa di berbagai tempat. Beberapa koran besar seperti Kompas dan Kedaulatan Rakyat telah meluncurkan edisi digital berlangganan (paywall), namun hasilnya belum sepenuhnya menggantikan pendapatan dari iklan cetak yang terus menurun. “Kami terjepit. Biaya produksi kertas dan distribusi fisik semakin mahal, sementara pendapatan dari iklan online tidak sebanding. Platform digital seperti Google dan Meta menguasai sebagian besar kue iklan,” keluh Bambang Wisudo.
Tantangan lainnya adalah krisis kepercayaan. Media sosial dan platform pesan instan seperti WhatsApp sering menjadi sarang bagi misinformasi, yang pada gilirannya mengikis kepercayaan publik terhadap media berita secara keseluruhan. “Banyak orang mulai menganggap semua media sama—tidak netral dan punya kepentingan. Ini sangat berbahaya bagi demokrasi,” tegas Dr. Maya Sari.
Namun, di tengah tantangan besar, secercah harapan tetap ada. Beberapa media niche (ceruk) yang fokus pada isu-isu spesifik seperti lingkungan (Mongabay Indonesia), jurnalisme data (Narasi Data), atau investigasi mendalam (Tempat) justru menemukan audiens setia yang relatif kecil namun sangat loyal dan bersedia membayar untuk konten berkualitas. “Ini menunjukkan bahwa minat terhadap jurnalisme mendalam belum mati. Ia hanya mengubah bentuk dan tuntutan penyajian yang lebih kreatif,” ujar Maya.
Masa depan kabar di Indonesia, dengan demikian, adalah masa depan yang terfragmentasi. Di satu sisi, arus informasi utama akan terus didominasi oleh konten singkat, visual, dan personalisasi algoritma dari platform global. Di sisi lain, ada ruang bagi media yang mampu membangun otoritas, kepercayaan, dan kedalaman, meski mungkin hanya untuk segmen masyarakat tertentu. Peralihan ini bukan sekadar mengubah teknologi, melainkan ujian besar terhadap cara suatu bangsa berpikir, berdebat, dan memahami dunianya sendiri. Dentuman mesin cetak mungkin akan semakin lancar, namun pertarungan untuk perhatian dan kebenaran justru semakin keras.
Penulis merupakan mahasiswa pendidikan nonformal universitas sultan Ageng tirtayasa
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer



































































