Supervisi guru merupakan salah satu elemen penting dalam peningkatan mutu pendidikan. Melalui supervisi, guru memperoleh pembinaan, bimbingan, dan umpan balik untuk mengembangkan profesionalismenya. Namun, implementasi supervisi di setiap konteks budaya memiliki dinamika yang berbeda. Di wilayah Thailand Selatan seperti Pattani, Yala, dan Narathiwat budaya supervisi guru mencerminkan perpaduan antara nilai-nilai Islam, tradisi Melayu, dan sistem pendidikan nasional Thailand. Kondisi ini membentuk corak supervisi yang unik: bernuansa spiritual, penuh hormat, dan berorientasi pada hubungan kemanusiaan.
Hakikat dan Tujuan Supervisi Guru
Secara teoretis, supervisi pendidikan diartikan sebagai proses pembinaan yang sistematis dan berkelanjutan untuk membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran (Glickman, Gordon, & Ross-Gordon, 2018). Tujuan utamanya bukan untuk mengontrol, tetapi untuk memfasilitasi pertumbuhan profesional guru melalui dialog reflektif. Sergiovanni dan Starratt (2007) menegaskan bahwa supervisi yang efektif harus bersifat demokratis dan menumbuhkan rasa tanggung jawab profesional.
Dalam konteks Thailand Selatan, prinsip-prinsip ini diadaptasi ke dalam budaya lokal. Guru tidak sekadar dilihat sebagai pegawai sekolah, melainkan sebagai tokoh masyarakat yang memiliki kedudukan sosial dan spiritual. Oleh karena itu, pendekatan supervisi di wilayah ini lebih menekankan pada pembinaan moral dan pendekatan kekeluargaan daripada sekadar pemantauan administratif.
Konteks Sosial Budaya Sekolah Thailand Selatan
Sekolah-sekolah di Thailand Selatan memiliki karakter sosial yang khas. Sebagian besar penduduknya beragama Islam dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat Melayu. Struktur sosial yang hierarkis dan budaya ta’dzim (hormat kepada pemimpin) turut memengaruhi hubungan antara kepala sekolah dan guru. Dalam budaya ini, komunikasi yang terlalu langsung atau kritik terbuka sering dihindari karena dapat dianggap tidak sopan.
Menurut hasil penelitian Surin dan Mahmud (2020), hubungan antara kepala sekolah dan guru di sekolah-sekolah Islam di Thailand Selatan cenderung berorientasi pada paternal leadership, yakni kepemimpinan yang memadukan kewibawaan dengan kepedulian. Dalam praktiknya, kepala sekolah berperan sebagai murabbi (pembimbing spiritual) yang memberikan teladan dan nasihat, bukan sekadar pengawas tugas. Nilai-nilai seperti ukhuwah (persaudaraan), musyawarah, dan ikhlas menjadi dasar hubungan dalam proses supervisi.
Pendekatan seperti ini sebenarnya sejalan dengan teori supervisi humanistik yang dikemukakan oleh Carl Rogers (1961), yang menekankan empati, penerimaan tanpa syarat, dan komunikasi terbuka. Supervisor bertugas menciptakan suasana yang aman secara emosional agar guru mau merefleksikan praktiknya tanpa rasa takut. Dengan demikian, budaya supervisi di Thailand Selatan dapat dipandang sebagai penerapan nilai-nilai humanistik dalam bingkai religius dan lokal.
Pergeseran Paradigma Supervisi di Sekolah Islam
Selama beberapa dekade terakhir, sistem pendidikan Thailand mengalami reformasi besar yang mendorong profesionalisasi guru. Perubahan ini turut memengaruhi praktik supervisi di wilayah selatan. Banyak sekolah Islam kini berusaha mengadopsi model supervisi klinis dan kolaboratif, sebagaimana dianjurkan oleh Glickman et al. (2018). Dalam model ini, guru dilibatkan secara aktif dalam setiap tahap supervisi mulai dari perencanaan, observasi, hingga refleksi pasca-pembelajaran.
Namun, proses adaptasi ini tidak mudah. Faktor bahasa, tradisi, dan perbedaan pandangan antara supervisor dari latar budaya Thai dan guru Melayu-Muslim sering kali menimbulkan kesenjangan persepsi. Beberapa penelitian (Ahmad, 2019) menemukan bahwa guru di sekolah Islam di Thailand Selatan lebih nyaman dengan supervisi yang berbentuk diskusi informal atau bimbingan spiritual dibandingkan evaluasi formal. Ini menunjukkan bahwa efektivitas supervisi tidak hanya ditentukan oleh metode, tetapi juga oleh kesesuaian budaya dan nilai-nilai lokal.
Tantangan Budaya Supervisi
Terdapat sejumlah tantangan yang masih dihadapi dalam mengembangkan budaya supervisi di Thailand Selatan. Pertama, masih kuatnya persepsi bahwa supervisi adalah “penilaian” yang menakutkan. Akibatnya, guru sering bersikap pasif atau defensif saat disupervisi. Kedua, sebagian kepala sekolah belum memiliki keterampilan supervisi modern seperti memberikan umpan balik reflektif, melakukan observasi berbasis data, atau memfasilitasi peer coaching. Ketiga, terbatasnya pelatihan dan sumber daya, terutama di sekolah-sekolah pedesaan, membuat kegiatan supervisi cenderung administratif dan formalitas semata.
Selain itu, dualisme sistem pendidikan (nasional dan Islam) juga menimbulkan ambiguitas dalam pelaksanaan supervisi. Guru harus menyesuaikan diri dengan standar kurikulum pemerintah yang sekuler sekaligus memenuhi ekspektasi masyarakat Muslim terhadap pendidikan berbasis agama. Ketegangan ini sering menempatkan kepala sekolah dalam posisi sulit, antara menjaga kepatuhan administratif dan mempertahankan nilai-nilai keislaman sekolah.
Arah Penguatan Budaya Supervisi
Untuk memperkuat budaya supervisi guru di Thailand Selatan, dibutuhkan pendekatan yang sinergis antara nilai profesional dan nilai kultural. Pertama, pelatihan bagi kepala sekolah dan pengawas harus mengintegrasikan kompetensi pedagogik dengan sensitivitas budaya dan spiritualitas Islam. Pendekatan supervisi yang rahmatan lil ‘alamin berlandaskan kasih sayang dan kebijaksanaan akan lebih diterima dan efektif.
Kedua, sekolah perlu membangun komunitas belajar profesional (Professional Learning Community) antar guru. Menurut DuFour dan Eaker (1998), komunitas belajar memungkinkan guru saling belajar, berbagi praktik baik, dan memperkuat refleksi kolektif. Pola seperti ini selaras dengan semangat ta’awun (kerjasama) dalam Islam.
Ketiga, perlu dikembangkan model supervisi kontekstual yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan teori supervisi modern. Misalnya, penerapan supervisi reflektif Islami yang menekankan introspeksi spiritual dan akhlak profesional guru.
Dengan demikian, budaya supervisi di sekolah Thailand Selatan dapat berkembang sebagai sistem pembinaan yang tidak hanya meningkatkan mutu pengajaran, tetapi juga memperkokoh karakter religius dan sosial masyarakat.
Murnee Masae, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































